Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, polusi plastik di perairan sering kali diidentikkan dengan botol yang mengapung atau serpihan kecil yang kasat mata. Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkap masalah yang jauh lebih besar dan tersembunyi, mikroplastik melepaskan campuran kimia beracun yang larut ke sungai, danau, dan lautan.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal New Contaminants menjelaskan bagaimana materi organik terlarut hasil turunan mikroplastik (MPs DOM) terbentuk. Temuan ini menyoroti peran krusial sinar matahari dalam mempercepat pelepasan polutan kimia yang menyebar jauh melampaui partikel plastik itu sendiri.
Ilmuwan mengamati empat jenis plastik yang umum ditemukan di alam, termasuk plastik berbasis minyak bumi seperti polyethylene (PE) dan plastik biodegradable seperti polylactic acid (PLA). Hasilnya, cahaya ultraviolet (UV) terbukti menjadi faktor terkuat dalam memutus ikatan kimia pada permukaan plastik.
Menariknya, plastik biodegradable justru melepaskan lebih banyak karbon terlarut karena struktur polimernya yang lebih mudah terurai. Kecepatan pelepasan kimia ini ditemukan konstan, yang berarti polusi terus mengalir ke air selama plastik tersebut terpapar sinar matahari, tidak peduli seberapa jenuh konsentrasi kimia di air sekitarnya.
Menggunakan peralatan kimia canggih, para peneliti menemukan ribuan molekul unik di dalam air yang terkontaminasi plastik. Zat-zat yang terlepas mencakup aditif produksi seperti phthalates, blok bangunan polimer, hingga fragmen baru hasil reaksi cahaya.
"Temuan kami menekankan pentingnya mempertimbangkan seluruh siklus hidup mikroplastik di air, termasuk bahan kimia terlarut yang tidak terlihat yang mereka lepaskan," ujar salah satu penulis studi, Shiting Liu dari Northeast Normal University.
Paparan sinar matahari mengubah komposisi kimia ini secara drastis, meningkatkan reaktivitas dan polaritas molekul. Akibatnya, materi ini menjadi lebih fleksibel secara kimiawi dan berubah jauh lebih cepat dibandingkan materi organik alami yang ditemukan di sungai.
Masuknya molekul terlarut ini ke dalam air membawa risiko serius bagi ekosistem. Bahan kimia tersebut dapat masuk ke dalam jaring makanan mikroba; beberapa merangsang pertumbuhan bakteri tertentu, sementara yang lain justru menekan aktivitas biologis.
Selain itu, materi kimia turunan plastik ini berinteraksi kuat dengan logam berat seperti tembaga, kadmium, dan timbal, yang dapat mengubah tingkat mobilitas dan toksisitas logam tersebut di lingkungan. Bagi sektor kesehatan publik, fenomena ini menimbulkan risiko baru pada proses pengolahan air minum karena potensi pembentukan produk sampingan yang tidak diinginkan.
Para peneliti menyarankan penggunaan teknologi machine learning untuk memprediksi perilaku kimia mikroplastik di masa depan. Pemahaman tentang polusi kimia yang tidak terlihat ini menjadi sangat mendesak seiring dengan terus meningkatnya produksi plastik global tanpa regulasi yang ketat. (Earth/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved