Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Trump Tersulut Lihat Thailand-Kamboja Ribut

Dhika Kusuma Winata
10/12/2025 19:22
Trump Tersulut Lihat Thailand-Kamboja Ribut
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet menunjukan deklarasi damai yang ditandatangani keduanya, disaksikan PM Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden AS Donald Trump, di sela KTT Ke-47 ASEAN, Minggu (26/10/2025).(Kantor Perdana Menteri Malaysia)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesiapan untuk kembali turun tangan sebagai juru damai dalam meredakan ketegangan konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja yang kembali memanas baru-baru ini.

"Saya benci mengatakan ini, satu lagi (konflik) Kamboja-Thailand, baru mulai hari ini. Besok saya harus menelepon, dan saya rasa mereka akan mengerti," ucap Trump menanggapi sengketa perbatasan yang telah memicu gelombang evakuasi massal itu.

Tercatat setengah juta warga Thailand dan Kamboja harus mengungsi dari perbatasan akibat sengketa perbatasan yang kembali pecah pada awal pekan ini. Trump menyebut sejumlah konflik yang pernah ikut diselesaikan. Dia yakin konflik tersebut juga bisa segera beres.

"Siapa lagi yang bisa bilang, saya cukup menelepon untuk menghentikan perang dua negara yang sangat kuat?" tambahnya.

Thailand dan Kamboja sudah lama berseteru soal batas yang digambar ulang sejak masa kolonial Prancis. Sengketa batas sepanjang 800 km di sekitar kompleks candi kuno yang diklaim kedua negara beberapa kali memicu bentrokan bersenjata.

Trump sebelumnya ikut menandatangani kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara pada Oktober lalu saat melakukan kunjungan ke Asia. Namun, kesepakatan itu rapuh dan ketegangan kembali mencuat. Thailand menangguhkan perjanjian itu sebulan kemudian.

Washington belum menjelaskan secara rinci bentuk intervensi yang akan ditempuh namun Trump memastikan dirinya akan kembali memainkan peran.

11 korban jiwa 

Bentrokan terbaru antara militer Kamboja dan Thailand pada Rabu (10/12) telah memaksa lebih dari setengah juta warga sipil dari kedua negara meninggalkan rumah mereka akibat meningkatnya eskalasi konflik bersenjata di wilayah perbatasan. 

Lebih dari 500 ribu penduduk dari kedua negara meninggalkan rumah mereka di wilayah yang menjadi lokasi baku tembak jet tempur, tank, dan drone. Insiden ini juga dilaporkan telah merenggut sedikitnya 11 korban jiwa yang terdiri atas prajurit Thailand dan warga sipil Kamboja.

Kamboja maupun Thailand saling tuding. Eskalasi terbaru pada Selasa meluas ke lima provinsi di masing-masing negara. Di Kota Samraong, Kamboja bagian barat laut, dentuman artileri dari arah kompleks candi tua yang terletak di zona sengketa terdengar jelas.

Bentrokan tersebut menjadi yang paling mematikan sejak pertempuran lima hari pada Juli yang menewaskan puluhan orang sebelum gencatan senjata rapuh disepakati berkat campur tangan Trump.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri, mengatakan pemindahan besar-besaran warga dilakukan karena ancaman keselamatan yang dinilai semakin nyata. 

"Lebih dari 400.000 warga telah kami pindahkan ke tempat aman. Kami ingin mencegah terulangnya serangan terhadap warga sipil seperti yang kami alami pada Juli 2025," ungkapnya.

Di pihak Kamboja, juru bicara Kementerian Pertahanan Maly Socheata menyampaikan sebanyak 101.229 warga dievakuasi ke lokasi perlindungan maupun rumah keluarga di lima provinsi sejak Selasa malam.

Warga berlindung di wihara

Warga O’Smach, Lay Non, 55 tahun, yang bekerja sebagai petugas keamanan kasino, meninggalkan kota itu bersama keluarga. Ia merasa lebih tenang berlindung di kompleks wihara dekat patung Buddha besar.

“Pertempuran kali ini lebih keras. Pesawat Thailand menjatuhkan bom,” tuturnya. 

Di Thailand, Pratuan Chuawong, petani yang tinggal kurang dari 500 meter dari perbatasan, kembali dihantui ketakutan serupa seperti pada pertempuran Juli lalu. Setelah insiden sebelumnya, warga desanya membangun bunker di area wihara untuk menghindari serangan artileri.

“Kali ini terasa lebih parah. Suara ledakan semakin keras tiap malam. Saya terus bertanya, apakah pelurunya akan jatuh di sini?" tuturnya.

Kamboja memutuskan menarik seluruh atletnya dari SEA Games Thailand 2025 setelah eskalasi konflik perbatasan dengan tuan rumah memicu korban jiwa dan eksodus massal warga.

Kamboja mundur dari SEA Games

Kamboja resmi menyatakan mundur dari seluruh cabang SEA Games setelah situasi keamanan di wilayah perbatasan kembali memanas.  Kepala Komite Olimpiade Nasional Kamboja (NOCC) Vath Chamroeun mengirim surat kepada Federasi SEA Games pada Rabu dengan menyebut keputusan tersebut diambil semata demi keselamatan atlet.

“Karena kekhawatiran serius dan permintaan keluarga para atlet untuk memulangkan kerabat mereka segera, NOCC harus menarik seluruh delegasi dan mengatur kepulangan mereka ke Kamboja demi alasan keamanan,” tulis Chamroeun dikutip dari AFP.

Sebelumnya, Kamboja hanya menarik diri dari delapan cabang olahraga. Namun bentrokan yang kembali pecah membuat pemerintah mengambil langkah penuh. Delegasi kecil Kamboja masih sempat mengikuti parade atlet pada upacara pembukaan yang dihadiri keluarga Kerajaan Thailand dan menampilkan idola K-pop asal Thailand, BamBam. (Ndf/I-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik