Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
FASE tantrum diyakini merupakan kondisi normal yang secara alami bakal memudar seiring pertumbuhan anak. Bentuk tantrum yang dikeluarkan anak pun beragam, seperti menjerit, menangis, memukul, menggigit hingga melempar.
Salah satu alasan anak mengalami tantrum yakni kesulitan mengekspresikan keinginannya. Hal tersebut lantas membuat anak merasa frustrasi, dan keluar dalam berbagai bentuk salah satunya amukan. Jika anak dapat berbicara banyak, ia cenderung tidak akan mengamuk. Biasanya juga, durasi tantrum berkurang saat anak memasuki usia 4 tahun.
Saat anak tantrum, beberapa orangtua bingung menghadapinya. Ada yang memilih untuk langsung menghentikan tantrum sang anak dengan meminta diam, memberikan gawai dan lainnya.
Baca juga : Durasi Bermain Gawai Bisa Picu Tantrum Anak
Dokter Spesialis Anak dr. Debby Andina L., Sp.A. dan dr. Hendra Wardhana, Sp.A membagikan beberapa kiat yang bisa dilakukan orangtua saat menghadapi anak yang tantrum dilansir dari Instagram @bicarasikecil;
Apabila anak terlihat rewel karena lapar atau lelah, solusinya lebih sederhana. Namun, apabila anak merasa frustasi karena tidak merasa dipahami atau iri terhadap saudaranya, tentu lebih kompleks, sehingga membutuhkan waktu, perhatian dan kasih sayang. Komunikasi dengan anak merupakan salah satu cara untuk meredakan tantrumnya.
Apabila kita marah dapat lebih mudah untuk mengutarakan apa isi hati kita, namun bagi si kecil mengutarakan perasaannya sangatlah kompleks sehingga salah satu caranya dengan tantrum.
Baca juga : Ini Metode RIDD untuk Redakan Tantrum Anak
Kita harus lebih paham dan menerima emosi si kecil. Berikan gestur seperti memeluk, memberi waktu, bersikap tenang akan sangat membantu si kecil dan orangtua dalam menjalani fase tantrum.
Kadang saat tantrum anak dapat melakukan hal agresif seperti mencubit, memukul, menendang, atau menggigit. Bukan berarti anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kasar. Dalam hal ini, orangtua dapat memberi pengertian dan ketegasan bahwa perilaku mereka tidak baik untuk dilakukan.
Memberi ruang, berkomunikasi, memberi pengertian terhadap perilaku si kecil sangat penting. Apabila tantrum si kecil sudah mereda, orangtua dapat memberi apresiasi serta menunjukan kasih sayang kepada anak.(M-3)
Edukasi seksual ini merupakan langkah preventif utama untuk mencegah penyimpangan seksual pada anak di masa depan.
Child grooming adalah proses manipulatif ketika pelaku, biasanya orang dewasa, membangun hubungan emosional dengan seorang anak.
Platform gim imersif global, Roblox, resmi mengumumkan kebijakan baru yang mewajibkan seluruh penggunanya melakukan verifikasi usia untuk mengakses fitur chat.
Memandikan anak yang terkena cacar air bertujuan agar kulit tetap bersih dan sehat. Langkah ini efektif untuk mencegah timbulnya biang keringat.
Susu sejatinya berfungsi sebagai bagian dari makanan lengkap atau sekadar makanan selingan, terutama saat sarapan.
Penerapan gizi seimbang memiliki dampak langsung pada kesehatan saluran cerna. Asupan yang tepat akan menjaga keseimbangan bakteri baik (mikrobiota) di dalam usus.
Penelitian University of Georgia ungkap pola asuh ayah dan ibu memengaruhi kecemasan sosial remaja.
Psikiater Samarinda ungkap pola asuh keras picu self-harm remaja. Validasi emosi sejak kecil penting cegah depresi, kecemasan, hingga perilaku menyakiti diri.
Benturan antara tradisi lama dan saran medis modern masih menjadi masalah besar dalam penerapan Makanan Pendamping ASI (MPASI) di Indonesia
UPAYA membangun pola asuh keluarga yang baik harus menjadi perhatian serius semua pihak untuk mewujudkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) berdaya saing di masa depan.
Kebiasaan makan bergizi seimbang beragam dan aman pada anak bukan semata tentang apa yang disajikan, namun juga penanaman nilai gizi secara konsisten dalam keluarga.
POLA asuh atau gaya parenting orangtua kerap dituduh menjadi penyebab seorang anak mengalami kondisi autisme. Khususnya di era kemajuan teknologi saat ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved