Kamis 23 September 2021, 10:55 WIB

Pelaku Begal Bintaro Di bawah Umur, Polisi Diingatkan Pidana Anak

Syarief Oebaidillah | Megapolitan
Pelaku Begal Bintaro Di bawah Umur, Polisi Diingatkan Pidana Anak

dok.mi
Ilustrasi

 

EMPAT terduga pelaku begal di Bintaro, Tangerang Selatan,  Banten,  masih berstatus anak-anak. Akademisi mengingatkan pihak kepolisian memperhatikan prinsip Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

Hal tersebut dikemukakan dosen Pidana Fakultas Hukum ,Universitas Pamulang (UNPAM) Halimah Humayrah Tuanaya, kepada Media Indonesia, Kamis (23/9).

Halimah menegaskan para  penyidik kepolisian mesti  memperhatikan prinsip Sistem Peradilan Pidana Anak dalam memproses empat terduga pelaku itu. "Polisi harus memperhatikan SPPA dalam  memproses terduga pelaku. Semangatnya adalah kepentingan terbaik bagi anak. Perampasan kemerdekaan merupakan upaya terakhir, setiap proses yang dijalankan bukan untuk tujuan pembalasan dan harus diberikan secara proporsional, "tandas Halimah.

Seperti diberitakan,kawanan begal yang beraksi di kawasan Bintaro, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangsel  Banten berhasil diringkus polisi Satuan Reskrim Polsek Pondok Aren. Mereka yang  ditangkap sebanyak empat orang masih usia remaja tanggung.

Para pelaku melakukan aksi Pencurian dengan Kekerasan serta pengeroyokan pada empat TKP terpisah. Pelaku ini teman bermain dan masih usia remaja tanggung, " kata Kapolres Tangsel, Ajun Komisaris Besar Iman Imanuddin,didampingi Kapolsek Pondok Aren Kompol Riza Sativa di Mapolres Tangsel,  Selasa (21/9).

Dari enam pelaku, empat tersangka berinisial RDS (17), AFA (14), FGA dan CFR, (17) telah ditangkap,semuanya masih berstatus pelajar. Dua tersangka lainnya kini masih buron.

Halimah berharap penyidik memenuhi hak-hak anak. "Penyidik mesti meminta orang tua dan penasehat hukum serta Pembimbing Kemasyarakatan untuk mendampingi saat melakukan pemeriksaan karena itu salah satu hak anak yang harus dipenuhi. Tanpa didampingi, maka pemeriksaan cacat hukum, " tukasnya.

Halimah menambahkan  terhadap anak-anak tidak boleh dilakukan penahanan karena ada orang tua yang menjadi penjamin. "Anak-anak tidak boleh ditahan sepanjang ada orang tua yang menjadi penjaminnya, biarkan mereka tetap bisa bersekolah," imbuhnya.

Hal itu dilakukan, atasnama kemanusiaan. "Jika ada anak-anak yang tidak ada penjamin, saya sebagai akademisi siap untuk menjadi penjamin," tegasnya.

Hemat dia,perlu pendekatan yang berbeda dalam menghadapi anak sebagai pelaku tindak pidana. Pelaku anak membutuhkan pembinaan dan pembimbingan yang tepat untuk memperbaiki masa depannya. Ikatan sosial yang merenggang, kurangnya kontrol orang tua, kebebasan akses informasi, dapat membuat anak dengan mudah mempelajari perilaku buruk dalam masyarakat. Untuk itu, diperlukan penanganan yang tidak hanya represif, tetapi juga preemptif dan preventif untuk menekan angka anak yang berkonfilk dengan hukum. (OL-13)

Baca Juga: Polri Gandeng Milenial Gelar Vaksinasi Santri, Pelajar dan Umum di Tangsel

Baca Juga

MI/BRIYANBODO HENDRO

Jakarta Akan Diguyur Hujan dengan Intensitas Sedang

👤Mediaindonesia 🕔Sabtu 22 Januari 2022, 06:28 WIB
Pada Sabtu pagi, Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan Jakarta Utara diperkirakan akan diguyur hujan ringan, sementara Jakarta Selatan, Jakarta...
Humas Kominfo Garut

KAI Layani 23 Juta Pelanggan Kereta Api Sesuai Protokol Kesehatan

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Jumat 21 Januari 2022, 18:10 WIB
Selama tahun 2021, PT Kereta Api Indonesia (Persero) melayani 23.022.715...
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Polisi Masih Lengkapi Berkas Kasus Narkoba Ardhito Pramono

👤Hilda Julaika 🕔Jumat 21 Januari 2022, 16:00 WIB
Adapun keputusan rehabilitasi ini berdasarkan asesmen dari Tim Asesmen Terpadu BNNP DKI...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya