Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
BERAS stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) milik pemerintah menghilang dari ritel pasar tradisional Kota Depok, Jawa Barat (Jabar).
Tak cuma beras SPHP, beras kualitas premium, beras kualitas sanca ikut juga hilang sejak hari pertama puasa.
Beras hilang ini terjadi di Pasar Tradisional Sukatani, Pasar Agung, Pasar Cisalak, Pasar Tugu Kota Depok. Kekosongan beras SPHP maupun beras kemasan sanca dan kemasan premium ini sangat memukul masyarakat ditengah mahalnya harga beras.
Baca juga : Beras Premium dan Sania Kosong di Ritel Pasar Tradisional Depok
Berdasarkan keterangan, menghilangnya beras SPHP di ritel pedagang diakibatkan kiriman dari Bulog tidak datang.
"Informasi yang kami dapat kekosongan beras SPHP diakibatkan Bulog kehabisan stok, " ujar Danu, pedagang beras Pasar Sukatani, Kamis (14/3).
Danu mengatakan kemasan beras SPHP sudah jelas peruntukannya, yakni untuk mengantisipasi kekosongan stok beras lokal di hari puasa dan hari lebaran.
Baca juga : Setelah Beras, Giliran Harga Minyak Goreng di Depok Naik. Warga: Bikin Pusing!
"Jadi tidak ada alasan stok menipis atau kosong. Karena pemilihan presiden dan wakil presiden telah usai, " katanya.
Ia juga menyesalkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Depok yang tidak kunjung menggelar operasi pasar ditengah kekacauan harga pangan dan kebutuhan pokok yang terus melonjak tinggi pada dewasa ini.
Ia mengatakan, TPID harusnya melakukan sidak. Sidak ini dilakukan untuk mengecek ketersediaan dan harga beras. Selain itu sidak ini juga dilakukan untuk memantau ketercukupan pangan di bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.
Baca juga : Emak-Emak di Depok Murka Gara-Gara Harga Beras Bikin Pusing
Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (KUPTD) Pasar Sukatani Tri Handoko sependapat dengan pedagang harusnya TPID melakukan operasi pasar dan atau menggelontorkan beras SPHP.
"Sampai hari ini kan belum ada dilakukan operasi pasar. Hingga detik ini juga belum ada pengecekan dilakukan bahwa stok beras SPHP, premium dan sanca tidak tersedia di ritel pasar, " katanya.
Terpisah, KUPTD Pasar Kemirimuka Budi Setyanto mencatat memang terjadi kenaikan harga beras yang signifikan.
Baca juga : 3 Pasar Tradisional di Depok Kehabisan Stok Beras
Beras SPHP saat ini telah mencapai Rp10.900 per kilogram, beras petruk Rp17 ribu per kilogram. " Ini perlu antisipasi terlebih saat ini bulan puasa dimana publik membutuhkan ketersediaan pangan dan kebutuhan pokok.
Budi menekankan pentingnya antisipasi terhadap inflasi harga selama bulan suci Ramadan.
"Kenaikan harga beras dan kebutuhan pokok sangat jorjoran. Hari ini saja harga paling menonjol harga cabai rawit hijau mengalami kenaikan Rp8 ribu dari semula Rp60 ribu menjadi Rp68 ribu per kilogram, bawang Bombay dari biasanya Rp30 ribu menjadi Rp36 ribu per kilogram, " katanya. (Z-10)
Pemprov DKI mengalokasikan Rp6,4 triliun untuk subsidi transportasi, air, dan pangan pada 2025 demi menjaga daya beli warga.
Langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyesuaikan postur anggaran Transfer ke Daerah (TKD) seringkali dicap sebagai keputusan pragmatis belaka.
Pemprov DKI hanya menyesuaikan penganggaran untuk pelaksanaan program selama 10 bulan pertama tahun anggaran.
Pemprov DKI perlu memperhatikan penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan bahasa asing di sekolah-sekolah negeri maupun swasta.
tarif Transjakarta sebenarnya mencapai sekitar Rp13 ribu per penumpang, namun masyarakat hanya membayar Rp3.500 berkat subsidi besar dari pemerintah daerah.
ASUMSI makro Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang optimistis berisiko kembali mengulang deviasi antara target dan realisasi alias meleset.
Melubernya sampah ke jalan tersebut terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Sebagian wilayah Condet, Jakarta sudah kebanjiran, Jumat (30/1).
Kondisi ini memaksa pengendara untuk ekstra waspada dan menurunkan kecepatan secara drastis guna menghindari kecelakaan.
Jarak struktur bangunan yang tidak terlalu menempel pada lereng menjadi faktor kunci minimnya dampak fatal.
Pemerintah Kota Depok turut mengeluarkan peringatan dini bagi warga, terutama bagi mereka yang bermukim di daerah dengan topografi perbukitan atau dekat aliran sungai.
Langkah ini diambil untuk menekan intensitas hujan di daratan dengan cara menebar garam di awan-awan hujan sebelum memasuki wilayah pemukiman padat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved