Headline

Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.

Ekonom CoRE Imbau Masyarakat tak Panic Buying BBM di Tengah Ketegangan Perang AS-Israel Vs Iran

Naufal Zuhdi
06/3/2026 19:43
Ekonom CoRE Imbau Masyarakat tak Panic Buying BBM di Tengah Ketegangan Perang AS-Israel Vs Iran
Sejumlah kendaraan bermotor antre untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) di SPBU di Jakarta.(Dok. Antara)

DIREKTUR Eksekutif Center of Reform on Economics (CoRE) Mohammad Faisal mengimbau masyarakat tidak melakukan panic buying bahan bakar minyak (BBM) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global Perang AS-Israel Vs Iran yang berpotensi memengaruhi pasokan energi. Menurutnya, pemerintah perlu segera memperkuat langkah-langkah antisipatif agar pasokan energi nasional tetap terjaga dan kepercayaan publik tidak terganggu.

Faisal menilai langkah paling mendesak adalah memperkuat cadangan stok minyak nasional. Saat ini, cadangan BBM nasional dinilai masih relatif terbatas sehingga perlu segera ditingkatkan untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan global.

“Yang dilakukan pertama adalah stocking, benar-benar mengumpulkan cadangan minyak. Kalau sekarang cuma sekitar 21 hari, berarti harus segera ditambah stoknya dengan melakukan pembelian. Kalau tidak ada fasilitas penyimpanan, bisa juga menyewa tempat penyimpanan,” ujar Faisal saat dihubungi, Jumat (6/3).

Ia menekankan bahwa persoalan stok BBM sangat krusial karena dapat berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi maupun kondisi sosial masyarakat.

“Masalah BBM itu sangat krusial karena bisa rentan, baik terhadap politik maupun juga terhadap masyarakat secara umum. Karena itu penguatan cadangan energi menjadi langkah penting yang harus segera dilakukan,” katanya.

Selain memperkuat cadangan, Faisal juga mendorong pemerintah untuk memperluas sumber pasokan minyak dari negara yang relatif aman dan jauh dari kawasan konflik agar risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan.

“Pemerintah juga perlu mencari sumber-sumber negara asal minyak yang paling aman, tentu yang jauh dari area konflik,” ujarnya.

Di sisi lain, ia menilai percepatan transisi energi juga menjadi bagian penting dari strategi jangka menengah untuk mengurangi ketergantungan impor energi, khususnya impor solar. Upaya tersebut sejalan dengan rencana pengembangan biodiesel yang sebelumnya disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia.

“Transisi energi juga harus dipercepat, misalnya melalui pengembangan biodiesel untuk mengurangi impor kita, terutama impor solar,” kata Faisal.

Ia menambahkan pemerintah juga perlu melakukan komunikasi yang jelas kepada masyarakat mengenai langkah-langkah konkret yang telah diambil agar tidak memicu kepanikan.

“Sosialisasi kepada masyarakat itu penting, tetapi harus dibarengi dengan upaya konkret. Kalau hanya menjelaskan tanpa ada langkah nyata, itu tidak akan cukup untuk menenangkan masyarakat,” ujarnya. 

Senada, Peneliti CoRE, Yusuf Rendy Manilet menyampaikan bahwa pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengenai stok BBM nasional yang hanya berada pada kisaran 20–25 hari pada dasarnya merujuk pada kapasitas penyimpanan yang memang selama ini dimiliki Indonesia, bukan indikasi bahwa pasokan akan segera habis. 

“Namun karena informasi teknis tersebut disampaikan tanpa konteks yang memadai, sebagian masyarakat menafsirkannya sebagai tanda akan terjadinya kelangkaan, sehingga muncul kepanikan dan mendorong perilaku pembelian berlebih,” terang dia.

Situasi ini, sambung Yusuf, menunjukkan adanya kesenjangan antara cara pemerintah menyampaikan informasi dan cara masyarakat memahaminya. DIrinya menegaskan, penjelasan yang bersifat teknokratis sering kali tidak diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dipahami publik, sementara masyarakat memproses informasi dengan logika sederhana yang sangat dipengaruhi rasa aman terhadap kebutuhan sehari-hari. 

“Memang tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat tekanan dari situasi global, termasuk ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dan mendorong kenaikan harga minyak dunia. Namun tekanan tersebut tidak serta-merta berarti pasokan domestik berada dalam kondisi darurat. Justru yang lebih berbahaya adalah ketika kepanikan masyarakat menciptakan efek self-fulfilling prophecy, yaitu perilaku membeli secara berlebihan yang akhirnya benar-benar menimbulkan kelangkaan di tingkat distribusi,” imbuhnya.  (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya