Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Perdamaian Runtuh, Thailand-Kamboja saling Serang, Satu Tewas

Ferdian Ananda Majni
13/11/2025 21:00
Perdamaian Runtuh, Thailand-Kamboja saling Serang, Satu Tewas
Ilustrasi.(Al Jazeera)

DEKLARASI perdamaian yang diumumkan Presiden AS Donald Trump antara Thailand dan Kamboja berantakan. Pada Rabu (12/11) kedua negara saling menuduh terjadi serangan di wilayah perbatasan yang disengketakan. 

Bentrokan singkat itu menewaskan sedikitnya satu orang. Padahal, kesepakatan damai itu sempat dipuji sebagai terobosan diplomatik Trump di Asia Tenggara.

Insiden tersebut terjadi dua hari setelah Thailand mengumumkan penangguhan perjanjian perdamaian yang dicapai dengan dukungan Washington. Pengumuman itu menyusul ledakan ranjau darat yang melukai empat tentaranya di Provinsi Sisaket. Bangkok menuduh Kamboja menanam ranjau baru, tuduhan yang langsung dibantah Phnom Penh.

Kementerian Pertahanan Kamboja mengatakan pada Rabu (12/11) bahwa pasukan Thailand menembaki warga sipil di desa perbatasan di provinsi Banteay Meanchey, menewaskan satu orang dan melukai tiga lainnya. 

"Pasukan Thailand menembakkan senjata pada pukul 15.50 dan kembali melancarkan serangan dua jam kemudian," kata juru bicara kementerian, Letnan Jenderal Maly Socheata. Ia menuduh Thailand melakukan tindakan provokatif selama beberapa hari terakhir dengan tujuan memicu bentrokan.

Namun, militer Thailand membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Angkatan Darat, Mayor Jenderal Winthai Suwaree, mengatakan pasukan Kamboja justru lebih dulu melepaskan tembakan ke arah wilayah Thailand di provinsi Sa Kaeo. 

"Pasukan Thailand berlindung dan melepaskan tembakan peringatan ke arah tembakan sesuai dengan aturan pertempuran," jelasnya. Ia menambahkan bahwa tidak ada korban jiwa dari pihak Thailand dan insiden berlangsung sekitar 10 menit tersebut.

Bentrokan itu menandai ketegangan kembali setelah deklarasi damai yang ditandatangani di Kuala Lumpur pada akhir Oktober, dalam upacara yang dihadiri Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim. Kesepakatan itu mencakup komitmen untuk meredakan konflik, menarik senjata berat dari perbatasan, serta membersihkan ranjau darat.

Perdana Menteri Kamboja Hun Manet mengutuk keras bentrokan terbaru itu sebagai pelanggaran hukum internasional. "Saya menyerukan pihak Thailand untuk segera menghentikan penggunaan kekuatan terhadap warga sipil Kamboja yang tidak bersalah," tambahnya di Facebook sambil mendesak penyelidikan independen atas insiden tersebut.

Konflik itu merupakan lanjutan dari perselisihan perbatasan lama antara kedua negara yang berlangsung selama beberapa dekade. Pertempuran besar terakhir pada Juli menewaskan puluhan orang dan memaksa sekitar 200 ribu warga mengungsi. Perselisihan bermula dari peta peninggalan kolonial Prancis yang hingga kini belum diakui oleh Thailand.

Trump sebelumnya memuji keberhasilannya memediasi gencatan senjata sebagai bukti kemampuannya membawa perdamaian global. Bahkan Hun Manet sempat menominasikan Trump untuk Hadiah Nobel Perdamaian. (CNN/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik