Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Agen Federal Tembak Mati Warga, Gubernur Walz Kecam Pemerintah Pusat

Thalatie K Yani
25/1/2026 05:18
Agen Federal Tembak Mati Warga, Gubernur Walz Kecam Pemerintah Pusat
Insiden penembakan fatal oleh agen imigrasi di Minneapolis memicu protes besar. Gubernur Tim Walz menuntut penyelidikan independen di tengah ketegangan dengan Trump.(AFP)

GELOMBANG kemarahan kembali mengguncang Minneapolis setelah agen imigrasi federal menembak mati seorang pria pada Sabtu waktu setempat. Insiden ini menandai kematian sipil kedua dalam operasi besar-besaran pemerintahan Trump di kota tersebut, yang memicu protes luas dan kecaman keras dari pejabat negara bagian Minnesota.

Korban diidentifikasi media lokal sebagai Alex Pretti, 37, seorang perawat. Kematiannya terjadi kurang dari tiga minggu setelah Renee Good, seorang warga negara AS, juga tewas ditembak petugas imigrasi (ICE). Situasi di Minneapolis kini dilaporkan sangat volatil, dengan massa yang memenuhi jalanan meski suhu berada di bawah titik beku.

Versi yang Bertolak Belakang

Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) melalui pernyataan di platform X menyatakan Pretti mendekati petugas patroli perbatasan dengan pistol semi-otomatis 9 mm dan "melawan dengan keras" saat akan dilucuti.

"Karena mengkhawatirkan nyawanya serta nyawa dan keselamatan sesama petugas, seorang agen melepaskan tembakan pertahanan. Petugas medis di lokasi segera memberikan pertolongan pertama, namun subjek dinyatakan meninggal di tempat kejadian," tulis DHS.

Namun, rekaman video yang beredar di media sosial menunjukkan narasi berbeda. Video tersebut memperlihatkan Pretti berada di trotoar bersalju, tampak mencoba melindungi seorang pengunjuk rasa perempuan dari semprotan kimia sebelum seorang agen menariknya ke jalan yang licin. Setelah pergulatan singkat, seorang petugas melepaskan tembakan ke arah Pretti dari jarak dekat, diikuti beberapa tembakan lain dari jarak jauh saat tubuhnya sudah terkapar.

Kepala Polisi Minneapolis, Brian O'Hara, menyatakan korban diyakini sebagai "pemilik senjata sah dengan izin membawa senjata." Di Minnesota, membawa senjata api secara terbuka memang diperbolehkan selama memiliki izin.

Kecaman Gubernur dan Intervensi Negara Bagian

Gubernur Minnesota, Tim Walz, menyebut penembakan ini sebagai peristiwa yang "mengerikan" dan menegaskan bahwa pemerintah negara bagian akan mengambil alih penyelidikan.

"Pemerintah federal tidak bisa dipercaya untuk memimpin penyelidikan ini. Negara bagian yang akan menanganinya, titik," tegas Walz dalam konferensi pers. Melalui akun X miliknya, ia menambahkan, "Minnesota sudah muak. Ini memuakkan. Presiden harus mengakhiri operasi ini. Tarik ribuan petugas kekerasan dan tidak terlatih itu dari Minnesota. Sekarang."

Di sisi lain, Presiden Donald Trump justru meningkatkan ketegangan dengan menuduh Gubernur Walz dan Wali Kota Jacob Frey "menghasut pemberontakan." Trump sebelumnya sempat mengancam akan mengirim pasukan militer ke Minnesota dengan memberlakukan Undang-Undang Pemberontakan (Insurrection Act).

Dampak Luas di Masyarakat

Wali Kota Jacob Frey mendesak Trump untuk segera menghentikan operasi federal tersebut demi perdamaian. Sementara itu, anggota DPR Ilhan Omar secara gamblang menyebut insiden ini sebagai "eksekusi" dan menuduh Trump mengubah Minneapolis menjadi "zona perang."

Akibat situasi keamanan yang tidak kondusif, tim NBA Minnesota Timberwolves membatalkan pertandingan mereka pada hari Sabtu, dan parade karnaval sore hari juga terpaksa dibatalkan. Polisi setempat telah menetapkan status protes sebagai pertemuan ilegal dan mulai mengerahkan gas air mata untuk membubarkan massa yang mulai membangun barikade di jalanan. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya