Sabtu 11 Juli 2020, 00:35 WIB

Menghitung Rupiah dari Kerusakan Terumbu Karang

MI | Humaniora
Menghitung Rupiah dari Kerusakan Terumbu Karang

Sumber: Departemen Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro/LIPI/Riset MI-NRC

 

ISU kerusakan ekosistem pesisir dan laut semakin marak belakangan ini. Salah satunya kerusakan ekosistem terumbu karang di wilayah perairan Karimunjawa akibat kapal tongkang batu bara yang parkir di sekitar pulau tersebut.

Kondisi ini kemudian menggugah Munasik, pakar ekologi terumbu karang Departemen Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Ia menghitung besaran kerugian akibat kerusakan ekosistem terumbu karang di perairan tersebut.

“Di Karimunjawa sudah ada beberapa kasus sejak 2017-2018. Kita kemudian melakukan observasi perhitungan. Tujuannya ialah untuk satu pen hitungan klaim ganti rugi atas kerusakan yang diakibatkan,” tutur Munasik dalam webinar Valuasi Ekosistem dan Pengelolaan Berkelanjutan Pesisir dan Laut, belum lama ini.

Penghitungan besaran kerugian akibat kerusakan lingkungan selama ini hanya menggunakan komponen kerugian dari referensi average global value of annual ecosystem services. Padahal, kondisi ekosistem di Indonesia sangat beragam sehingga dibutuhkan nilai/harga ekosistem yang riil di suatu wilayah sebelum timbul kerusakan.

Valuasi ekosistem terumbu karang yang dilakukan Munasik bersama sejumlah peneliti lainnya meliputi ecological and services value. Penghitungan dilakukan dengan menggunakan metode emergy analysis (EmA), metode yang secara kuantitatif mengekspresikan nilai semua produk berdasarkan energi yang setara dengan energi matahari dan digabungkan dengan metode konvensional.

Adapun komponen-komponen yang dihitung dalam variabel nilai ekologis, meliputi sinar matahari, CO2, bentos, ikan, masa air, dan zooxanthellae, sedangkan komponen yang dihitung dalam variabel nilai layanan antara lain, pariwisata, akuakultur, biaya perlindungan/ manajemen, ecosystem buffer, dan tutupan karang hidup.

Berdasarkan pemantauan di wilayah observasi, persentase tutupan karang hidup mencapai 42%, abiotik 30%, karang mati 26%, alga 1%, dan biota lainnya 1%. Dari penghitungan itu didapatkan bahwa nilai ekosistem terumbu karang di Taman Nasional Karimunjawa mencapai Rp3.174.013/m2/tahun. Tingkat kerusakannya sudah mencapai 26%. Itu artinya untuk memulihkan hingga 100% pada setiap meter persegi kerusakan dibutuhkan waktu sekitar 65 tahun.

“Berbasis nilai ekosistem terumbu karang tersebut, maka nilai kerugian ekosistem terumbu karang di TN Karimunjawa adalah Rp12.245.419 per meter persegi. Ini dasarnya ialah tingkat GDP nasional tahun 2012,” tuturnya.

Dia pun menyarankan, dari besarnya kerugian yang diakibatkan oleh kerusakan ekosistem karang, pemerintah agar menjadikan nilai/harga ekosistem nasional sebagai salah satu variabel penghitungan kerugian kerusakan lingkungan hidup. Diusulkan sistem valuasi ekosistem terumbu karang dengan menggunakan metode EmA agar diaplikasikan di lokasi lain sehingga diperoleh hasil value/nilai ekosistem terumbu karang untuk tingkat lokal dan nasional. (Aiw/H-1)

 

Baca Juga

Antara/Aprilio Akbar

Pembukaan Sekolah di Zona Kuning Diminta Penuh Kehati-hatiaa

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Jumat 07 Agustus 2020, 23:22 WIB
"Jangan sampai karena sekolah dibuka dan mayoritas siswa masuk sekolah, mereka yang memilih untuk tetap di rumah jadi...
Medcom.id

Sebaiknya Tunda Dulu Menyapih Anak Selama Pandemi, Ini Alasannya

👤Astri Novaria 🕔Jumat 07 Agustus 2020, 22:37 WIB
Sebab, kata Nia, hingga saat ini dari banyak penelitian tidak ada transmisi Covid-19 melalui...
Ilustrasi

Bepergian, Salah Satu Masalah saat Harus Menyusui

👤Retno Hemawati 🕔Jumat 07 Agustus 2020, 22:07 WIB
Kendala utama dalam melakukan kegiatan menyusui muncul ketika sedang...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya