Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Thailand Bantah Klaim Gencatan Senjata Trump dengan Kamboja, Empat Tentara Tewas

Khoerun Nadif Rahmat
14/12/2025 14:06
Thailand Bantah Klaim Gencatan Senjata Trump dengan Kamboja, Empat Tentara Tewas
Tentara Thailand.(Al Jazeera)

THAILAND membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump soal tercapainya gencatan senjata dengan Kamboja, setelah empat prajurit Thailand dilaporkan tewas dalam bentrokan terbaru di wilayah perbatasan kedua negara.

Pemerintah Thailand pada Sabtu (13/12) menyatakan empat tentaranya tewas dalam bentrokan bersenjata di perbatasan dengan Kamboja.

Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Trump mengeklaim telah tercapai kesepakatan gencatan senjata untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung beberapa hari.

Kekerasan antara dua negara Asia Tenggara itu berakar dari sengketa lama terkait penetapan batas wilayah era kolonial sepanjang sekitar 800 kilometer. Konflik tersebut memaksa sekitar setengah juta warga di kedua sisi perbatasan mengungsi. Sedikitnya 24 orang dilaporkan tewas sepanjang pekan ini.

Kementerian Pertahanan Thailand menyebut empat prajuritnya tewas pada Sabtu di area perbatasan. Kedua pihak saling menyalahkan atas pecahnya kembali pertempuran, sebelum Trump menyatakan telah dicapai gencatan senjata.

Namun, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menegaskan klaim tersebut tidak sesuai dengan pembicaraan yang ia lakukan dengan Trump. 

Dikutip dari Daily Sabah, ia mengatakan Trump Tidak menyebutkan apakah kita harus melakukan gencatan senjata dalam percakapan telepon pada Jumat. Menurut Anutin, kedua pemimpin tidak membahas soal itu.

Sebelumnya, Trump menyebut percakapannya dengan Anutin dan Perdana Menteri Kamboja Hun Manet sebagai pembicaraan yang sangat baik. 

Melalui platform Truth Social, Trump menulis bahwa kedua negara sepakat untuk menghentikan seluruh tembakan secara efektif mulai malam ini dan kembali pada perjanjian perdamaian awal yang disepakati pada Juli.

Amerika Serikat, Tiongkok, dan Malaysia selaku ketua ASEAN sebelumnya memediasi gencatan senjata pada Juli setelah bentrokan awal selama lima hari. 

Pada Oktober, Trump juga mendukung deklarasi lanjutan antara Thailand dan Kamboja yang memperpanjang gencatan senjata tersebut. Namun Thailand menangguhkan kesepakatan itu sebulan kemudian setelah sejumlah prajuritnya terluka akibat ranjau darat di perbatasan.

Di Thailand, seorang pengungsi, Kanyapat Saopria, mengaku tidak lagi percaya pada upaya damai. "Saya tidak percaya Kamboja lagi. Upaya perdamaian sebelumnya tidak berhasil. Saya tidak tahu apakah yang ini juga akan berhasil," katanya.

Sementara itu, di sisi Kamboja, seorang pengungsi bernama Vy Rina menyatakan kesedihannya karena pertempuran belum berhenti meski ada intervensi Trump. "Saya tidak senang dengan tindakan brutal," ujarnya.

Bangkok dan Phnom Penh juga saling menuduh melakukan serangan terhadap warga sipil. Militer Thailand melaporkan enam orang terluka akibat roket Kamboja pada Sabtu (13/12).

Sebaliknya, Menteri Informasi Kamboja Neth Pheaktra menuding pasukan Thailand memperluas serangan hingga mencakup infrastruktur sipil dan warga sipil Kamboja.

Seorang juru bicara angkatan laut Thailand mengatakan angkatan udara Thailand berhasil menghancurkan dua jembatan Kamboja yang digunakan untuk mengangkut senjata ke zona konflik.

Di kamp pengungsian di Buriram, sejumlah warga mengatakan bahwa kerabat mereka di dekat perbatasan melaporkan pertempuran masih berlangsung. 

Anutin menegaskan Thailand akan, "Terus melakukan aksi militer sampai kami merasa tidak ada lagi bahaya dan ancaman terhadap wilayah dan rakyat kami."

Ia menambahkan, pihak yang melanggar kesepakatan perlu memperbaiki situasi. Sementara itu, Hun Manet menegaskan Kamboja selalu berpegang pada cara damai dalam penyelesaian sengketa. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya