Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Iran Ancam Beri Pelajaran tak Terlupakan bagi Donald Trump

Basuki Eka Purnama
13/1/2026 09:10
Iran Ancam Beri Pelajaran tak Terlupakan bagi Donald Trump
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.(AFP)

ESKALASI ketegangan antara Teheran dan Washington mencapai titik baru setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan peringatan keras kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas ancaman militer yang berulang kali disampaikan Gedung Putih terhadap kedaulatan Iran.

Dalam siaran resmi IRIB, Senin (12/1), Ghalibaf menegaskan bahwa militer Iran siap melakukan perlawanan total jika Washington nekat melakukan serangan fisik ke wilayah mereka.

"Saya sudah dengar bahwa Anda (Trump) mengancam Iran. Para pembela Iran akan memberi Anda pelajaran yang tak terlupakan. Kemarilah dan lihatlah bagaimana semua kekuatan Anda di Timur Tengah hancur," tegas Ghalibaf.

Ancaman Militer dan Isu Nuklir

Retorika panas ini dipicu oleh pernyataan Trump, akhir Desember lalu. Saat itu, Trump menyatakan dukungannya terhadap opsi serangan baru jika Teheran terbukti melanjutkan program pengembangan rudal balistik dan nuklirnya.

Situasi semakin keruh ketika Trump mulai mencampuri urusan domestik Iran. 

Di tengah gelombang protes yang melanda 'Negeri Para Mullah' tersebut, Trump mengancam akan melakukan intervensi militer jika pemerintah Iran menggunakan kekerasan mematikan terhadap pengunjuk rasa. 

Di sisi lain, Trump juga menawarkan bantuan bagi rakyat Iran yang ia klaim sedang berjuang melawan penindasan.

Krisis Ekonomi dan Gejolak Domestik

Di dalam negeri, Iran sendiri sedang berjuang menghadapi krisis ekonomi yang hebat. Gelombang unjuk rasa besar-besaran telah menyapu berbagai kota sejak Desember. 

Protes ini berakar dari kekhawatiran masyarakat atas lonjakan inflasi yang tak terkendali akibat pelemahan nilai tukar mata uang Rial Iran. Ketidakstabilan kurs ini berdampak langsung pada meroketnya harga barang grosir dan eceran, yang mencekik daya beli masyarakat.

Goncangan ekonomi ini bahkan memaksa Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad-Reza Farzin, untuk menanggalkan jabatannya di tengah tekanan massa yang menuntut perbaikan sistem keuangan negara.

Eskalasi Massa dan Penanganan Otoritas

Intensitas protes semakin meningkat sejak 8 Januari, menyusul seruan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada Revolusi 1979. Demonstrasi yang semula berfokus pada isu ekonomi bergeser menjadi gerakan politik dengan slogan-slogan anti-pemerintah.

Pemerintah Iran merespons situasi ini dengan langkah tegas, termasuk memblokir akses internet secara nasional untuk membatasi koordinasi massa. 

Bentrokan fisik antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan dilaporkan pecah di sejumlah kota, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari kedua belah pihak.

Meski demikian, pada Senin (12/1), otoritas keamanan Iran mengklaim bahwa situasi di lapangan mulai berangsur kondusif dan terkendali. Namun, bayang-bayang sanksi internasional dan ancaman militer dari AS tetap menjadi tantangan berat bagi stabilitas Teheran ke depan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya