Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Ketegangan AS-Iran: Marco Rubio Beri Briefing Rahasia Saat Armada Tempur Mengepung

Thalatie K Yani
25/2/2026 08:00
Ketegangan AS-Iran: Marco Rubio Beri Briefing Rahasia Saat Armada Tempur Mengepung
Marco Rubio(Media Sosial X)

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyampaikan briefing rahasia kepada jajaran petinggi legislatif di Gedung Putih, Selasa (24/2). Pertemuan krusial ini dilakukan saat Washington mengerahkan kekuatan udara dan laut terbesar ke Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003.

Briefing tersebut ditujukan bagi kelompok elite yang disebut "Gang of Eight". Pertemuan yang mencakup pimpinan senior dari kedua partai di DPR dan Senat, serta pimpinan komite intelijen. Kelompok ini biasanya hanya dipanggil untuk membahas informasi rahasia tingkat tinggi, termasuk persiapan aksi militer besar.

Kesiapan Tempur di Teluk

Situasi semakin memanas setelah kapal induk kedua AS, USS Gerald Ford, kapal perang terbesar di dunia, tiba di kawasan tersebut. Para analis menilai posisi militer AS kini sudah siap sepenuhnya untuk meluncurkan serangan jika Presiden Donald Trump memberikan perintah.

Senator Chuck Schumer, pemimpin minoritas Senat, memberikan pernyataan singkat usai pertemuan tertutup tersebut. "Ini serius, dan pemerintah harus menjelaskan kasus ini kepada rakyat Amerika," tegasnya.

Momentum ini terjadi hanya beberapa jam sebelum Trump dijadwalkan menyampaikan pidato kenegaraan (State of the Union). Trump tetap pada tuntutan kerasnya agar Iran menghentikan program nuklir, produksi rudal balistik, serta dukungan terhadap proksi seperti Hizbullah dan Houthi.

Ultimatum 10 Hari

Pekan lalu, Trump memberikan ultimatum Iran harus mencapai kesepakatan dalam waktu 10 hari atau AS akan melakukan "langkah lebih jauh". Ia memperingatkan "hal-hal yang sangat buruk" akan terjadi pada Iran jika negosiasi gagal.

Meski demikian, jalur diplomasi masih diupayakan di Jenewa pada Kamis mendatang. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, menyatakan kesiapan negaranya. "Kami ingin melakukan apa pun yang diperlukan agar kesepakatan itu terjadi," ujarnya. Namun, ia menekankan negosiasi hanya akan membahas program nuklir, syarat yang kemungkinan besar akan ditolak oleh Gedung Putih.

Perdebatan di Internal Gedung Putih

Di sisi lain, muncul laporan Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, memperingatkan risiko penipisan stok rudal pencegah seperti Patriot dan THAAD jika konflik pecah. Namun, Trump membantah anggapan bahwa jenderalnya menentang opsi perang.

Melalui Truth Social, Trump menulis: "Jenderal Caine, seperti kita semua, tidak ingin melihat perang, tetapi jika keputusan dibuat untuk melawan Iran di tingkat militer, adalah pendapatnya bahwa itu akan menjadi sesuatu yang mudah dimenangkan."

Kini, keputusan akhir berada di tangan Trump. Apakah ia akan memerintahkan serangan militer terbatas untuk menekan negosiasi atau serangan besar untuk melumpuhkan pemerintahan Iran, sangat bergantung pada hasil pertemuan di Jenewa akhir pekan ini.

"Masalahnya adalah Trump telah memberikan garis merah," ujar Charles Wald, pensiunan Jenderal Angkatan Udara. "Jika kesepakatan tidak tercapai dan mereka tidak melakukan apa pun, dampaknya akan jauh lebih buruk bagi wibawa AS." (The Guardian/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya