Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Rencana Kendali Bersama Selat Hormuz oleh Amerika Serikat dan Iran

Khoerun Nadif Rahmat
24/3/2026 14:24
Rencana Kendali Bersama Selat Hormuz oleh Amerika Serikat dan Iran
Selat Hormuz(AFP)

RENCANA pengendalian bersama Selat Hormuz oleh Amerika Serikat dan Iran menjadi dinamika baru yang berpotensi mengubah peta kekuatan di Timur Tengah, di tengah konflik yang belum sepenuhnya mereda.

Wacana pengelolaan bersama Selat Hormuz antara Amerika Serikat dan Iran membuka babak baru dalam hubungan kedua negara yang selama ini berada dalam ketegangan berkepanjangan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut jalur strategis tersebut akan dikendalikan bersama, seiring kemajuan negosiasi dengan Teheran. Pernyataan itu mengindikasikan adanya peluang kerja sama terbatas di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

"Itu akan dibuka segera. Akan dikendalikan bersama. Saya dan Ayatollah, siapa pun Ayatollah-nya, siapa pun Ayatollah berikutnya," ujar Trump sebagaimana dikutip dari CNN.

Rencana tersebut dinilai menjadi langkah tidak lazim mengingat hubungan Washington dan Teheran selama ini diwarnai sanksi ekonomi, tekanan militer, serta persaingan pengaruh di kawasan.

Selain itu, skema kendali bersama juga berpotensi memengaruhi keseimbangan geopolitik di Timur Tengah, terutama terhadap sekutu Amerika Serikat seperti Israel yang selama ini memandang Iran sebagai ancaman utama.

Trump menegaskan bahwa komunikasi dengan pihak Iran menunjukkan perkembangan positif dan melibatkan figur-figur yang dinilainya kredibel dalam struktur internal negara tersebut.

"Kami sedang berurusan dengan beberapa orang yang saya anggap sangat masuk akal, sangat solid. Orang-orang di dalam tahu siapa mereka, mereka sangat dihormati, dan mungkin salah satu dari mereka akan menjadi sosok yang tepat seperti yang kita cari," tuturnya.

Di sisi lain, Selat Hormuz memiliki posisi vital sebagai jalur utama distribusi energi global. Setiap perubahan mekanisme pengelolaan di kawasan ini berpotensi berdampak langsung pada stabilitas pasar minyak dunia.

Dengan latar konflik yang belum sepenuhnya berakhir, realisasi rencana tersebut masih akan sangat bergantung pada keberlanjutan negosiasi serta dinamika politik internal di masing-masing negara. (H-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya