Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Protes Meluas usai Penembakan Warga AS oleh Aparat Imigrasi

Ferdian Ananda Majni
26/1/2026 13:27
Protes Meluas usai Penembakan Warga AS oleh Aparat Imigrasi
Orang-orang berunjuk rasa menentang tindakan represif Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE).(Anadolu)

PENEMBAKAN warga negara Amerika Serikat oleh Agen Patroli Perbatasan di Minneapolis kembali memicu kemarahan publik, di tengah operasi penegakan imigrasi besar-besaran pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilai kian memperuncing ketegangan antara pemerintah federal dan otoritas lokal.

Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat atau Department of Homeland Security (DHS) menyatakan penembakan dilakukan sebagai tindakan membela diri. Menurut keterangan resmi, agen federal berusaha melucuti seorang pria yang disebut sebagai warga negara AS, sebelum akhirnya melepaskan tembakan.

Pejabat federal menyebut korban mendekati agen dengan membawa sepucuk pistol dan dua magazen.

"Ini terlihat seperti situasi di mana seorang individu ingin menyebabkan kerusakan sebesar-besarnya dan membantai aparat penegak hukum," kata Gregory Bovino, pejabat Patroli Perbatasan yang memimpin operasi di wilayah tersebut, dalam konferensi pers.

Bovino menjelaskan para agen saat itu tengah mencari seorang imigran sebelum insiden terjadi. Namun, ia tidak merinci kronologi lengkap penembakan dengan alasan kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan.

Insiden ini semakin memperuncing ketegangan antara pemerintah federal dengan otoritas negara bagian dan pemerintah lokal yang mayoritas berasal dari Partai Demokrat. Para pejabat lokal menilai kehadiran ribuan agen imigrasi justru memperburuk rasa aman warga Minneapolis.

Keterangan Polisi

Kepala Kepolisian Minneapolis, Brian O’Hara, mengatakan pria yang tewas adalah warga setempat berusia 37 tahun dan tercatat sebagai pemilik senjata api yang sah. Menurutnya, korban tidak memiliki riwayat kriminal serius selain beberapa pelanggaran lalu lintas.

Sebuah video yang beredar luas di media sosial dan ditayangkan oleh sejumlah stasiun televisi kabel memperlihatkan beberapa orang bermasker dan mengenakan rompi taktis terlibat pergulatan dengan seorang pria di jalan yang tertutup salju. 

Tak lama kemudian, terdengar suara tembakan. Dalam rekaman tersebut, pria itu tampak terjatuh sebelum suara tembakan kembali terdengar beberapa kali.

Rekaman lain menunjukkan agen-agen federal bersenjata dan bermasker menembakkan gas air mata ke arah massa demonstran yang terus bertambah. Teriakan bernada kecaman terdengar dari para pengunjuk rasa, yang menyebut para agen sebagai memalukan dan pengkhianat.

Polisi kota dan negara bagian kemudian tiba untuk mengamankan situasi, sementara agen federal terlihat meninggalkan lokasi kejadian.

O’Hara meminta warga menjauhi area tersebut dan menggambarkan kondisi di lokasi sebagai situasi yang sangat berbahaya.

"Tolong jangan hancurkan kota kami," ujarnya.

Museum Minneapolis Institute of Art yang berada tak jauh dari lokasi menyatakan menutup operasionalnya untuk hari itu demi alasan keamanan.

Beberapa jam setelah kejadian, situasi berangsur kondusif meski sejumlah demonstran masih bertahan dan melanjutkan aksi protes.

Respons Wali Kota dan Gubernur

Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, secara terbuka mendesak agar operasi penegakan imigrasi yang dijalankan pemerintahan Trump di Minnesota segera dihentikan.

"Berapa banyak lagi warga, berapa banyak lagi orang Amerika yang harus mati atau terluka parah agar operasi ini diakhiri?" kata Frey dalam konferensi pers dikutip CNBC, Senin (26/1).

Gubernur Minnesota bersama dua senator AS juga menyerukan agar agen federal ditarik dari wilayah tersebut.

Presiden Trump, yang menurut seorang pejabat Gedung Putih telah menerima laporan mengenai insiden ini, justru menuding pejabat lokal sebagai pihak yang memperkeruh keadaan.

"Wali Kota dan Gubernur menghasut pemberontakan, dengan retorika mereka yang pongah, berbahaya, dan arogan," tulis Trump melalui media sosial.

Penembakan ini terjadi sehari setelah lebih dari 10.000 orang turun ke jalan meski suhu ekstrem, untuk memprotes kehadiran sekitar 3.000 agen federal yang dikerahkan ke Minnesota.

Kemarahan publik dipicu oleh sejumlah insiden sebelumnya, termasuk tewasnya warga negara AS Renee Good, penahanan seorang warga AS yang diseret dari rumahnya saat hanya mengenakan celana pendek, serta penahanan anak-anak sekolah, termasuk seorang bocah berusia lima tahun.

Wakil Presiden JD Vance, yang berkunjung ke Minneapolis pada Kamis lalu, menulis di media sosial pada Sabtu ( 24/1) bahwa agen ICE sebenarnya berniat bekerja sama dengan aparat penegak hukum setempat.

"Supaya situasi di lapangan tidak lepas kendali. Namun, kepemimpinan lokal di Minnesota sejauh ini menolak menjawab permintaan tersebut," tulis Vance. (Fer/I-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya