Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Anwar Ibrahim Dorong Thailand–Kamboja Redakan Ketegangan Perbatasan

Irvan Sihombing
10/12/2025 19:20
Anwar Ibrahim Dorong Thailand–Kamboja Redakan Ketegangan Perbatasan
PM Malaysia Anwar Ibrahim menghubungi Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet.(Telegram Anwar Ibrahim.)

PERDANA Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, meyakini bahwa upaya diplomasi berkelanjutan antara Thailand dan Kamboja akan mampu menahan eskalasi ketegangan di perbatasan kedua negara yang kembali memanas dalam beberapa waktu terakhir.

Anwar menyatakan bahwa komunikasi terus-menerus antara kedua belah pihak dapat mencegah terjadinya insiden yang lebih serius di wilayah perbatasan yang sempat memanas akibat insiden tembakan dan ledakan ranjau.

"Meskipun belum ada penyelesaian tuntas yang dicapai, upaya diplomasi yang berkelanjutan telah memastikan tidak terjadinya insiden yang lebih serius," ujar Anwar Ibrahim dalam keterangannya di Kuala Lumpur, Rabu (10/12/2025), 

Ia menyampaikan bahwa dirinya telah menghubungi Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet untuk membahas perkembangan situasi di wilayah perbatasan.

PM Malaysia Anwar Ibrahim, merupakan sosok cukup aktif menengahi ketegangan antara kedua negara bertetangga itu, terlebih dengan posisi PM Anwar sebagai Ketua ASEAN 2025.

Pada Oktober lalu, para pemimpin Kamboja dan Thailand telah menandatangani perjanjian damai di sela KTT Ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, sebagai komitmen kedua negara untuk menurunkan ketegangan

Dialog demi redakan ketegangan

Anwar menghargai keterbukaan dan kesiapan kedua pemimpin negara itu untuk melanjutkan dialog demi meredakan ketegangan dan menghindari kesalahpahaman yang dapat memperburuk kondisi.

Ia menegaskan Malaysia akan terus mendukung proses penyelesaian damai, dialog berdasarkan hukum internasional, serta kerja sama regional untuk menjaga stabilitas kawasan.

Ketegangan antara pasukan Thailand dan Kamboja kembali mencuat dalam beberapa waktu terakhir, dipicu oleh insiden-pelepasan tembakan dan ledakan ranjau di beberapa titik perbatasan.

Kejadian itu memicu saling tuduh dan pembatalan sebagian perjanjian gencatan senjata, serta meningkatnya penggunaan artileri dan serangan udara yang menyebabkan korban sipil dan pengungsian massal.

Bentrokan terbaru antara militer Kamboja dan Thailand pada Rabu (10/12) telah memaksa lebih dari setengah juta warga sipil dari kedua negara meninggalkan rumah mereka akibat meningkatnya eskalasi konflik bersenjata di wilayah perbatasan. 

Ratusan ribu warga dievakuasi

Lebih dari 500 ribu penduduk dari kedua negara meninggalkan rumah mereka di wilayah yang menjadi lokasi baku tembak jet tempur, tank, dan drone. Insiden ini juga dilaporkan telah merenggut sedikitnya 11 korban jiwa yang terdiri atas prajurit Thailand dan warga sipil Kamboja.

Kamboja maupun Thailand saling tuding. Eskalasi terbaru pada Selasa meluas ke lima provinsi di masing-masing negara. Di Kota Samraong, Kamboja bagian barat laut, dentuman artileri dari arah kompleks candi tua yang terletak di zona sengketa terdengar jelas.

Bentrokan tersebut menjadi yang paling mematikan sejak pertempuran lima hari pada Juli yang menewaskan puluhan orang sebelum gencatan senjata rapuh disepakati berkat campur tangan Trump. (Ant/I-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik