Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
ESKALASI ketegangan antara Teheran dan Washington mencapai titik baru setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan peringatan keras kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas ancaman militer yang berulang kali disampaikan Gedung Putih terhadap kedaulatan Iran.
Dalam siaran resmi IRIB, Senin (12/1), Ghalibaf menegaskan bahwa militer Iran siap melakukan perlawanan total jika Washington nekat melakukan serangan fisik ke wilayah mereka.
"Saya sudah dengar bahwa Anda (Trump) mengancam Iran. Para pembela Iran akan memberi Anda pelajaran yang tak terlupakan. Kemarilah dan lihatlah bagaimana semua kekuatan Anda di Timur Tengah hancur," tegas Ghalibaf.
Retorika panas ini dipicu oleh pernyataan Trump, akhir Desember lalu. Saat itu, Trump menyatakan dukungannya terhadap opsi serangan baru jika Teheran terbukti melanjutkan program pengembangan rudal balistik dan nuklirnya.
Situasi semakin keruh ketika Trump mulai mencampuri urusan domestik Iran.
Di tengah gelombang protes yang melanda 'Negeri Para Mullah' tersebut, Trump mengancam akan melakukan intervensi militer jika pemerintah Iran menggunakan kekerasan mematikan terhadap pengunjuk rasa.
Di sisi lain, Trump juga menawarkan bantuan bagi rakyat Iran yang ia klaim sedang berjuang melawan penindasan.
Di dalam negeri, Iran sendiri sedang berjuang menghadapi krisis ekonomi yang hebat. Gelombang unjuk rasa besar-besaran telah menyapu berbagai kota sejak Desember.
Protes ini berakar dari kekhawatiran masyarakat atas lonjakan inflasi yang tak terkendali akibat pelemahan nilai tukar mata uang Rial Iran. Ketidakstabilan kurs ini berdampak langsung pada meroketnya harga barang grosir dan eceran, yang mencekik daya beli masyarakat.
Goncangan ekonomi ini bahkan memaksa Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad-Reza Farzin, untuk menanggalkan jabatannya di tengah tekanan massa yang menuntut perbaikan sistem keuangan negara.
Intensitas protes semakin meningkat sejak 8 Januari, menyusul seruan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada Revolusi 1979. Demonstrasi yang semula berfokus pada isu ekonomi bergeser menjadi gerakan politik dengan slogan-slogan anti-pemerintah.
Pemerintah Iran merespons situasi ini dengan langkah tegas, termasuk memblokir akses internet secara nasional untuk membatasi koordinasi massa.
Bentrokan fisik antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan dilaporkan pecah di sejumlah kota, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari kedua belah pihak.
Meski demikian, pada Senin (12/1), otoritas keamanan Iran mengklaim bahwa situasi di lapangan mulai berangsur kondusif dan terkendali. Namun, bayang-bayang sanksi internasional dan ancaman militer dari AS tetap menjadi tantangan berat bagi stabilitas Teheran ke depan. (Ant/Z-1)
Jumlah tentara AS yang terluka dalam perang Iran melonjak jadi 200 orang. Simak daftar prajurit yang gugur, update Centcom, dan eskalasi konflik Timur Tengah.
Militer AS kerahkan drone MQ-9 Reaper untuk serang situs militer Iran. Simak strategi drone war AS dan penggunaan bom SDB yang mematikan di langit Teheran.
Kementerian Warisan Budaya Iran melaporkan 108 situs bersejarah rusak akibat serangan AS-Israel, termasuk Istana Golestan di Teheran dan situs UNESCO di Isfahan.
Laporan intelijen AS mengungkap struktur kekuasaan Iran makin tangguh di bawah IRGC meski Pemimpin Tertinggi tewas. Simak analisis dampak serangan 28 Februari.
Pemerintahan Donald Trump dilaporkan ingin singkirkan Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel. AS tutup pintu diplomasi selama Diaz-Canel menjabat. Cek detailnya!
Teheran sebut laporan komunikasi dengan AS sebagai "kebohongan murni". Menlu Abbas Araghchi tegaskan Iran tidak pernah meminta gencatan senjata sejak perang pecah.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf tantang Donald Trump. Sebut pejuang Iran siap beri pelajaran tak terlupakan jika AS menyerang. Simak di sini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved