Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Iran Bantah Klaim Trump Soal Negosiasi Penghentian Perang

Khoerun Nadif Rahmat
24/3/2026 10:59
Iran Bantah Klaim Trump Soal Negosiasi Penghentian Perang
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf membantah adanya pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS).(Media Sosial X)

PEMERINTAH Iran secara tegas membantah adanya pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS). Hal itu disampaikan hanya berselang beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengeklaim adanya "percakapan yang sangat baik dan produktif" untuk mengakhiri perang.

Dikutip dari Al Jazeera, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan melalui media sosial pada Senin (23/3) bahwa "tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS". Ia menuding klaim tersebut sebagai upaya manipulasi.

"Berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak, serta melarikan diri dari kubangan tempat AS dan Israel terjebak," tulis Ghalibaf.

Senada dengan Ghalibaf, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, juga menepis kabar adanya diskusi tersebut.

Namun, Baghaei mengonfirmasi telah menerima pesan dari beberapa negara sahabat mengenai permintaan AS untuk melakukan negosiasi guna mengakhiri perang.

Saling bantah ini terjadi saat perang AS-Israel melawan Iran memasuki minggu keempat. Militer Israel menyatakan telah meluncurkan gelombang serangan baru ke ibu kota Iran, Teheran, Senin (23/3) waktu setempat.

Di sisi lain, Iran terus menembakkan rudal dan pesawat tak berawak ke seluruh wilayah Timur Tengah serta menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur krusial bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan jalur ini telah memicu lonjakan harga energi global.

Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan "melenyapkan" pembangkit listrik Iran jika negara tersebut tidak membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

Namun, melalui unggahan di Truth Social, Trump menginstruksikan Departemen Pertahanan AS untuk menunda semua serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari.

Penundaan itu ia sebut bergantung pada "keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung".

Trump mengaku telah berbicara dengan "orang penting" di Iran pada Minggu, meski tidak merinci identitas sosok tersebut.

"Mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Kami juga ingin membuat kesepakatan. Kita lihat bagaimana hasilnya dalam lima hari ini. Jika berjalan baik, kita akan menyelesaikannya. Jika tidak, kami akan terus membom sepuas hati kami," ujar Trump.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan telah berbicara dengan Trump dan meyakini ada peluang untuk memanfaatkan situasi ini guna mencapai kesepakatan.

"Secara paralel, kami terus menyerang baik di Iran maupun Lebanon. Kami akan menjaga kepentingan vital kami dalam perjanjian apa pun," tegas Netanyahu.

Di tengah ketegangan itu, sejumlah aktor regional seperti Pakistan, Mesir, dan Turki dilaporkan terus berupaya mendorong deeskalasi. Pengamat menilai klaim Trump mengenai mediasi ini bisa jadi merupakan cara baginya untuk menarik diri dari ultimatum 48 jam yang sebelumnya ia keluarkan, guna menghindari eskalasi perang yang lebih luas. (Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya