Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Serangan Israel Tewaskan Dua Orang di Khan Younis, Hamas: Langgar Gencatan Senjata

Ferdian Ananda Majni
11/11/2025 09:56
Serangan Israel Tewaskan Dua Orang di Khan Younis, Hamas: Langgar Gencatan Senjata
Warga Gaza mengungsi.(Al Jazeera)

SEDIKITNYA dua warga Palestina, termasuk seorang anak, tewas akibat serangan pesawat nirawak Israel di wilayah timur Khan Younis, Gaza selatan.

Kelompok Hamas mengecam tindakan itu sebagai bagian dari pelanggaran harian dan berkelanjutan oleh Israel sejak diberlakukan gencatan senjata pada bulan lalu. 

Dalam pernyataannya yang dirilis di Telegram, Hamas menyebut serangan Israel sejak 10 Oktober menewaskan 271 orang atau lebih dari 90% di antaranya warga sipil, serta melukai 622 lainnya.

Militer Israel menanggapi dengan menyatakan bahwa warga Palestina yang tewas dalam serangan terbaru merupakan ancaman langsung terhadap pasukan mereka.

Penghancuran Rumah di Zona Penarikan

Pasukan Israel dilaporkan terus menghancurkan rumah-rumah di dalam wilayah yang disebut garis kuning, yaitu batas penarikan sementara sesuai kesepakatan gencatan senjata.

Wali Kota Bani Suheila, Hamdan Radwan, mengatakan operasi pembongkaran di Khan Younis bagian timur semakin intensif. 

"Setiap bangunan atau rumah dua lantai menjadi sasaran," ujarnya.

Koresponden Al Jazeera juga melaporkan ledakan di sejumlah blok pemukiman di Gaza tengah. Citra satelit dan rekaman di lapangan menunjukkan sebagian besar permukiman kini berubah menjadi puing-puing.

Bantuan Kemanusiaan masih Terbatas

Israel terus membatasi arus bantuan masuk ke Gaza yang dianggap melanggar ketentuan utama gencatan senjata. Hamas menuduh Israel menolak mengizinkan masuknya 600 truk bantuan harian seperti yang dijanjikan.

Pada Minggu lalu, hanya 270 truk yang berhasil masuk melalui perlintasan Karem Abu Salem (Kerem Shalom) dan al-Karara (Kissufuim). Bantuan tersebut terdiri dari 126 truk kemanusiaan, 127 truk barang komersial, 10 truk bahan bakar, dan tujuh truk gas untuk memasak.

Meskipun ada peningkatan sejak gencatan senjata diberlakukan, warga Gaza masih menghadapi kelangkaan makanan, obat-obatan, air bersih, dan kebutuhan dasar lain. Banyak yang kehilangan tempat tinggal setelah dua tahun pengeboman tanpa henti.

Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperkirakan antara 500-600 truk bantuan dibutuhkan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan minimum di Gaza. Namun, pembatasan Israel membuat distribusi menjadi sulit.

John Whyte, wakil direktur senior UNRWA untuk operasi Gaza, mengatakan kepada media Irlandia The Journal bahwa Israel tidak mengizinkan apa pun milik UNRWA masuk.

"Mereka mengharuskan kami menyerahkan pasokan kami kepada badan lain dan mencopot logo UNRWA sebelum menyeberang. Hal ini menyebabkan penundaan logistik yang sangat besar," katanya.

Larangan terhadap UNRWA diberlakukan Israel sejak awal tahun, memutus salah satu jalur utama bantuan bagi pengungsi Palestina.

Melaporkan dari Deir el-Balah, jurnalis Al Jazeera, Hind Khoudary, menyebut banyak truk yang masuk justru membawa barang komersial nonesensial. 

"Di Gaza utara, tempat banyak keluarga kembali, PBB melaporkan tidak ada bantuan yang masuk selama 75 hari. Orang-orang bilang mereka tidur dalam keadaan lapar. Mereka mengantre berjam-jam untuk air dan tidak mampu membeli daging atau telur," tambahnya.

Pertukaran Jenazah dan Rehabilitasi Rumah Sakit

Sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata, Israel pada Senin menyerahkan 15 jenazah warga Palestina kepada pihak berwenang di Gaza. 

Palang Merah memindahkan jenazah-jenazah itu ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Ini menjadi pertukaran jenazah ke-12 sejak kesepakatan diberlakukan, dengan total 315 jenazah telah dikembalikan. 

Namun, hanya 89 yang berhasil diidentifikasi karena kondisi pembusukan dan minimnya peralatan medis.

Hamas mengatakan telah menyerahkan 20 tawanan hidup dalam waktu 72 jam meskipun kondisi lapangan sangat sulit serta memberikan koordinat jenazah lain di wilayah yang dikuasai Israel.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan Rumah Sakit al-Kheir di Khan Younis kembali beroperasi setelah berbulan-bulan tutup akibat serangan. 

WHO membantu memulihkan listrik, air, sanitasi dan peralatan medis. Selain itu, pusat stabilisasi gizi baru dengan 20 tempat tidur dibuka di rumah sakit tersebut, menjadikan total fasilitas serupa di Gaza menjadi delapan. 

Fasilitas-fasilitas ini menangani anak-anak dengan malanutrisi parah yang semakin meluas di tengah blokade Israel. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya