KUDETA Iran 1953, yang dikenal di Barat sebagai Operasi Ajax, tetap menjadi salah satu peristiwa paling kontroversial dalam sejarah modern. Peristiwa ini melibatkan penggulingan Perdana Menteri Mohammad Mosaddegh yang terpilih secara demokratis, guna mengamankan kekuasaan absolut Shah Mohammad Reza Pahlavi dan kepentingan minyak negara-negara Barat.
Latar Belakang: Nasionalisasi Minyak dan Kemarahan Inggris
Pemicu utama krisis ini adalah langkah berani Mohammad Mosaddegh pada tahun 1951. Sebagai Perdana Menteri, ia menasionalisasi industri minyak Iran yang selama puluhan tahun dikuasai oleh Anglo-Iranian Oil Company (AIOC, sekarang BP) milik Inggris. Mosaddegh berargumen bahwa kekayaan alam Iran harus digunakan untuk kemakmuran rakyatnya sendiri, bukan untuk keuntungan kolonial.
Inggris, yang kehilangan aset paling berharganya, segera membalas dengan blokade ekonomi dan embargo minyak terhadap Iran. Ketika upaya diplomatik gagal, Inggris membujuk Amerika Serikat untuk melakukan intervensi dengan dalih bahwa ketidakstabilan di Iran akan membuka pintu bagi pengaruh Uni Soviet (Komunisme).
Operasi Ajax: Keterlibatan CIA dan MI6
Pada Agustus 1953, CIA (Amerika Serikat) dan MI6 (Inggris) meluncurkan rencana rahasia untuk menggulingkan Mosaddegh. Operasi ini melibatkan penyebaran propaganda hitam, penyuapan pejabat militer, hingga pengorganisiran massa bayaran untuk menciptakan kerusuhan di jalan-jalan Teheran.
Awalnya, rencana ini hampir gagal. Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang telah menandatangani dekrit pemecatan Mosaddegh di bawah tekanan Barat, sempat melarikan diri ke Roma setelah pendukung Mosaddegh melakukan perlawanan. Namun, melalui mobilisasi militer yang dipimpin oleh Jenderal Fazlollah Zahedi dan dukungan finansial CIA, situasi berbalik dalam beberapa hari.
Baca juga : Sejarah Pemerintah Iran Dari Kekaisaran Persia hingga Republik Islam
Kembalinya Shah Mohammad Reza Pahlavi
Pada 19 Agustus 1953, markas besar Mosaddegh diserang. Sang Perdana Menteri ditangkap, diadili karena pengkhianatan, dan dihukum tahanan rumah seumur hidup. Shah Mohammad Reza Pahlavi segera kembali dari pengasingannya dan mengambil kendali penuh atas negara.
Pascakudeta, kekuasaan Shah berubah dari monarki konstitusional menjadi otoriter. Dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat, ia memulai program modernisasi besar-besaran yang dikenal sebagai Revolusi Putih. namun di sisi lain, ia menekan oposisi secara brutal melalui polisi rahasia SAVAK.
Dampak Jangka Panjang: Benih Revolusi 1979
Meskipun kudeta 1953 berhasil mengamankan aliran minyak ke Barat selama 25 tahun ke depan, peristiwa ini meninggalkan luka mendalam bagi rakyat Iran. Persepsi bahwa Shah adalah boneka Barat mulai mengakar kuat.
Banyak sejarawan sepakat bahwa penghancuran demokrasi di Iran pada 1953 adalah faktor utama yang memicu sentimen anti-Amerika. Sentimen inilah yang akhirnya meledak dalam Revolusi Islam 1979, yang menggulingkan Shah Reza Pahlavi dan mengubah Iran menjadi Republik Islam di bawah pimpinan Ayatollah Khomeini.
Baca juga : Sederet Fakta tentang Protes yang Melanda Iran
People Also Ask (FAQ)
Apa itu Operasi Ajax?
Operasi Ajax adalah nama sandi untuk operasi rahasia CIA yang bertujuan menggulingkan PM Mohammad Mosaddegh pada 1953 untuk mengembalikan kekuasaan Shah Iran dan mengamankan kepentingan minyak Barat.
Mengapa Mohammad Mossadegh digulingkan?
Alasan utamanya adalah nasionalisasi industri minyak Iran yang merugikan Inggris, serta kekhawatiran Amerika Serikat bahwa Mosaddegh akan beraliansi dengan Uni Soviet di tengah Perang Dingin.
Apa peran Mohammad Reza Pahlavi dalam kudeta?
Shah Mohammad Reza Pahlavi menandatangani dekrit kerajaan untuk memberhentikan Mosaddegh. Meskipun sempat ragu dan melarikan diri, ia kembali menjadi penguasa absolut Iran setelah kudeta berhasil dilakukan oleh militer yang didukung CIA.
