Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
TEMUAN terbaru dari studi internasional menunjukkan pencairan es di Antartika Barat tidak hanya menaikkan permukaan laut, tapi juga melemahkan kemampuan Samudra Selatan menyerap karbon dioksida (CO2).
Peneliti di Nature Communications, menyebut Samudra Selatan sebagai salah satu penyerap karbon terbesar di Bumi. Laut ini selama puluhan ribu tahun berperan menahan laju pemanasan global dengan menyerap CO2 dari atmosfer.
Namun, studi berbasis analisis inti sedimen laut selama ratusan ribu tahun menunjukkan pola berbeda.
Saat lapisan es di Antartika Barat mencair, kemampuan laut untuk menyerap karbon justru menurun. Peneliti menyimpulkan, ketika es mencair lebih cepat, laut menyerap karbon lebih sedikit.
Peneliti menegaskan masalahnya bukan hanya volume air es yang bertambah, tapi kandungan di dalamnya. Lelehan es membawa partikel sedimen yang ternyata miskin zat besi.
Padahal, zat besi berfungsi sebagai nutrisi utama bagi fitoplankton, organisme mikro yang menyerap CO2 melalui fotosintesis. Tanpa cukup zat besi, pertumbuhan fitoplankton terhambat, dan penyerapan karbon ikut turun.
Artinya, asumsi lama bahwa pencairan es bisa meningkatkan penyerapan karbon lewat pemupukan alami tidak sepenuhnya benar.
Selain faktor biologis, pencairan es juga mengubah struktur fisik laut. Air tawar dari es membuat lapisan permukaan laut menjadi lebih stabil dan sulit bercampur dengan lapisan di bawahnya.
Peneliti menjelaskan, stratifikasi ini menghambat sirkulasi laut, sehingga pertukaran karbon antara laut dan atmosfer menjadi lebih lambat. Dampaknya, karbon lebih banyak tertahan di udara, bukan diserap laut.
Studi ini mengungkap adanya efek berantai yang mempercepat krisis iklim. Pemanasan global mempercepat pencairan es. Pencairan es melemahkan penyerapan karbon. Akibatnya, lebih banyak CO2 tertinggal di atmosfer dan mempercepat pemanasan.
Peneliti menyebut kondisi ini sebagai feedback loop yang berbahaya. Semakin cepat es mencair, semakin lemah kemampuan laut menahan karbon, dan pemanasan akan semakin sulit dikendalikan.
Temuan ini juga menantang banyak model iklim saat ini. Beberapa model masih mengasumsikan bahwa laut akan terus menyerap karbon dalam jumlah stabil.
Peneliti mengingatkan, jika kemampuan ini menurun, kenaikan CO2 di masa depan bisa lebih cepat dari perkiraan. Artinya, target pembatasan suhu global bisa semakin sulit dicapai.
Antartika bukan hanya korban perubahan iklim, tapi juga faktor yang bisa mempercepatnya. Ketika es mencair, dampaknya tidak berhenti di kutub, tapi menyebar ke seluruh sistem iklim global. (Nature Communications, Sustainability Directory/Z-1)
Studi terbaru di jurnal Nature Geoscience mengungkap bahwa pencairan es di Antartika Barat berpotensi melemahkan kemampuan Samudra Selatan dalam menyerap karbon dioksida
Telur purba ini memiliki panjang hampir 30 sentimeter, ukuran yang sangat besar untuk telur bercangkang lunak.
Penemuan batu granit merah muda di Antartika mengungkap massa raksasa tersembunyi di bawah es. Temuan ini memberi petunjuk penting tentang pergerakan gletser dan kenaikan permukaan laut.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Ilmuwan temukan deposit granit raksasa terkubur di bawah Gletser Pine Island, Antartika. Penemuan ini memecahkan misteri batuan purba sekaligus kunci prediksi kenaikan permukaan laut.
Sinyal radio tak biasa yang muncul dari bawah es Antartika tengah membingungkan para ilmuwan fisika partikel. Temuan ini berasal dari pengamatan Antarctic Impulsive Transient Antenna (ANITA)
Berdasarkan penelitian terbaru, Es Antartika mengalami penurunan yang sangat besar pada musim panas ini dan kemungkinan mencair hingga tingkat minimumnya
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved