Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Program Jaga Laut Jakarta: Solusi Keamanan Nelayan di Tengah Cuaca Ekstrem

Yurike Budiman
18/12/2025 15:48
Program Jaga Laut Jakarta: Solusi Keamanan Nelayan di Tengah Cuaca Ekstrem
Kasat Polairud Polres Kepulauan Seribu AK Muhammad Aldi .(Metrotvnews/Yurike Budiman)

KEAMANAN dan keselamatan nelayan di pesisir Jakarta serta Kepulauan Seribu kini semakin terjamin melalui sentuhan teknologi. Di tengah ancaman cuaca ekstrem yang diprediksi melanda hingga akhir Desember 2025, jajaran kepolisian meluncurkan inovasi layanan pelaporan berbasis kode batang (barcode) guna mempercepat respons darurat di perairan.

Usai memimpin apel bersama seribu nelayan di Pulau Pramuka, Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri secara simbolis menempelkan stiker barcode program Jaga Laut Jakarta pada kapal nelayan di Dermaga Plaza Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Kamis (18/12).

Kasat Polairud Polres Kepulauan Seribu AK Muhammad Aldi, menjelaskan bahwa program ini merupakan sistem pelaporan daring (online) yang dirancang untuk memangkas hambatan komunikasi antara masyarakat pesisir dan petugas.

"Jadi program inovasi yang kami usung itu merupakan layanan pelaporan yang sistemnya memang online. Sosialisasinya itu kita membagikan selebaran-selebaran, stiker, kemudian banner yang kami pasang di dermaga-dermaga. Kalau yang stiker-stiker itu kami pasangkan di kapal-kapal nelayan," ujar Aldi, Kamis (18/12).

Penggunaan stiker di badan kapal bertujuan agar nelayan dapat segera mengakses bantuan kepolisian saat menghadapi situasi darurat di tengah laut. Layanan ini mencakup pelaporan berbagai peristiwa mulai dari gangguan keamanan hingga kebutuhan evakuasi medis. "Melaporkan kejadian yang menonjol ataupun peristiwa yang ada di perairan," imbuh Aldi.

Respons Cepat 10 Menit 
Meski baru berjalan sekitar tiga minggu, efektivitas program Jaga Laut Jakarta sudah mulai dirasakan. Aldi mencatat telah ada tujuh laporan masuk yang langsung mendapatkan tindak lanjut cepat dari personel Polairud.

"Saat ini sudah ada tujuh laporan yang masuk ke kami, yang diantaranya itu tentang kasus penemuan mayat, itu ada dua perkara dilaporkan kepada kami, kemudian selang waktu 10 menit sudah langsung kita tindaklanjuti, langsung kita datang ke TKP-nya dan juga kita melaksanakan evakuasi di sana," ungkapnya.

Selain kasus penemuan jenazah, petugas juga merespons laporan kerusakan mesin kapal dengan mengerahkan teknisi kepolisian. Bahkan, baru-baru ini pihak kepolisian berhasil mengevakuasi anak buah kapal (ABK) yang jatuh sakit di tengah laut.

"Kejadian lain seperti ada trouble mesin pada kapal, kita datang dengan membawa teknisi kami. Kemudian yang paling terbaru kejadiannya kemarin itu ada ABK yang sakit, jadi kita langsung datang ke TKP itu kemudian membawa dari dokter Sidokkes Polres Pulau Seribu," jelas Aldi.

Kendati demikian, Aldi mengakui tantangan geografis masih menjadi kendala utama dalam operasional layanan ini, terutama terkait waktu tempuh menuju wilayah utara Kepulauan Seribu.

"Mungkin kendala itu terkadang terkait dengan jarak, jarak yang memang kita membutuhkan waktu. Kayak kita kan dari pos ini sampai ke paling ujungnya di daerah itu kan bisa sampai tiga jam. Nah, mungkin kendalanya kita itu lebih kepada masalah waktu perjalanan kalau misalnya memang terjadinya itu atau yang dilaporkan itu di daerah-daerah utara," pungkasnya. (MGN/P-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eksa
Berita Lainnya