Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta menilai puncak pandemi covid-19 di Ibu kota belum terjadi meski saat ini pertambahan kasus covid-19 cenderung menurun. Hal itu ditergaskan Wakil Gubernur DKi Jakarta berdasarkan penelitian para ahli.
"Ini dari kita belum capai titik klimaks. Menurut prediksi para ahli, Jakarta baru akan mencapai klimaks penularan covid-19 pada Mei atau awal Juni. Itupun dengan catatan kita disiplin, ini menurut ahli," ungkap Ariza di Jakarta, Jumat (8/5).
Untuk itu, meski grafis pertambahan kasus covid-19 cenderung menurun, Pemprov DKI tidak ada niat untuk melonggarkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Justru dengan pelonggaran, dikhawatirkan grafik puncak penularan covid-19 akan semakin lama dan semakin lama pula pandemi selesai.
"Kalau kita tidak disiplin kita tidak tahu kapan klimaksnya. Maka dari itu Pak Gubernur membuat pergub untuk mengatur dan memberikan sanksi supaya kita segera mencapai klimaks puncak pandemi covid dan segera turun," kata mantan anggota DPR RI itu.
Ia pun menjamin, usai melalui puncak pandemi covid-19 dan grafis pertambahan kasus covid-19 secara konsisten menurun, saat itulah DKI siap melonggarkan PSBB secara bertahap.
Baca juga : Jakarta Pertimbangkan Perpanjang PSBB ke Tahap III
"Kita ada strategi pemulihan ekonomi. Saat kita sudah mulai turun kita akan lakukan bertahap namun dengan tetap menjaga physical distancing. Ssecara bertahap dunia usaha akan bergerak setelah dipastikan virus korona ini berhasil diatasi," tuturnya.
Sementara itu hingga hari ini penambahan kasus positif covid-19 di Jakarta terus terjadi. Hari ini kasus covid-19 di Jakarta mencapai 4.901 kasus dengan 763 orang berhasil sembuh dan 431 orang meninggal dunia. Sebanyak 1.426 orang menjalankan isolasi mandiri dan 2.281 dirawat di RS.
Jumlah pertambahan pasien covid ini meningkat sebanyak 126 kasus dari jumlah kasus yang tercatat Kamis (7/5) sebanyak 4.775 kasus. (OL-7)
Memahami perbedaan mendasar antara Super Flu, Influenza, dan Covid-19 bukan hanya soal ketenangan pikiran, tetapi juga tentang ketepatan penanganan medis untuk mencegah komplikasi serius.
GURU Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Dominicus Husada, menilai penularan virus Nipah tidak sebesar kasus covid-19 yang menjadi pandemi.
Secara sederhana, zoonosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.
Ia menjelaskan, salah satu langkah pencegahan yang dilakukan adalah melakukan vaksinasi untuk kepada masyarakat.
Bencana banjir di Sumatra memicu kritik terhadap respons pemerintah. Sosok almarhum Achmad Yurianto kembali dikenang atas perannya sebagai juru bicara pemerintah saat pandemi Covid-19.
Termometer perlu disterilisasi untuk membunuh kuman dan bakteri jika digunakan pada banyak orang.
Presiden Joko Widodo mengaku bingung dengan banyaknya istilah dalam penangan covid-19, seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar hingga Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat.
Demi membantu UMKM untuk bangkit kembali, influencer Bernard Huang membuat gerakan yang diberi nama PSBB atau Peduli Sesama Bareng Bernard dii Kota Batam.
Kebijakan itu juga harus disertai penegakan hukum yang tidak tebang pilih, penindakan tegas kepada para penyebar hoaks, dan jaminan sosial bagi warga terdampak.
Dari jumlah tes tersebut, sebanyak 20.155 orang dites PCR hari ini untuk mendiagnosis kasus baru dengan hasil 6.934 positif dan 13.221 negatif.
Untuk menertibkan masyarakat, tidak cukup hanya dengan imbauan. Namun harus dibarengi juga dengan kebijakan yang tegas dalam membatasi kegiatan dan pergerakan masyarakat di lapangan.
Epidemiolog UI dr.Iwan Ariawan,MSPH, mengungkapkan, untuk menurunkan kasus Covid-19 di Indonesia, sebenarnya dibutuhkan PSBB seperti tahun 2020 lalu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved