Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
EPILEPSI merupakan salah satu gangguan neurologi yang dapat memengaruhi kualitas hidup anak-anak secara signifikan. Epilepsi pada anak bisa menyebabkan gejala berupa kejang yang membuat para orang tua merasa khawatir. Namun, orang tua perlu tetap tenang agar bisa menghadapinya dengan cara yang tepat.
Baca juga : Sistem Imunitas yang Baik Buat Otak Anak Berkembang Optimal
Dikutip dari laman resmi Siloam Hospitals, berikut penyebab, gejala, hingga pengobatan epilepsi pada anak.
1. Pengertian epilepsi
Epilepsi pada anak adalah suatu kondisi ketika sel-sel di otak anak menciptakan aktivitas listrik yang tidak teratur secara tiba-tiba. Hal ini mengakibatkan anak mengalami kejang. Epilepsi adalah serangan kejang paroksismal (tiba-tiba) berulang tanpa provokasi dengan interval lebih dari 24 jam tanpa penyebab yang jelas.
Baca juga : Kenalkan Edukasi Kelistrikan pada Anak sejak Dini
Berdasarkan tipe bangkitan kejang, epilepsi dapat dibagi menjadi beberapa jenis. Pertama, kejang umum, yaitu kejang tonik, klonik, tonik-klonlik, atonik, absans, mioklonik. Kedua, kejang fokal, yaitu fokal sederhana, fokal kompleks, kejang fokal menjadi umum. Ketiga, kejang yang belum dapat diklasifikasi.
2. Penyebab Epilepsi pada Anak
Epilepsi pada anak terjadi ketika aktivitas listrik di otak anak tidak terkontrol. Sebagai informasi, aktivitas listrik mengalir di antara sel-sel otak dan membantu sel-sel untuk berkomunikasi. Namun, terkadang, listrik di antara sel-sel dapat menjadi tidak teratur. Ketidakteraturan tersebut menyebabkan gejala kejang untuk sementara hingga otak kembali mampu mengirimkan pesan yang benar ke sel-sel lain di otaknya.
Baca juga : Ini Panduan Optimalisasi Perkembangan Otak Anak
Adapun beberapa kondisi yang diketahui dapat menyebabkan epilepsi pada anak adalah komplikasi akibat persalinan (cedera lahir), trauma kepala atau cedera otak, infeksi, seperti meningitis atau ensefalitis, kelainan genetik, memiliki riwayat orang tua atau keluarga dengan epilepsi, kelainan pada pembentukan struktur otak sebelum lahir, kelahiran prematur, dan kelainan metabolik bawaan.
Patut diketahui, terkadang penyebab epilepsi pada seorang anak tidak diketahui secara pasti dan kondisi ini terjadi secara sporadis atau acak. International League Against Epilepsy (ILAE) pada tahun 1989 membagi epilepsi menjadi 3 berdasarkan etiologi atau penyebabnya, yaitu Epilepsi atau sindrom epilepsi idiopatik, yaitu epilepsi tanpa adanya kelainan struktur otak dan tidak ditemukan defisit neurologi. Faktor genetik diduga berperan pada tipe ini dan biasanya khas mengenai usia tertentu.
Lalu, epilepsi atau sindrom epilepsi simptomatik, yaitu epilepsi yang disebabkan satu atau lebih kelainan anatomi dan ditemukan defisit neurologi. Kemudian, epilepsi atau sindrom epilepsi kriptogenik, yaitu epilepsi atau sindrom epilepsi yang diasumsikan simtomatik tetapi etiologi masih belum diketahui. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan (pemeriksaan pencitraan, genetik, metabolik), klasifikasi kriptogenik banyak yang dapat digolongkan sebagai epilepsi simtomatik.
Baca juga : Selalu Berulang, Ini Ciri Pembeda Kejang Epilepsi dengan Bukan Epilepsi
3. Gejala Epilepsi pada Anak
Gejala epilepsi pada anak biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit. Gejala ini bisa berupa kehilangan kesadaran atau pingsan, gerakan otot yang tidak terkendali, tidak bisa berbicara, serta detak jantung dan napas cepat. Kejang mungkin terlihat berbeda pada setiap anak dan tidak selalu melibatkan gerakan otot yang tidak terkendali. Namun, setiap orang biasanya memiliki gejala kejang yang sama setiap episodenya kembali.
Setelah kejang, anak biasanya merasa lelah atau bingung tentang apa yang baru saja terjadi. Mereka mungkin juga tidak memiliki ingatan tentang kejang yang terjadi sampai berhenti. Beberapa anak mungkin mengalami sakit kepala setelah kejang
Penanganan awal ketika terjadi epilepsi pada anak adalah
Setelah kejang berakhir, anak mungkin ketakutan dan bingung dengan kondisi yang dialami. Orang tua bisa mendampingi dan menenangkan si kecil hingga ia merasa lebih baik dan stabil. Terakhir, catat durasi dan tipe kejang yang dialami anak
Adapun, untuk pengobatan epilepsi pada anak bertujuan untuk mengontrol, menghentikan, atau mengurangi frekuensi kejang. Dalam hal ini, dokter biasanya memberikan obat anti kejang untuk mengobati gejala epilepsi dan frekuensi kejang, namun bukan mengatasi penyebab yang mendasarinya. Obat anti kejang dapat membantu mencegah ketidakteraturan aktivitas listrik di otak.
Pastikan si Kecil meminum obat secara teratur. Penghentian obat tiba-tiba akan mengakibatkan timbulnya kejang atau status epileptikus. Selain itu, penting untuk mengetahui dan mengenali pencetus kejang pada anak anda sehingga serangan kejang bisa dihindari. Pencetus yang sering dialami adalah lupa minum obat, kurang tidur, terlambat atau lupa makan, sakit atau demam, dan lain-lain. (M-4)
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Kelengkapan imunisasi sesuai usia merupakan benteng terkuat bagi anak.
Menjelang 12 hari memasuki Bulan Suci ramadan 1457 H, kondisi warga penyintas banjir besar di Aceh Tengah masih sangat memprihatinkan.
Kondisi lingkungan yang lembap dan air yang menggenang dapat menjadi media penghantar arus listrik dari instalasi yang tidak terlindungi.
Peristiwa tragis ini terjadi saat keduanya berada di dalam rumah ketika air sungai tiba-tiba meluap dan masuk ke pemukiman dengan cepat.
Dua dari tiga korban merupakan pasangan suami istri berinisial HW, 54, dan NJ, 49.
Selain keberadaan bengkel, ketersediaan infrastruktur pengisian daya menjadi krusial.
MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan masih terjadi pemadaman listrik bergilir di empat kabupaten di Provinsi Aceh pascabencana banjir bandang
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved