Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Lembaga Jerman: Sedikitnya 100 Ribu Warga Gaza Tewas oleh Israel

Wisnu Arto Subari
27/11/2025 13:48
Lembaga Jerman: Sedikitnya 100 Ribu Warga Gaza Tewas oleh Israel
Anak Gaza.(Al Jazeera)

SEDIKITNYA 100.000 warga Palestina kemungkinan tewas dalam perang genosida Israel di Jalur Gaza, Palestina. Ini menurut studi baru yang dirilis oleh salah satu lembaga penelitian terkemuka Jerman, Institut Max Planck untuk Penelitian Demografi (MPIDR) di Jerman.

MPIDR menerbitkan laporan pada Selasa (25/11) yang menetapkan bahwa jumlah orang yang tewas di Jalur Gaza jauh lebih tinggi daripada angka yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Palestina.

MPIDR adalah lembaga penelitian demografi terbesar kedua di Eropa dan salah satu yang terbesar di dunia.

Studi tersebut memperkirakan bahwa 78.318 orang tewas di Gaza antara 7 Oktober 2023 dan akhir 2024 sebagai akibat langsung dari perang tersebut. 

Dalam analisis selanjutnya, para penulis menemukan bahwa pada 6 Oktober 2025, jumlah kematian terkait konflik di Gaza kemungkinan telah melampaui 100.000.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, setidaknya 69.733 orang tewas akibat perang brutal Israel di Gaza.

Laporan MPIDR mengutip Kementerian Kesehatan Gaza; Pusat Informasi Israel untuk Hak Asasi Manusia di Wilayah Pendudukan (B'Tselem); dua entitas Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk kantor koordinasi urusan kemanusiaan dan kelompok antarlembaga untuk estimasi angka kematian anak; dan Biro Pusat Statistik Palestina sebagai beberapa sumber publik yang digunakan untuk pengumpulan datanya.

"Angka harapan hidup di Gaza turun sebesar 44% pada 2023 dan 47% pada 2024 dibandingkan dengan angka harapan hidup tanpa perang. Ini setara dengan kehilangan 34,4 dan 36,4 tahun," tulis laporan tersebut.

Perang Israel di Gaza dimulai setelah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan.

Genosida

Selama dua tahun berikutnya, Israel menghancurkan daerah kantong tersebut hingga menjadi puing-puing dalam serangan. PBB, para pakar hak asasi manusia, pakar genosida, dan puluhan pemimpin dunia menyimpulkan itu sebagai genosida.

Laporan terbaru yang dirilis oleh konferensi PBB tentang perdagangan dan pembangunan menyatakan bahwa pengeboman di daerah kantong tersebut menciptakan jurang buatan manusia.

Meskipun jumlah korban tewas yang dilaporkan oleh Institut Max Planck jauh lebih tinggi daripada yang dicatat oleh Kementerian Kesehatan Palestina, studi tersebut tidak mempertimbangkan apakah serangan Israel tersebut merupakan genosida.

"Studi ini juga menemukan bahwa distribusi usia dan jenis kelamin kematian akibat kekerasan di Gaza antara 7 Oktober 2023 dan 31 Desember 2024 sangat mirip dengan pola demografi yang diamati dalam beberapa genosida yang didokumentasikan oleh Kelompok Antarbadan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Estimasi Kematian Anak (UN IGME)."

"Karena genosida adalah istilah hukum yang sangat spesifik, kriteria tambahan tertentu harus dipenuhi agar dapat diterapkan. Hal ini bukanlah fokus studi ini," demikian menurut laporan tersebut.

Namun, para peneliti merinci pemodelan statistik yang digunakan untuk menentukan sesuatu yang mereka sebut kematian terkait konflik di Gaza.

"Perkiraan kami tentang dampak perang terhadap harapan hidup di Gaza dan Palestina memang signifikan, tetapi mungkin hanya mewakili batas bawah dari beban mortalitas yang sebenarnya," ujar Ana C. Gomez-Ugarte, salah satu penulis laporan tersebut.

"Analisis kami berfokus secara eksklusif pada kematian langsung yang terkait konflik. Dampak tidak langsung perang, yang sering kali lebih besar dan lebih lama, tidak dikuantifikasi dalam pertimbangan kami," tambahnya.

Gencatan senjata yang ditengahi AS di Gaza dimulai pada 11 Oktober. Namun, Israel terus menyerang wilayah kantong tersebut, melanggar perjanjian tersebut.

Setidaknya 339 warga Palestina telah tewas akibat serangan Israel di tengah hampir 500 pelanggaran gencatan senjata, menurut otoritas Gaza. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik