Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Legislator Gerindra Peringatkan Dampak Eskalasi di Selat Hormuz terhadap Ekonomi Global

Rahmatul Fajri
19/3/2026 18:58
Legislator Gerindra Peringatkan Dampak Eskalasi di Selat Hormuz terhadap Ekonomi Global
Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti(Dok Gerindra)

ANGGOTA Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, memberikan peringatan keras terkait eskalasi konflik di Selat Hormuz yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Azis menilai selat tersebut bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan "arteri utama" ekonomi dunia yang jika tersumbat akan memicu guncangan inflasi global, termasuk di Indonesia.

Menurut Azis, letak geografis Selat Hormuz yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dunia menjadikannya titik paling rawan dalam geopolitik modern. Ia menyebut dunia saat ini sedang berada di ambang krisis energi jika konfrontasi militer tidak segera diredam.

"Jika Selat Hormuz tersumbat, bahkan hanya beberapa minggu, ekonomi global akan merasakan demamnya. Harga energi melonjak, inflasi menekan dapur rumah tangga, dan stabilitas politik di banyak negara bisa ikut terguncang," ujar Azis dalam keterangannya, Kamis (19/3/2026).

Azis membedah bahwa para pemimpin dunia saat ini sedang membaca peta konflik yang sama dengan kepentingan yang berbeda. Ia menyoroti posisi Washington di bawah Donald Trump yang berupaya menjaga arsitektur perdagangan dunia, sementara Beijing di bawah Xi Jinping sangat pragmatis dalam menjaga stabilitas energi demi keberlangsungan industri domestiknya.

"Bagi Tiongkok, sebagai importir minyak terbesar, stabilitas lebih penting daripada kemenangan siapa pun dalam konflik ini. Gangguan di Hormuz akan langsung memukul pabrik-pabrik di Shanghai dan Shenzhen," jelasnya.

Di sisi lain, Azis melihat Rusia pimpinan Vladimir Putin menggunakan krisis ini sebagai ruang manuver untuk mengalihkan fokus Amerika Serikat dari Eropa sekaligus mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga energi dunia.

Lebih lanjut, Azis menyoroti dilema yang dihadapi Riyadh dan Tehran. Arab Saudi menurutnya berada di posisi sulit antara rivalitas strategis dengan Iran dan risiko kehancuran stabilitas kawasan. Sementara Iran, di bawah Masoud Pezeshkian, diprediksi akan menggunakan strategi eskalasi asimetris melalui misil dan jaringan milisi untuk membuat perang menjadi sangat mahal bagi lawan.

"Sejarah menunjukkan bahwa Iran bukan Irak atau Afghanistan. Invasi darat ke negeri itu hampir pasti menjadi perang panjang yang sangat mahal," tambahnya.

Potensi Perluasan Konflik

Azis memprediksi masa depan krisis ini akan bergerak ke tiga arah utama: tidak adanya invasi darat besar-besaran karena kompleksitas wilayah Iran, meluasnya konflik ke Lebanon, Suriah, hingga Laut Merah, serta ancaman lonjakan harga energi yang memicu tekanan sosial domestik di berbagai negara.

"Sejarah selalu punya cara sederhana untuk mengingatkan manusia: siapa yang menguasai jalur energi, dialah yang memegang denyut dunia. Kita harus waspada terhadap perubahan politik domestik yang tidak terduga akibat krisis energi ini," pungkas Azis. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik