DALAM sejarah peradaban manusia, nama Nabi Ayub AS menjadi simbol universal untuk kesabaran tanpa batas. Kisah hidupnya bukan sekadar legenda tentang orang sakit, melainkan epik tentang seseorang yang memiliki segalanya, kehilangan segalanya, lalu mendapatkan kembali lebih dari segalanya berkat keteguhan iman.
Namun, di balik kisah kesabarannya, terdapat fakta sejarah menarik mengenai garis keturunannya yang terhubung dengan Nabi Ya'qub AS (Bapak Bani Israil). Berikut ulasan komprehensif mengenai kehidupan, perjuangan, dan mukjizat Nabi Ayub AS.
1. Silsilah dan Hubungan dengan Nabi Ya'qub AS
Banyak literatur yang menyebutkan Nabi Ayub AS berasal dari keturunan Nabi Ibrahim AS. Namun bagaimana persisnya hubungannya dengan Nabi Ya'qub? Para sejarawan Muslim seperti Ibnu Katsir menjelaskan jalur silsilahnya sebagai berikut:
| Jalur Silsilah | Keterangan Hubungan |
|---|---|
| Garis Ayah | Ayub bin Amush bin Tawakh bin Rum bin 'Ish (Esau) bin Ishaq bin Ibrahim. |
| Koneksi ke Ya'qub | 'Ish (Esau) adalah saudara kembar Nabi Ya'qub AS. Jadi, Nabi Ayub adalah keturunan dari saudara Nabi Ya'qub. |
| Garis Istri (Rahmah) | Istri setia Nabi Ayub, yang masyhur bernama Rahmah, diyakini ialah putri dari Afraim bin Yusuf bin Ya'qub. |
| Kesimpulan | Secara darah, Nabi Ayub ialah kerabat (cucu keponakan) Nabi Ya'qub. Secara pernikahan, beliau ialah menantu dari keturunan Nabi Ya'qub (Bani Israil). |
2. Masa Kejayaan dan Awal Ujian
Nabi Ayub AS tinggal di daerah Hauran (dataran tinggi antara Suriah dan Yordania). Sebelum ujian datang, beliau merupakan orang terkaya di negerinya. Hartanya melimpah ruah berupa ribuan unta, sapi, kambing, keledai, serta lahan pertanian yang luas. Beliau juga dikaruniai banyak anak dan fisik yang sempurna.
Namun, Allah SWT hendak mengangkat derajatnya. Iblis merasa iri dan menantang bahwa Ayub hanya taat karena diberi kenikmatan. Maka, Allah mengizinkan ujian itu turun dalam tiga gelombang:
- Kehilangan Harta: Seluruh ternak dan lahan pertaniannya musnah terbakar dan dicuri dalam waktu singkat. Nabi Ayub jatuh miskin.
- Kehilangan Keluarga: Rumah tempat anak-anaknya berkumpul runtuh, menewaskan seluruh anak-anaknya.
- Kehilangan Kesehatan: Nabi Ayub ditimpa penyakit kulit yang sangat parah (kusta/lepra) dari ujung kepala hingga ujung kaki, hingga tidak ada bagian tubuhnya yang utuh kecuali hati dan lisannya yang terus berzikir.
3. Perjuangan dan Kesetiaan Istri
Ujian ini berlangsung sangat lama, sebagian riwayat menyebutkan 18 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, semua kerabat dan tetangga menjauh karena jijik dan takut tertular, kecuali satu orang: istrinya, Rahmah.
Rahmah dengan sabar merawat Nabi Ayub, bahkan bekerja menjadi pelayan di rumah orang lain untuk memberi makan suaminya. Suatu ketika, karena tekanan yang begitu berat dan godaan setan, Rahmah sempat mengeluh atau melakukan sesuatu yang membuat Nabi Ayub bersumpah: "Jika aku sembuh nanti, aku akan memukulmu 100 kali."
Puncak kesabaran Nabi Ayub terekam dalam doa beliau yang sangat santun di Surat Al-Anbiya ayat 83:
"(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang."
Perhatikan adab beliau. Beliau tidak berkata, "Sembuhkan aku!", tetapi beliau mengadu tentang kondisinya dan memuji sifat Allah.
4. Mukjizat: Hentakan Kaki dan Air Penyembuh
Allah SWT menjawab doa tersebut dengan perintah yang menjadi mukjizat penyembuhannya. Allah berfirman dalam Surat Shad ayat 42:
"Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum."
Nabi Ayub menghentakkan kakinya ke tanah, lalu memancarlah mata air. Sesuai perintah:
- Mandi: Beliau mandi dengan air tersebut dan seketika penyakit kulit di bagian luar tubuhnya rontok dan sembuh, kulitnya kembali muda dan bercahaya.
- Minum: Beliau meminum air tersebut dan segala penyakit di dalam organ tubuhnya sembuh total.
Allah kemudian mengembalikan kekayaannya berlipat ganda. Bahkan, Allah menganugerahkan kembali keturunan (anak-anak) yang banyak sebagai rahmat dari-Nya.
5. Pemenuhan Sumpah dan Wafatnya
Setelah sembuh, Nabi Ayub teringat sumpahnya untuk memukul istrinya 100 kali. Namun, Allah yang Maha Bijaksana memberikan solusi hukum (rukhsah) karena kesetiaan sang istri.
Allah memerintahkan Nabi Ayub mengambil seikat rumput atau lidi berjumlah 100 batang, lalu memukulkannya sekali saja kepada istrinya dengan pelan. Dengan demikian, sumpah terpenuhi tanpa menyakiti istri yang salehah tersebut.
Wafat dan Makam
Nabi Ayub AS dikaruniai umur panjang setelah kesembuhannya. Beliau hidup bahagia melihat keturunannya hingga generasi keempat (cicit). Beliau wafat pada usia lanjut (riwayat menyebutkan sekitar 93 atau 140 tahun).
Mengenai lokasi makamnya, terdapat beberapa klaim situs sejarah, di antaranya:
- Dataran Tinggi Hauran (Suriah/Yordania): Tempat yang paling kuat diduga sebagai lokasi asli kehidupannya (Negeri Bataniyyah).
- Salalah, Oman: Terdapat makam panjang yang diziarahi sebagai makam Nabi Ayub di atas bukit Jabal Ittin.
Kesimpulan
Kisah Nabi Ayub AS mengajarkan bahwa ujian bukanlah tanda murka Allah, melainkan sarana kenaikan derajat. Hubungannya dengan Nabi Ya'qub menempatkannya dalam garis keturunan mulia yang mewarisi risalah tauhid. Warisan terbesarnya adalah keyakinan bahwa di balik setiap kesulitan, rahmat Allah selalu menanti bagi mereka yang bersabar.
PENAFIAN
Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.
