Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
DI era informasi yang serba cepat ini, kita sering terjebak dalam fenomena sekali baca langsung merasa paham. Namun, jika kita menengok ke belakang pada tradisi intelektual Islam klasik, para ulama besar justru melakukan hal yang sebaliknya.
Mereka membaca satu kitab ratusan, bahkan ribuan kali, bukan karena kurang cerdas, melainkan karena mereka memahami satu prinsip mendasar: ilmu harus diendapkan, bukan sekadar dilewati. Berikut penjelasan lebih rinci yang dilansir dari akun maktabahturmusy di Instagram.
Hari ini, kita hidup di zaman ringkasan, potongan video pendek, dan kutipan instan. Ada dorongan kuat untuk cepat khatam dan cepat meraih gelar. Namun, tradisi ulama mengajarkan tentang kedalaman dan kesabaran.
Padahal, ilmu sejatinya tidak menyukai jiwa yang tergesa-gesa. Perbedaan antara pembaca biasa dan seorang pakar sering kali hanya terletak pada satu hal: kesabaran untuk mengulang.
Berikut beberapa catatan sejarah mengenai perjuangan para tokoh besar membangun kedalaman ilmunya. Di antara para ulama itu, lima ulama besar ini membaca kitab berulang-ulang.
| Nama Ulama | Kitab/Materi | Jumlah Pengulangan |
|---|---|---|
| Imam Abu Ishaq as-Syairazi | Setiap satu Qiyas/Pelajaran | 1.000 Kali |
| Imam al-Muzani | Ar-Risalah (Karya Imam Syafi'i) | 500 Kali |
| Ibnu Hisyam al-Anshari | Alfiyah Ibnu Malik | 1.000 Kali |
| Sulaiman bin Ibrahim al-Alawi | Shahih Bukhari | 500 Kali |

Mengapa pengulangan begitu krusial? Dalam perspektif neuroscience, pengulangan adalah cara utama untuk membangun dan memperkuat neural pathway (jalur saraf) di otak. Semakin sering sebuah informasi diakses dan diulang, semakin kuat koneksi sinapsis yang terbentuk.
Proses ini mengubah pemahaman dari yang bersifat kognitif berat menjadi sebuah refleks atau intuitive mastery. Inilah yang menjelaskan latar belakang para ulama mampu menjawab persoalan hukum yang rumit secara spontan namun tetap akurat; karena ilmu tersebut sudah menyatu dengan sistem saraf mereka melalui proses itqan.
Baca juga: Mengenal Imam Hanafi Pendiri Mazhab Fikih Pertama
Secara akademis, membaca tiga kali (skimming, membaca detail, dan merangkum) adalah standar minimal. Namun untuk penguasaan tingkat ahli (mastery), pengulangan tanpa batas seperti tradisi ulama adalah kuncinya.
Setiap pengulangan biasanya akan membuka lapisan pemahaman baru yang tidak ditemukan pada pembacaan pertama. Ini disebut dengan deep learning.
Baca juga: Dua Ulama Khatamkan Al-Quran Ribuan Kali dalam Hidup
Mulailah dengan satu kitab atau satu disiplin ilmu yang paling Anda cintai. Fokuslah pada kedalaman daripada kuantitas judul buku yang diselesaikan.
Ilmu yang matang adalah ilmu yang telah melewati proses pengendapan. Dengan mengulang, seorang penuntut ilmu tidak hanya menangkap teks, tetapi juga menangkap ruh dan hikmah di balik teks tersebut. (I-2)
Menurut Eka Kurniawan, kunci utama untuk meningkatkan kemampuan menulis terletak pada kombinasi antara asupan literasi yang beragam dan latihan fisik yang konsisten.
Kenaikan kelas dan kelulusan seringkali hanya menjadi formalitas administratif demi mengejar target persentase kelulusan 100%. Masih ditemukannya siswa yang belum bisa membaca dan menulis.
Kemampuan motorik berhubungan erat dengan pencapaian akademik, khususnya dalam berhitung dan membaca.
Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini Anak-Anak Bantaran Sungai Ciliwung Bersama Pegiat Biruni
Membaca pada dasarnya adalah sebuah latihan bagi otak.
Buku, disebut Dedi, merupakan medium yang efektif untuk memperkenalkan kecintaan terhadap alam Indonesia kepada anak-anak, sekaligus menumbuhkan empati terhadap lingkungan.
Saat ini tantangan yang dihadapi dalam upaya peningkatan literasi masyarakat tidaklah mudah.
Membaca buku terbukti memiliki dampak positif luar biasa bagi otak dan tubuh, meningkatkan daya ingat dan memperlambat penurunan fungsi memori.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved