Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGURUS Besar Esports Indonesia (PB ESI) menyarankan orangtua untuk memeriksa rating dan berbagai fitur gim yang sedang dimainkan anak agar terhindar dari hal yang belum perlu diserap di usia mereka.
"Saya sarankan agar orangtua memeriksa rating gim dan fitur interaksinya seperti chat global, pembelian dalam, dan kekerasan seksual agar anak tidak terpapar hal yang belum mereka pahami," kata Wakil Ketua Bidang Kompetisi PB ESI, Glorya Famiela Ralahallo, dikutip Kamis (7/8)
Ella mengatakan orangtua perlu memahami bahwa gim dengan sistem kompetitif yang saat ini banyak digandrungi seperti Mobile Legends, Free Fire, PUBG, atau Valorant umumnya ditujukan untuk usia remaja hingga dewasa.
Pada usia anak-anak, sebaiknya gim yang diberikan bersifat edukatif yang ringan, seperti puzzle, gim bahasa, atau gim strategi dasar yang dapat melatih konsentrasi dan logika.
Sementara bagi usia yang lebih besar, gim yang bersifat mendorong kreativitas atau kerja sama tim sudah bisa diberikan seperti Minecraft atau Roblox namun tetap dengan pengawasan yang cukup.
Ella menekankan sangat penting untuk melakukan pemantauan ketika anak bermain gim. Orangtua juga diharapkan tidak langsung melarang hingga anti terhadap gim. Terlebih jika anak menunjukkan adanya minat atau bakat ke arah esports.
"Kami di PB ESI juga mendukung lahirnya talenta-talenta muda," kata dia.
Jika anak merujuk pada ranah esports, orangtua dianjurkan untuk memberikan batasan waktu harian bermain gim. Misalnya, durasi 1 hingga 2 jam bagi usia SD dan SMP.
"Orangtua juga bisa memberikan hari bebas bermain gim untuk menjaga keseimbangan dengan belajar," kata Wakil Manajer Esports Indonesia itu.
Caranya yakni dengan membuat kesepakatan bersama anak. Bisa dengan menyetujui waktu bermain gim adalah setelah menyelesaikan tugas sekolah atau bermain di luar jam sekolah dan akhir pekan. Pastikan juga ada waktu untuk aktivitas fisik dan interaksi sosial offline.
Ia menekankan peran dari orangtua dalam membuat kesepakatan bukan hanya untuk sekadar mengawasi, tetapi juga memahami dunia anak agar tercipta kepercayaan dan keseimbangan.
Di samping itu, orangtua juga bisa memantau komunitas dan tim tempat anak bermain, karena banyak interaksi online terjadi di luar jam main seperti lewat Discord atau grup chat. Langkah lain yang bisa dilakukan yakni mempelajari dunia anak-anak termasuk gim yang dimainkan.
Dalam memberikan dukungan, katanya, orangtua perlu mendorong anak untuk bermain secara kompetitif yang sehat, bukan sekadar untuk pelarian.
"Bila anak serius ingin jadi atlet esports, arahkan dengan pendekatan akademis dan profesional," ujar Ella.
Namun, jika anak menunjukkan adanya kecanduan bermain gim, Ella meminta agar anak segera dijauhkan dari gim.
Adapun beberapa ciri anak kecanduan bermain gim yakni seperti sulit berhenti, tantrum jika dilarang, penurunan prestasi akademik,
gangguan tidur, atau perubahan perilaku seperti menarik diri dari lingkungan sosial.
"Pada titik ini, penting untuk melakukan evaluasi bersama dan jika perlu, berkonsultasi dengan ahli seperti psikolog anak," pungkas Ella. (Ant/Z-1)
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Orangtua perlu membedakan penggunaan gawai untuk kebutuhan produktif dan hiburan.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved