Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
KANKER merupakan salah satu penyakit yang mematikan dan telah menjadi masalah kesehatan global yang serius. Selain faktor genetik, gaya hidup dan pola makan juga memiliki peran yang signifikan dalam risiko terkena kanker.
Beberapa makanan telah diketahui memiliki potensi untuk meningkatkan risiko terkena kanker dalam jangka panjang. Berikut ini adalah daftar 10 makanan yang wajib dihindari untuk mengurangi risiko tersebut:
Makanan Olahan Berlemak Tinggi: Makanan olahan yang tinggi lemak, seperti daging olahan (sosis, ham, bacon), nugget, dan makanan cepat saji, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, terutama kanker usus besar dan kanker lambung.
Baca juga : Kasus Kanker di Usia Muda Meningkat karena Gaya Hidup Kebaratan
Makanan Gorengan: Makanan yang digoreng dalam minyak yang dipanaskan berulang kali menghasilkan senyawa karsinogenik seperti acrylamide dan heterosiklik amina (HCA), yang dapat meningkatkan risiko terkena kanker.
Makanan dengan Kadar Gula Tinggi: Konsumsi makanan dengan kadar gula tinggi, seperti minuman bersoda, kue-kue manis, dan makanan ringan, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, termasuk kanker payudara, kanker prostat, dan kanker pankreas.
Daging Merah dan Daging Olahan: Daging merah, seperti daging sapi, babi, dan domba, serta daging olahan, seperti sosis dan ham, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus besar, kanker pankreas, dan kanker lambung.
Baca juga : 11 Gejala Umum Kanker yang Perlu Diwaspadai
Makanan yang Mengandung Nitrat dan Nitrit: Makanan yang mengandung bahan pengawet nitrat dan nitrit, seperti daging asap dan daging olahan, dapat menghasilkan senyawa nitrosamin yang berpotensi karsinogenik.
Makanan Panggang Berlebihan: Paparan makanan pada suhu tinggi saat dipanggang atau dipanggang dapat menyebabkan terbentuknya senyawa karsinogenik seperti polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH) dan HCA.
Makanan yang Digoreng dalam Minyak Trans: Minyak trans, yang sering digunakan dalam makanan olahan dan makanan cepat saji, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, terutama kanker payudara dan kanker usus besar.
Baca juga : 3 Langkah Mencegah Penyakit Kanker Prostat
Makanan Prosesed: Makanan yang mengandung bahan tambahan kimia dan pengawet, seperti makanan kaleng, makanan beku, dan makanan instan, dapat mengandung senyawa karsinogenik yang meningkatkan risiko kanker.
Makanan Berwarna Terang: Pewarna makanan yang sering digunakan dalam makanan dan minuman berwarna terang, seperti tartrazine dan sunset yellow, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, terutama kanker lambung dan kanker hati.
Makanan yang Mengandung Asap: Makanan yang diproses dengan menggunakan asap, seperti daging asap dan ikan asin, mengandung senyawa karsinogenik yang dapat meningkatkan risiko kanker, terutama kanker paru-paru dan kanker usus besar.
Baca juga : Cara Penggunaan Bawang Merah Beserta 9 Manfaatnya
Meskipun makanan-makanan tersebut memiliki potensi untuk meningkatkan risiko kanker dalam jangka panjang, penting untuk diingat bahwa faktor-faktor lain, seperti pola makan secara keseluruhan, gaya hidup, dan faktor genetik juga memainkan peran penting dalam risiko kanker seseorang. (Z-10)
Sumber:
Integrasi PET dan CT menghasilkan citra fusi komprehensif yang secara bersamaan mampu menampilkan fungsi sebagai hasil dari teknologi PET dan struktur sebagai hasil dari teknologi CT.
Beberapa tipe HPV berisiko tinggi dapat menyebabkan kanker serviks, kanker anus, kanker penis, serta kanker orofaring.
UBT menjadi pilihan utama dari berbagai pemeriksaan non-invasif untuk mendeteksi infeksi H. pylori dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi
Kenali Biograph Vision Quadra, teknologi PET/CT scan revolusioner untuk deteksi kanker akurat, radiasi rendah, dan proses cepat hanya 4 menit.
Gaya hidup berpengaruh terhadap risiko kanker payudara karena penyakit ini berkaitan erat dengan faktor hormonal.
Peneliti Universitas Jenewa mengungkap bagaimana tumor memprogram ulang neutrofil, sel pertahanan utama tubuh, menjadi pemicu pertumbuhan kanker melalui molekul CCL3.
Stroke yang dipicu oleh fibrilasi atrium cenderung lebih berat dibandingkan stroke pada umumnya.
Keempat penyakit tersebut adalah Avian Influenza (flu burung), Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus (MERS-CoV), Super Flu, dan infeksi virus Nipah.
Malaria masih menjadi masalah kesehatan global yang kompleks akibat imunitas parsial, pembawa asimtomatik, dan resistensi insektisida.
Berbeda dengan sekadar tren kesehatan umum, lifestyle medicine merupakan pendekatan medis formal yang menggunakan intervensi gaya hidup berbasis bukti.
Jika langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini, jumlah kasus kanker diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2050.
Penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan penyakit yang kerap muncul akibat meningkatnya populasi kuman di musim hujan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved