Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Anak Sulit Fokus Saat Belajar? Bisa Jadi Bukan Malas, Tapi Tubuhnya belum Siap

Basuki Eka Purnama
11/11/2025 11:21
Anak Sulit Fokus Saat Belajar? Bisa Jadi Bukan Malas, Tapi Tubuhnya belum Siap
Ilustrasi(Freepik)

BAGI sebagian orangtua, membantu anak tetap fokus saat belajar bisa menjadi tantangan tersendiri. Baru beberapa menit menulis atau membaca, anak sudah gelisah, kehilangan perhatian, atau cepat bosan. 

Padahal, kesulitan ini belum tentu karena anak malas atau tidak tertarik. Kemampuan fokus ternyata sangat dipengaruhi oleh kesiapan tubuh, terutama perkembangan sistem sensorik dan motorik anak.

Sebuah kajian pada 2024, yang berjudul "Relationships between Motor Skills and Academic Achievement in School-Aged Children and Adolescents: A Systematic Review" yang dipublikasikan di MDPI, penerbit jurnal ilmiah yang menaungi berbagai bidang penelitian, menemukan bahwa kemampuan motorik berhubungan erat dengan pencapaian akademik, khususnya dalam berhitung dan membaca. 

Aktivitas motorik membantu anak mengubah informasi abstrak menjadi konkret, sehingga otak lebih mudah memahami dan mempertahankan fokus.

Menurut psikolog anak dan keluarga Saskhya Aulia Prima, M.Psi, Psikolog, fokus bukan hanya soal perilaku, tapi juga kesiapan perkembangan. 

"Fokus tidak bisa dipaksakan. Sebelum anak bisa duduk diam dan memperhatikan, tubuhnya harus siap dulu. Kalau sistem sensoriknya belum matang, misalnya masih mudah terdistraksi oleh suara atau cahaya, anak akan terlihat sulit berkonsentrasi," jelas Saskhya.

Belajar Fokus Lewat Aktivitas Sensorik dan Motorik Halus

Kemampuan fokus bisa dilatih dengan cara yang menyenangkan, salah satunya melalui aktivitas yang melibatkan gerakan tangan dan sentuhan. Aktivitas seperti membentuk adonan, mencubit bahan lembut, atau meronce manik-manik membantu anak melatih otot-otot kecil di tangan serta koordinasi mata dan tangan.

Studi pada 2023, yang berjudul "Optimizing Fine Motor Coordination, Selective Attention and Reaction Time in Children" yang dipublikasikan di jurnal Children yang berfokus pada kesehatan anak juga menemukan bahwa kegiatan yang menggabungkan seni visual dan latihan motorik dapat meningkatkan konsentrasi, reaksi, dan kemampuan anak untuk memusatkan perhatian.

Dengan kata lain, saat anak sibuk bermain dan berkreasi, mereka sebenarnya sedang melatih otak dan tubuh untuk bekerja sama agar bisa fokus lebih lama.

Masak-Masakan Lilin: Belajar Fokus Lewat Imajinasi

Bermain adalah cara alami anak untuk belajar, dan permainan yang melibatkan sentuhan serta urutan aktivitas bisa jadi latihan fokus yang efektif. Lewat permainan masak-masakan, anak belajar mengikuti tahapan, menyusun bahan, dan membayangkan hasil "masakannya". Semua proses ini membantu mengasah ketelitian, kesabaran, serta koordinasi tangan dan mata secara alami.

Saat permainan ini dilakukan menggunakan mainan lilin, pengalaman menjadi lebih aman dan menyenangkan. Tekstur lembut dan warna-warna cerah menstimulasi indra peraba dan penglihatan anak, sekaligus menguatkan fokus mereka.

Beberapa aktivitas sederhana yang bisa dicoba di rumah, antara lain:

  • Menggulung dan menekan adonan – melatih kekuatan genggaman dan kontrol tangan.
  • Membentuk huruf atau pola dari adonan – membantu koordinasi visual dan gerakan presisi.
  • Memotong atau mencetak bentuk – meningkatkan fokus dan ketelitian.
  • Menyusun warna atau pola – melatih kesabaran dan konsistensi.
  • Mencampur warna – menumbuhkan kreativitas dan imajinasi.

Semua kegiatan sederhana ini bisa jadi lebih seru dan bermakna saat dilakukan lewat permainan lilin, karena belajar fokus tidak harus selalu duduk diam, tapi bisa dimulai dari hal yang menyenangkan.

Membantu Anak Belajar Fokus Lewat Mainan Lilin 

Sebagai merek lilin mainan yang sudah dikenal aman dan mudah digunakan anak-anak, Play-Doh menghadirkan cara seru untuk bermain masak-masakan lewat playset bertema dapur.  

Melalui seri "Jajanan Anak Indonesia", anak bisa berkreasi membuat cilok, telur gulung, atau es cendol, sambil belajar fokus mengikuti langkah demi langkah.

Sentuhan lokal ini membuat permainan terasa lebih dekat dengan keseharian anak Indonesia. Tak hanya melatih sensorik dan motorik, tapi juga memperkenalkan budaya dengan cara yang menyenangkan dan penuh imajinasi.

Lewat permainan sederhana seperti membentuk, menggulung, dan berimajinasi, anak sebenarnya sedang belajar hal besar: mengatur fokus, memahami urutan, dan membangun kesabaran. 

Dengan Play-Doh, momen bermain bukan hanya seru, tapi juga jadi sarana penting untuk tumbuh kembang anak yang lebih siap belajar,  dari dapur kecil mereka sendiri. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik