Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Harga Minyak Dunia Meroket akibat Serangan IRGC, Bagaimana Nasib BBM di Indonesia?

Putri Rosmalia Octaviyani
06/3/2026 19:32
Harga Minyak Dunia Meroket akibat Serangan IRGC, Bagaimana Nasib BBM di Indonesia?
Ilustrasi kapal tanker pembawa minyak.(Dok. Antara)

ESKALASI militer di Selat Hormuz setelah serangan rudal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap tanker Amerika Serikat terus menggoyang pasar energi global. Hingga Jumat, 6 Maret 2026, harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi, yang secara langsung memberikan tekanan berat pada ketahanan fiskal Indonesia.

Berdasarkan data pasar terbaru, minyak mentah jenis Brent diperdagangkan di kisaran US$84,22 per barel. Meski mengalami sedikit koreksi teknis dari posisi penutupan kemarin di US$85,41, angka ini masih jauh melampaui asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar US$70 per barel.

Mata Uang Rupiah Melemah, Beban Impor Naik

Kondisi ini diperparah dengan melemahnya nilai tukar Mata Uang Rupiah. Per pagi ini, Rupiah berada di level Rp16.925 per dolar AS, mendekati level psikologis Rp17.000. Pelemahan ini terjadi karena investor global cenderung beralih ke aset safe haven seperti Dolar AS di tengah ketidakpastian perang di Timur Tengah.

Indikator Ekonomi Utama (6 Maret 2026):

Komoditas/Mata Uang Nilai Terbaru Status
Minyak Brent US$84,22 / barel Tinggi (vs APBN US$70)
Mata Uang Rupiah Rp16.925 / USD Melemah
Emas Antam Rp3.024.000 / gram Turun Rp25.000

Keputusan Pemerintah: BBM Subsidi vs Non-Subsidi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar dalam waktu dekat.

“Untuk BBM subsidi, mau harga minyak dunia naik berapa pun, harganya tetap sama sampai ada kebijakan baru dari pemerintah. Kami terus menghitung selisihnya dengan hati-hati,” ujar Bahlil dalam keterangannya di Jakarta. Saat ini, stok BBM nasional diklaim aman untuk 20 hari ke depan, cukup untuk mengamankan kebutuhan hingga masa Lebaran 2026.

Namun, nasib berbeda dialami oleh pengguna BBM Non-Subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo. Harga jenis bahan bakar ini dipastikan akan tetap dinamis dan berpotensi mengalami kenaikan dalam waktu dekat mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia dan pelemahan Rupiah.

Dampak Jangka Panjang bagi Masyarakat

Meskipun harga BBM subsidi belum naik, para pengamat ekonomi memperingatkan adanya efek domino. Biaya logistik internasional yang membengkak akibat pengalihan rute kapal setelah adanya blokade Selat Hormuz ke Tanjung Harapan (Afrika) akan memicu kenaikan harga barang impor dan bahan baku industri di dalam negeri.

Pemerintah kini tengah menyiapkan skenario mitigasi jika konlik Timur Tengah, yakni perang AS-Israel vs Iran meluas lebih dari enam bulan, termasuk mencari sumber pasokan minyak alternatif dari Afrika, Brasil, dan Amerika Serikat untuk mengurangi ketergantungan pada jalur Selat Hormuz.

(H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya