Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR Pencemaran dan Ekotoksikologi IPB University, Prof Etty Riani, menyatakan mikroplastik berpotensi mengurangi efektivitas laut dalam menyerap dan menyimpan karbon, meski bukan menjadi penyebab tunggal menurunnya fungsi tersebut.
Ia menegaskan hingga kini belum ada penelitian ilmiah yang secara langsung menyimpulkan mikroplastik sebagai faktor utama penurunan kemampuan laut menyerap karbon. Namun, berbagai riset menunjukkan mikroplastik berkontribusi melalui gangguan terhadap organisme laut dan proses biogeokimia.
Menurut Prof Etty, mikroplastik dapat mengganggu fitoplankton yang berperan penting menyerap karbon melalui fotosintesis. Partikel mikro dan nanoplastik yang menempel pada permukaan fitoplankton berpotensi menghalangi cahaya matahari sehingga menghambat fotosintesis dan menurunkan penyerapan karbon.
Selain itu, mikroplastik juga berdampak pada rantai makanan laut. Zooplankton kerap mengonsumsi mikroplastik karena bentuknya menyerupai makanan alami. Kondisi ini menyebabkan zooplankton kekurangan nutrisi dan energi sehingga berisiko menurunkan populasinya.
Padahal, zooplankton memiliki peran penting dalam membawa karbon ke dasar laut melalui kotoran dan bangkai yang dikenal sebagai marine snow.
“Keberadaan mikroplastik membuat agregat karbon menjadi lebih ringan sehingga proses tenggelam ke dasar laut berlangsung lebih lambat. Akibatnya, karbon lebih lama berada di kolom air dan berpeluang kembali terlepas ke atmosfer,” ujar Etty dikutip dari laman resmi IPB Unversity, Selasa (20/1).
Ia juga menyebut mikroplastik dapat menjadi perantara bahan berbahaya dan beracun, seperti logam berat, yang mengganggu fisiologi organisme laut. Dampak tersebut dapat merusak organ, mengganggu reproduksi, dan menurunkan populasi biota laut, sehingga melemahkan kemampuan ekosistem laut menyimpan karbon dalam jangka panjang.
Untuk menekan pencemaran mikroplastik, Etty mendorong pengurangan penggunaan plastik, terutama plastik sekali pakai dan mikroplastik primer seperti microbeads pada produk kosmetik dan perawatan tubuh. Ia juga menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada masyarakat sejak usia dini hingga perguruan tinggi.
Selain itu, perubahan paradigma pengelolaan limbah dinilai penting, dari sekadar sampah menjadi sumber bernilai ekonomi melalui penerapan ekonomi sirkular. Penguatan sistem 3R (reduce, reuse, recycle), pemanfaatan teknologi, serta pengembangan material ramah lingkungan seperti bioplastik berbasis bahan alam juga perlu terus dilakukan.
Etty menegaskan, upaya pengurangan mikroplastik harus dilakukan secara holistik dan terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk melalui kerja sama lintas instansi seperti dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
“Pengurangan mikroplastik memerlukan kombinasi kebijakan yang efektif, teknologi inovatif, perubahan perilaku masyarakat, serta kolaborasi global. Yang terpenting adalah implementasi kebijakan yang sudah ada secara terkoordinasi dan konsisten,” tuturnya.(M-2)
Studi yang dipimpin oleh tim ilmuwan dari University of Southampton menemukan bahwa lava bawah laut ternyata berperan sebagai penyerap karbon dioksida (CO2) alami yang sangat kuat.
Inisiatif ini merupakan langkah konkret menuju pengurangan signifikan jejak karbon yang dapat diadopsi oleh Bandara Soekarno-Hatta maupun bandara lainnya di seluruh Indonesia
Menurut para peneliti, meskipun ada kemajuan yang menggembirakan di Amazon, kondisi di tempat lain kurang menggembirakan.
Indonesia memiliki potensi yang luar biasa dalam hal penangkapan dan penyimpanan karbon (Carbon Capture Storage/CCS).
Program Pranaraksa menanam 300 bibit yang diestimasi dapat menyerap sebanyak 18 tCO2/tahun.
Penelitian terbaru mengungkap gelombang panas laut menghambat sirkulasi karbon alami, mengurangi kemampuan laut menyimpan emisi CO2.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved