Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Pemimpin Eropa Desak Dukungan Ditingkatkan untuk Ukraina di Tengah Tekanan AS

Thalatie K Yani
09/12/2025 07:40
Pemimpin Eropa Desak Dukungan Ditingkatkan untuk Ukraina di Tengah Tekanan AS
Zelensky bertemu pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman di London membahas revisi proposal damai yang didorong AS. Ukraina menolak usulan penarikan pasukan dari wilayah timur.(Media Sosial X)

PARA pemimpin Eropa menegaskan “sekarang adalah momen kritis” untuk meningkatkan dukungan bagi Ukraina dan menekan Rusia mengakhiri perang. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertemu Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz di London, untuk membahas rancangan terbaru rencana perdamaian yang disusun pekan lalu oleh pejabat Ukraina dan Amerika Serikat.

Para pemimpin Eropa menyatakan masih diperlukan lebih banyak upaya guna memastikan jaminan keamanan bagi Ukraina. Sementara Washington mendorong Kyiv segera mencapai kesepakatan dengan Moskow. Zelensky mengatakan Ukraina akan menyerahkan revisi rencana tersebut kepada Amerika Serikat (AS).

Pekan lalu, pejabat Ukraina menghabiskan tiga hari di Florida bersama tim negosiator AS. Mereka menekan perubahan dalam proposal damai yang dianggap terlalu menguntungkan Rusia.

Usai pertemuan di London, Zelensky menyampaikan “poin yang paling pasti anti-Ukraina telah dihapus” dari draf awal November. Namun ia mengakui masih ada perbedaan signifikan terkait soal penyerahan wilayah, dan kompromi “belum ditemukan di sana”.

Usulan AS dan Penolakan Ukraina

AS mengusulkan agar Ukraina menarik seluruh pasukannya dari wilayah timur yang coba direbut Rusia, meski belum berhasil menguasainya sepenuhnya. Sebagai imbalan, Rusia akan menarik pasukannya dari area lain dan menghentikan pertempuran.

Opsi itu sulit diterima Zelensky, yang menolak memberi keuntungan kepada Moskow atas agresinya dan berulang kali memperingatkan pijakan Rusia di timur dapat digunakan untuk melancarkan serangan baru. “Orang Amerika pada prinsipnya cenderung mencari kompromi,” ujar Zelensky. 

Sikap Eropa dan Kekhawatiran atas Tekanan AS

Juru bicara kantor PM Inggris menyatakan para pemimpin sepakat “sekarang adalah momen kritis dan kita harus terus meningkatkan dukungan kepada Ukraina serta tekanan ekonomi terhadap Putin.” Pernyataan itu juga menekankan pentingnya pembicaraan damai yang dipimpin AS dan kebutuhan akan “jaminan keamanan yang kuat”.

Sebelum pertemuan, Starmer mengatakan diperlukan “jaminan keamanan yang tegas” dalam kesepakatan damai. Merz menegaskan dirinya “skeptis” terhadap beberapa detail rencana dari pihak AS, namun mengatakan pembahasan harus tetap dilakukan. Setelah pertemuan, Prancis menyatakan upaya untuk menyediakan jaminan keamanan bagi Ukraina akan “diintensifkan”.

Di Kyiv dan Eropa, terdapat kekhawatiran bahwa AS dapat mengurangi dukungan akibat lambatnya kemajuan negosiasi. “Kita tidak bisa bertahan tanpa Amerika, kita tidak bisa bertahan tanpa Eropa, dan karena itu kita harus membuat keputusan penting,” kata Zelensky.

Belum Ada Terobosan

Pembicaraan pekan lalu antara utusan AS Steve Witkoff dan Presiden Rusia Vladimir Putin tidak menghasilkan kemajuan. Diskusi lanjutan selama tiga hari antara kepala negosiator Ukraina Rustem Umerov dan AS di Miami hanya menghasilkan pernyataan samar tentang adanya “kemajuan”.

Namun pada Minggu, Trump menuduh Zelensky belum membaca draf kesepakatan yang telah direvisi. “Saya agak kecewa Presiden Zelensky belum membaca proposal tersebut,” katanya, seraya menyebut Putin “tidak keberatan” dengan isi rencana itu. Zelensky mengatakan ia berharap mendapat penjelasan langsung dari Umerov di London atau Brussels karena “beberapa isu hanya dapat dibahas secara langsung”.

Sementara pembicaraan berlangsung, pertempuran terus berlanjut. Antara Minggu dan Senin, 10 orang tewas dan 47 terluka akibat serangan Rusia di sembilan wilayah menggunakan drone, bom luncur, dan rudal.

Invasi besar-besaran Rusia dimulai pada Februari 2022. Sejak itu, ribuan warga sipil dan prajurit tewas atau terluka, sementara kota-kota Ukraina terus menjadi sasaran serangan hampir setiap malam. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya