DALAM sejarah peradaban Islam, jarang ditemukan sosok yang memiliki produktivitas seluar biasa Imam As-Suyuthi. Beliau bukan sekadar ulama, melainkan sebuah perpustakaan berjalan.
Ia dikenal sebagai sosok ensiklopedis, kontribusinya merentang dari tafsir, hadis, fikih, bahasa, hingga sejarah. Memahami biografi Imam As-Suyuthi adalah mempelajari bagaimana dedikasi terhadap ilmu pengetahuan dapat melampaui batas waktu.
Siapa Sebenarnya Imam As-Suyuthi?
Nama lengkap beliau adalah Abdurrahman bin Kamaluddin Abi Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin al-Khudhairi as-Suyuthi. Beliau lahir pada bulan Rajab tahun 849 H (1445 M) di Kairo, Mesir. Gelar Jalaluddin yang melekat padanya menunjukkan keagungan posisinya dalam dunia keilmuan Islam pada masa Dinasti Mamluk.
Baca juga : Bisakah Melihat Rasulullah secara Terjaga Ini Hadis dan Kisah Ulama
Mengapa Beliau Dijuluki Ibnul Kutub?
Ada sebuah kisah unik di balik julukan Ibnul Kutub (Anak Buku). Konon, saat ibunda beliau sedang mengandung dan sedang berada di perpustakaan milik ayahnya, tiba-tiba rasa mulas persalinan datang.
Imam As-Suyuthi pun lahir di antara tumpukan kitab-kitab. Seolah-olah takdir sudah menggariskan bahwa bayi ini akan menghabiskan seluruh hidupnya untuk memproduksi ribuan lembar ilmu pengetahuan.
Baca juga : Dalil Bertemu Rasulullah dalam Keadaan Sadar Menurut Hadis dan Pendapat Ulama
Perjalanan Intelektual dan Guru-Guru Beliau
As-Suyuthi menjadi yatim di usia 5 tahun. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkahnya. Beliau menghafal Al-Qur'an sebelum usia 8 tahun dan melanjutkan dengan menghafal kitab-kitab standar seperti Al-Umdah, Minhaj al-Fiqh, dan Alfiyyah Ibnu Malik.
Beliau berguru kepada ulama-ulama besar zamannya, seperti Al-Bulqini untuk ilmu fikih, Syarafuddin al-Munawi, dan Taqiyuddin asy-Syamani. Pengembaraan ilmiahnya membawa beliau mengunjungi wilayah-wilayah kunci seperti Syam (Suriah), Hijaz (Makkah dan Madinah), Yaman, India, hingga Maroko. Setiap tempat yang dikunjungi menjadi ladang pengumpulan sanad dan naskah kuno.
Baca juga : Kumpulan Doa dan Selawat agar Mimpi Bertemu Rasulullah SAW Lengkap
Apa Saja Karya Terbesar Imam As-Suyuthi yang Fenomenal?
Imam As-Suyuthi diperkirakan menulis lebih dari 600 judul kitab. Keistimewaan karya beliau terletak pada kemampuannya merangkum berbagai pendapat ulama terdahulu secara sistematis. Berikut beberapa yang paling berpengaruh:
- Tafsir al-Jalalayn: Kitab tafsir paling populer di dunia yang beliau selesaikan setelah wafatnya sang guru, Jalaluddin al-Mahalli.
- Al-Itqan fi Ulum al-Qur'an: Kitab induk dalam ilmu Al-Qur'an yang menjadi rujukan wajib hingga saat ini.
- Al-Jami' al-Saghir: Kumpulan hadis yang disusun secara alfabetis untuk memudahkan pencarian.
- Tarikh al-Khulafa: Rekaman sejarah para khalifah dari masa Abu Bakar Ash-Shiddiq hingga masa beliau hidup.
- Al-Asybah wa an-Nazhair: Kitab kaidah fikih dalam mazhab Syafi'i.
Baca juga : Siapakah Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani
Metodologi Keilmuan dan Klaim Mujaddid
Imam As-Suyuthi hidup di masa ketika orisinalitas mulai meredup dan banyak ulama hanya melakukan taklid (mengikuti buta). Beliau bangkit dengan semangat ijtihad. Beliau bahkan secara terbuka menyatakan diri sebagai seorang mujaddid (pembaru) abad ke-9 Hijriah berdasarkan hadis Nabi tentang munculnya pembaru setiap seratus tahun.
Meskipun klaim ini memicu perdebatan di kalangan ulama sezamannya, tidak ada yang bisa membantah bahwa karya-karya beliau telah memperbarui cara umat Islam mempelajari agama melalui sistematika penulisan yang jauh lebih modern di masanya.
Baca juga : Nasihat Imam Syafii tentang Ilmu, Belajar, dan Kemuliaannya
Masa Uzlah: Dedikasi Total di Akhir Hayat
Pada usia 40 tahun, Imam As-Suyuthi mengambil keputusan besar. Beliau memilih untuk uzlah atau mengasingkan diri dari hiruk-pukuk pemerintahan dan jabatan resmi. Beliau meninggalkan posisi guru besar di Masjid Syaikhuni dan memilih tinggal di Rawdhah al-Miqyas, tepi Sungai Nil.
Dalam masa penyendirian ini, beliau fokus sepenuhnya pada menulis dan beribadah. Beliau menolak pemberian dari para penguasa dan pejabat, menunjukkan integritas seorang ulama yang independen. Beliau wafat pada tahun 911 H (1505 M) dan dimakamkan di Kairo.
Baca juga : Asal Usul Imam Mahdi Nasab, Ciri Fisik, dan Kronologi Kemunculannya
Checklist: Meneladani Etos Kerja Imam As-Suyuthi
Bagi kita di era digital, sosok Imam As-Suyuthi adalah teladan dalam produktivitas. Berikut hal yang bisa kita pelajari:
| Aspek | Penerapan Masa Kini |
|---|---|
| Manajemen Waktu | Memanfaatkan setiap detik untuk membaca atau berkarya. |
| Sistematika Data | Pentingnya menyusun informasi secara teratur agar mudah diakses orang lain. |
| Integritas Ilmiah | Berani mempertahankan kebenaran meski bertentangan dengan arus utama. |
| Kemandirian | Tidak menggantungkan hidup pada kekuasaan agar tetap objektif dalam berpikir. |
FAQ: Pertanyaan Umum Tentang Imam As-Suyuthi
1. Mengapa Tafsir Al-Jalalayn sangat tipis?
Karena tujuannya adalah memberikan penjelasan ringkas dan padat. Menariknya, jumlah kata dalam tafsir ini hampir sama dengan jumlah kata dalam Al-Qur'an itu sendiri.
2. Apa rahasia produktivitas beliau?
Beliau memiliki kemampuan membaca cepat dan daya ingat fotografis serta dedikasi waktu yang sangat disiplin (hampir tidak ada waktu yang terbuang sia-sia).
Baca juga : Imam Nawawi Masa Kecil, Pendidikan, Guru, Murid, dan Kitab Karyanya
3. Apakah beliau hanya ahli dalam ilmu agama?
Tidak, beliau juga menulis tentang kedokteran, matematika, dan fenomena alam seperti gempa bumi dalam kitab Kasyf as-Salsalah 'an Washf az-Zalzalah.
Kesimpulan
Imam As-Suyuthi adalah bukti nyata bahwa warisan terbaik seorang manusia adalah ilmu yang bermanfaat. Melalui ratusan kitabnya, beliau tetap 'berbicara' kepada kita meskipun telah wafat lima abad yang lalu. Bagi siapa pun yang ingin mendalami khazanah Islam, karya-karya Jalaluddin as-Suyuthi adalah pintu gerbang yang tidak boleh dilewati.
