Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PEJABAT FBI kini berada di bawah sorotan, setelah memenuhi permintaan Departemen Kehakiman untuk memberikan rincian tentang ribuan karyawan yang terlibat dalam penyelidikan terkait kerusuhan Capitol AS pada 6 Januari 2021.
Tindakan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan karyawan FBI yang khawatir upaya ini bertujuan menyusun daftar personel yang dapat dipecat pemerintahan Donald Trump.
Wakil Jaksa Agung sementara, Emil Bove, mengeluarkan memo pada Jumat lalu, memerintahkan pejabat FBI untuk menyerahkan informasi mengenai lebih dari 5.000 karyawan, termasuk nomor ID, jabatan, dan peran mereka dalam penyelidikan tersebut. Namun, nama-nama agen tidak diserahkan. Dengan lebih dari 13.000 agen dan 38.000 total karyawan di FBI, permintaan ini mengundang perhatian besar dari kalangan internal biro.
Lebih lanjut, Bove memberikan tenggat waktu yang ketat untuk penyerahan data tersebut, yang memicu kekhawatiran adanya pemecatan massal terhadap pejabat yang terlibat dalam penyelidikan yang dianggap sensitif bagi pemerintahan Trump. Selain itu, pemecatan lebih dari delapan pejabat senior FBI sebelumnya, termasuk mereka yang mengawasi penyelidikan siber dan kriminal, semakin memperkuat ketegangan di kalangan staf FBI.
Sebagai reaksi terhadap permintaan ini, beberapa karyawan FBI mengajukan gugatan terhadap Departemen Kehakiman, menuduh tindakan ini melanggar Konstitusi dan hak privasi mereka. Mereka berpendapat survei yang meminta agen mengisi rincian peran mereka dalam penyelidikan 6 Januari bertujuan "membersihkan" personel biro. Gugatan ini dilayangkan dengan tujuan agar hakim federal memblokir upaya pemerintahan Trump untuk mempublikasikan atau merilis informasi yang terkandung dalam survei tersebut.
Survei yang harus diisi agen FBI berisi pertanyaan tentang keterlibatan mereka dalam penangkapan, penyelidikan dewan juri besar, dan kesaksian di pengadilan terkait kerusuhan Capitol. Para agen menilai tindakan ini sebagai upaya balas dendam politik yang bertujuan mengintimidasi mereka dan menghalangi laporan mengenai kesalahan atau penyalahgunaan yang dilakukan Trump dan para agennya.
Upaya pemecatan yang terfokus pada agen yang terlibat dalam penyelidikan Trump tampaknya mendapat perlawanan kuat dari sejumlah petugas FBI. Beberapa agen, termasuk yang bekerja dengan pejabat pemerintahan baru, mendukung perubahan budaya di FBI yang dijanjikan oleh Kash Patel, calon direktur FBI dari kubu Trump.
Hal ini mendorong kelompok yang mewakili agen saat ini dan mantan agen untuk berkomunikasi dengan anggota Kongres Partai Republik, meminta Gedung Putih untuk memastikan agen tidak akan menghadapi pembalasan politik atas tugas yang mereka emban.
Meskipun ada resistensi yang signifikan dari agen FBI, memo Bove pada Jumat, menjelaskan Departemen Kehakiman akan memulai proses peninjauan untuk menentukan apakah tindakan lebih lanjut terhadap personel diperlukan setelah informasi yang diminta diterima.
Perlawanan terhadap pemecatan ini semakin memanas, dengan beberapa pejabat FBI yang tidak terlibat langsung dalam peristiwa kerusuhan Capitol mengungkapkan keberatan mereka terhadap tindakan keras yang diambil terhadap agen yang tidak memiliki pilihan dalam tugas mereka. Bahkan Kepala FBI New York, James Dennehy, memberikan dukungan penuh kepada stafnya, mengingatkan mereka untuk tidak mengundurkan diri secara sukarela.
Di tengah ketegangan ini, muncul ancaman dari pengacara FBI yang berjanji akan membela hak-hak agen yang terancam pemecatan melalui jalur hukum. Mereka menegaskan bahwa publikasi nama agen yang terlibat akan membahayakan keselamatan mereka, dengan risiko "doxing" dan serangan fisik.
Pembersihan personel yang diupayakan pemerintahan Trump terhadap FBI menandai babak baru dalam ketegangan politik yang telah berlangsung lama di lembaga penegak hukum ini. Ketidaksetujuan terhadap cara FBI menangani kasus kerusuhan Capitol memicu perubahan yang signifikan, dengan beberapa agen mempertanyakan arah lembaga ini di bawah kepemimpinan baru.
Ketegangan ini semakin memuncak seiring dengan upaya untuk membersihkan pejabat FBI yang terlibat dalam penyelidikan terkait Trump, yang berpotensi memperburuk perpecahan di tubuh lembaga tersebut. Meskipun demikian, para agen FBI yang terlibat menunjukkan tekad untuk bertahan, menjaga integritas lembaga, dan mempertahankan independensi mereka dari tekanan politik yang semakin besar. (CNN/Z-3)
SUATU dokumen FBI pada 2020 yang termasuk dalam berkas Epstein menuduh bahwa miliarder paedofil Jeffrey Epstein dilatih sebagai mata-mata di bawah mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak.
MENURUT dokumen FBI tahun 2020, Jeffrey Epstein dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak dan dilatih sebagai mata-mata di bawah arahannya.
Hakim AS Alex Tostrud mencabut perintah darurat yang mewajibkan penyelidik federal menjaga bukti penembakan Alex Pretti.
Terjadi penembakan di Arivaca, Arizona melibatkan agen Patroli Perbatasan AS. FBI dan Sheriff Pima selidiki penggunaan kekuatan setelah satu korban dinyatakan kritis.
FBI menangkap Ryan Wedding, eks atlet Olimpiade Kanada yang jadi gembong narkoba. Diduga pimpin kartel lintas negara dengan omzet Rp15 triliun per tahun.
Departemen Kehakiman AS di bawah Pam Bondi mengambil langkah ekstrem dengan menyita perangkat wartawan Hannah Natanson terkait penyelidikan kebocoran dokumen rahasia.
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum tegaskan bantuan ke Kuba berlanjut meski ada sanksi AS. Sebanyak 814 ton makanan dikirim via kapal perang sebagai bentuk solidaritas.
Kim Jong-un sinyalkan penguatan nuklir dan ICBM pada Kongres Partai ke-9. Pyongyang fokus pada pembangunan militer luar biasa dan konsolidasi kekuasaan absolut.
Iran menolak pembatasan misil dari AS meski siap lanjut negosiasi. Teheran menegaskan program rudal tak bisa ditawar di tengah tekanan Israel.
Green Day tampil memeriahkan acara pembukaan Super Bowl LX di Levi’s Stadium, California, Minggu (8/2).
INDONESIA mendesak Amerika Serikat (AS) dan Rusia segera melanjutkan perundingan untuk mencegah perlombaan senjata nuklir baru.
KETEGANGAN Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah Teheran memperingatkan akan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah jika Donald Trump melancarkan aksi militer
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved