Headline

Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.

Rahasia Kecerdasan Ulama: Mengapa Membaca Ratusan Kali Lebih Utama?

Media Indonesia
20/2/2026 21:10
Rahasia Kecerdasan Ulama: Mengapa Membaca Ratusan Kali Lebih Utama?
Ilustrasi.(Freepik)

DI era informasi yang serba cepat ini, kita sering terjebak dalam fenomena sekali baca langsung merasa paham. Namun, jika kita menengok ke belakang pada tradisi intelektual Islam klasik, para ulama besar justru melakukan hal yang sebaliknya.

Mereka membaca satu kitab ratusan, bahkan ribuan kali, bukan karena kurang cerdas, melainkan karena mereka memahami satu prinsip mendasar: ilmu harus diendapkan, bukan sekadar dilewati. Berikut penjelasan lebih rinci yang dilansir dari akun maktabahturmusy di Instagram.

Tradisi Itqan: Melawan Budaya Instan

Hari ini, kita hidup di zaman ringkasan, potongan video pendek, dan kutipan instan. Ada dorongan kuat untuk cepat khatam dan cepat meraih gelar. Namun, tradisi ulama mengajarkan tentang kedalaman dan kesabaran.

Padahal, ilmu sejatinya tidak menyukai jiwa yang tergesa-gesa. Perbedaan antara pembaca biasa dan seorang pakar sering kali hanya terletak pada satu hal: kesabaran untuk mengulang.

Daftar Ulama dengan Dedikasi Pengulangan Luar Biasa

Berikut beberapa catatan sejarah mengenai perjuangan para tokoh besar membangun kedalaman ilmunya. Di antara para ulama itu, lima ulama besar ini membaca kitab berulang-ulang. 

  • Imam Abu Ishaq as-Syairazi. Pakar fikih dan ushul fikih dan penulis al-Luma' itu berkata, "Saya mengulang setiap qiyas 1.000 kali. Setelah selesai, saya ambil qiyas lain dan saya ulangi lagi. Setiap pelajaran saya ulangi 1.000 kali."
  • Imam al-Muzani (Murid Imam Syafi'i). Beliau membaca Ar-Risalah sebanyak 500 kali. Bahkan menjadikannya bacaan harian. 
  • Sulaiman bin Ibrahim al-Alawi (wafat 825 H). Ia mengkhatamkan Shahih Bukhari 500 kali baik saat belajar maupun ketika sudah mengajar.
  • Ismail bin Umar an-Naisaburi (wafat 501 H). Ia mengulang Shahih Muslim lebih dari 20 kali saat masih mondok.
  • Ibnu Hisyam al-Anshari (wafat 761 H). Ia membaca Alfiyah 1.000 kali sebelum menulis syarahnya.
Nama Ulama Kitab/Materi Jumlah Pengulangan
Imam Abu Ishaq as-Syairazi Setiap satu Qiyas/Pelajaran 1.000 Kali
Imam al-Muzani Ar-Risalah (Karya Imam Syafi'i) 500 Kali
Ibnu Hisyam al-Anshari Alfiyah Ibnu Malik 1.000 Kali
Sulaiman bin Ibrahim al-Alawi Shahih Bukhari 500 Kali

Validasi Sains Modern: Membangun Neural Pathway

Mengapa pengulangan begitu krusial? Dalam perspektif neuroscience, pengulangan adalah cara utama untuk membangun dan memperkuat neural pathway (jalur saraf) di otak. Semakin sering sebuah informasi diakses dan diulang, semakin kuat koneksi sinapsis yang terbentuk.

Proses ini mengubah pemahaman dari yang bersifat kognitif berat menjadi sebuah refleks atau intuitive mastery. Inilah yang menjelaskan latar belakang para ulama mampu menjawab persoalan hukum yang rumit secara spontan namun tetap akurat; karena ilmu tersebut sudah menyatu dengan sistem saraf mereka melalui proses itqan.

Baca juga: Mengenal Imam Hanafi Pendiri Mazhab Fikih Pertama

Insight: Ilmu yang matang tidak dihasilkan dari seberapa banyak kitab yang pernah dibaca, melainkan seberapa dalam satu kitab meresap ke dalam jiwa melalui pengulangan yang sabar.

People Also Ask (FAQ)

Berapa kali idealnya membaca satu buku agar paham?

Secara akademis, membaca tiga kali (skimming, membaca detail, dan merangkum) adalah standar minimal. Namun untuk penguasaan tingkat ahli (mastery), pengulangan tanpa batas seperti tradisi ulama adalah kuncinya.

Apa manfaat mengulang bacaan yang sudah dipahami?

Setiap pengulangan biasanya akan membuka lapisan pemahaman baru yang tidak ditemukan pada pembacaan pertama. Ini disebut dengan deep learning.

Baca juga: Dua Ulama Khatamkan Al-Quran Ribuan Kali dalam Hidup

Bagaimana cara memulai tradisi pengulangan di zaman modern?

Mulailah dengan satu kitab atau satu disiplin ilmu yang paling Anda cintai. Fokuslah pada kedalaman daripada kuantitas judul buku yang diselesaikan.

Kesimpulan: Ilmu Adalah Pengendapan

Ilmu yang matang adalah ilmu yang telah melewati proses pengendapan. Dengan mengulang, seorang penuntut ilmu tidak hanya menangkap teks, tetapi juga menangkap ruh dan hikmah di balik teks tersebut. (I-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya