Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 6 ton sampah dikumpulkan dalam aksi memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diselenggarakan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Ruteng, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (4/3).
Kegiatan yang berlangsung sepanjang jalan negara mulai dari Carep, Manggarai hingga Danau Rana Mese, Manggarai Timur itu melibatkan aktivis lingkungan dan ratusan pelajar MAN 2 Langke Rembong, Manggarai dan SMKN 1 Poco Ranaka, Manggarai Timur.
Mereka menyisir sampah mulai dari jarak 1 kilometer arah timur gerbang kota Ruteng. Di area tersebut ditemukan tumpukan sampah yang sudah membusuk.
Semakin ke timur, tumpukan sampah semakin banyak hingga di perbatasan kawasan hutan lindung. Di antara berbagai macam tumpukan sampah nonorganik ditemukan pampers bekas, plastik, pecahan kaca, potongan seng, hingga limbah besi.
Mirisnya, lokasi yang digunakan membuang sampah berada di spot yang biasa digunakan orang untuk beristirahat sambil menikmati indahnya pemandangan alam.
Baca juga: Usia Tua Atap Bangunan Sekolah di Tegal Ambruk
Di sekitar tumpukan sampah ditemukan aneka tumbuhan dan bunga hutan yang cantik dengan latar bentangan alam yang indah.
Beberapa petugas BKSDA mengaku kerap memergoki warga yang membuang sampah di pinggir jalan. Biasanya mereka mengangkut sampah menggunakan sepeda motor dan mobil. Ada sampah rumah tangga, ada pula sampah milik pengusaha dari pertokoan di Ruteng.
Para pembuang sampah sembarangan yang dipergoki petugas, dipaksa memungut kembali sampah-sampah itu agar dibuang di tempat yang telah disiapkan pemerintah.
Namun, upaya tersebut tidak kunjung memberikan efek jera. Tepi jalan arah timur kota Ruteng terus menjadi sasaran tumpukan sampah.
BKSDA wilayah II Ruteng pun sering melakukan aksi bersih lingkungan dengan melibatkan elemen lain seperti warga dan pelajar.
Kali ini, BKSDA Ruteng melibatkan orang-orang muda seperti pelajar untuk menanamkan kesadaran sejak dini agar peduli lingkungan dan mencintai kebersihan.
“Memerangi sampah ini perlu dimulai dengan membangun kesadaran. Pelibatan pelajar ini juga merupakan bagaian dari membangun kesadaran untuk hidup bersih dan mencintai lingkungan sekitar,” ujar Kepala Bidang KSDA Wilayah II Ruteng, Heri Suhery.
Lingkungan yang bersih dan sehat, kata Heri, turut memengaruhi kesejahteraan hidup masyarakat. Dalam lingkungan yang bersih, manusia akan hidup nyaman dan bisa beraktifitas dengan baik dan maksimal.
Ikhwan, Wakil Kepala Sekolah MAN 2 Langke Rembong, yang bergabung dengan siswanya dalam aksi tersebut mengaku sudah berkali-kali dilibatkan BKSDA dalam aksi serupa.
Ia mengapresiasi BKSDA dan lembaga atau organisasi lainnya yang sering memelopori aksi bersih lingkungan.
Ikhwan mengatakan, sekolahnya menjadikan kerja bakti bersih sampah ini sebagai kesempatan memberikan edukasi kepada siswa agar mencintai lingkungan dan menyadari bahaya sampah seperti gangguan kesehatan dan pencermaran lingkungan.
Ia berharap semakin banyak lembaga atau organisasi yang peduli terhadap kebersihan sehingga lingkungan menjadi lebih indah dan sehat. (OL-2)
HUJAN lebat disertai angin kencang yang melanda Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (24/1) dini hari nyaris merenggut nyawa seorang anak perempuan.
Tanah longsor terjadi pada Kamis (22/1) sore akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak pagi hari.
Sebuah pertikaian keluarga berujung pada tewasnya seorang pria berusia 55 tahun, berinisial MG di Rumah Adat Gendang Palit. Korban diduga menjadi korban penganiayaan oleh tiga keponakan.
Penundaan pelayaran ini sejalan dengan peringatan dini cuaca maritim yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang.
PULUHAN siswa Sekolah Dasar Inpres (SDI) di Pilau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus menempuh proses belajar di gedung yang rusak parah.
Dunia usaha di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan optimisme kuat memasuki awal 2026, seiring meningkatnya investasi dan membaiknya aktivitas ekonomi pada akhir 2025.
Pemkot Bandung merekrut sebanyak 1.596 petugas Gaslah yang akan ditempatkan dengan skema satu orang satu RW.
Sangat tidak adil jika warga kelas bawah yang paling terdampak buruknya layanan publik justru menjadi sasaran pendekatan represif.
Masalah terbesar Kota Bandung saat ini adalah sampah. Setiap hari ada sekitar 1.500 ton timbulan sampah baru. Ini tidak mungkin dibiarkan begitu saja.
Arsyid juga mengimbau pihak RW dan RT pro aktif turut atasi masalah sampah.
Menteri KLH/BPLH Hanif Faisol Nurofiq menginstruksikan penghentian segera operasional insinerator di Kota Bandung yang melampaui baku mutu emisi udara.
Penggunaan insinerator mini tidak dibenarkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved