Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DINAS Kesehatan DKI Jakarta menilai belum ada kedaruratan dari segi jumlah penyakit yang diakibatkan polusi udara di Ibu Kota. Plt Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan, dinamika jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih wajar dan belum ada kenaikan yang signifikan.
Pada 2020 dan 2021 saat terjadi pandemi covid-19, angka kesakitan yang terkait dengan saluran pernapasan relatif turun. Namun, Ani menyampaikan pada 2023, tren angka kesakitannya masih relatif sama dibandingkan tahun 2018 dan 2019, sebelum pandemi. Dengan kata lain, angka kesakitan tidak mengalami perubahan signifikan, masih naik turun karena terpengaruh kondisi cuaca.
"Secara umum saya bisa sampaikan, untuk tahun 2023, tren kesakitannya tidak berbeda dengan jumlah kasus sebelum pandemi di 2018 dan 2019,” ujar Ani di Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Rabu (16/8).
Baca juga: Polusi Memburuk, Pidato Kenegaraan Jokowi Justru Minim Singgung Soal Lingkungan
Rata-rata jumlah kasus ISPA yang tercatat di DKI Jakarta selama 2023 adalah 146 ribu kasus. Kasus ISPA, sambungnya, justru naik tinggi di awal tahun atau saat musim hujan.
"Biasanya tinggi di awal tahun," tutur Ani.
Baca juga: DPRD Usul Bentuk Pansus Polusi Udara Jakarta
Sementara itu, ia menegaskan meskipun sudah terlihat ada penurunan kasus ISPA, namun penurunannya tidak signifikan.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada penyebab tunggal dalam suatu penyakit. Polusi udara tidak berdiri sendiri menjadi penyebab ISPA.
Untuk itu, ia mengimbau agar warga menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat di mana menghindari aktivitas di luar rumah, menggunakan masker saat tidak sehat, mencuci tangan, makan makanan sehat, diet seimbang, istirahat yang cukup, dan tidak merokok.
"Ini untuk menguatkan daya tahan tubuh. Sakit itu adalah kondisi ketika tubuh tidak dalam keadaan sehat lalu bertemu lingkungan yang tidak sehat. Tubuh yang tidak sehat pun kalau ketemu lingkungan yang biasa saja bisa tidak sehat. Karena jika daya tahan tubuh kuat tapi lingkungan tidak sehat pun tubuh akan cukup kuat," ujarnya.
Ia menambahkan, jika warga merasa ada keluhan gangguan saluran pernapasan seperti batuk dan pilek, segera datang ke fasilitas kesehatan seperti puskesmas. Puskesmas di DKI akan siap melayani warga 24 jam. (Put/Z-7)
Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Ali Lubis mengatakan, tingginya tingkat polusi udara di Jakarta membuat kesehatan masyarakat terganggu. Sekaligus menurunkan kualitas hidup warga.
Kemudian ada teknologi sensor supaya tahu kapan zona merah. Selain itu, ada truk embun sudah dilakukan di kota-kota Tiongkok.
Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya polusi udara merupakan langkah krusial dalam menekan dampak kesehatan yang ditimbulkan.
BMKG mengungkapkan, berdasarkan hasil pemantauan, dalam siklus harian, konsentrasi PM2,5 tertinggi di wilayah DKI Jakarta ialah selepas malam hari hingga menjelang pagi hari.
Kualitas udara di Jakarta, Senin (14/10) pagi masuk urutan ke delapan sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.
POLUSI di DKI Jakarta menimbulkan dampak kesehatan dan kerugian yang besar bagi masyarakat.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Studi itu menemukan hubungan antara paparan partikel super kecil polutan udara (PM2,5) dan nitrogen dioksida dengan peningkatan risiko tumor otak.
Polusi udara luar ruangan dapat meningkatkan risiko diabetes, bahkan pada tingkat polusi yang selama ini dianggap aman oleh EPA dan WHO.
Satelit Sentinel-4 milik ESA berhasil mengirimkan citra pertama yang memetakan polusi udara di Eropa dan Afrika Utara. Misi ini akan memantau kualitas udara setiap jam.
Penelitian terbaru menemukan awan di Samudra Atlantik dan Pasifik kini makin redup akibat udara yang lebih bersih.
Polusi udara dan asap rokok merupakan dua faktor lingkungan yang kerap diabaikan, padahal keduanya memiliki dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved