Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Palestina Mahmoud Abbas meyerukan kepada masyarakat internasional, khususnya Amerika Serikat (AS). Dia meminta para sekutu Israel menghentikan pengiriman senjata guna mengakhiri pertumpahan darah di Tepi Barat dan Gaza.
Abbas, yang berbicara pada pertemuan tahunan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), secara khusus menyoroti AS karena pengiriman senjatanya dan veto resolusi Dewan Keamanan yang mengecam perang Israel yang berlangsung hampir setahun melawan militan Hamas di Gaza.
"Hentikan kejahatan ini. Hentikan sekarang. Hentikan pembunuhan anak-anak dan wanita. Hentikan genosida. Hentikan pengiriman senjata ke Israel. Kegilaan ini tidak boleh berlanjut. Seluruh dunia bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada rakyat kami di Gaza dan Tepi Barat," dilansir VoA, Jumat (27/8).
Baca juga : AS Desak Warganya Tinggalkan Libanon
Ia mengatakan AS, dengan menggunakan hak vetonya dalam pemungutan suara di Dewan Keamanan, secara efektif mengatakan, “Tidak, pertempuran akan terus berlanjut."
Abbas mengatakan AS memberikan Israel senjata mematikan yang digunakannya untuk membunuh ribuan warga sipil, anak-anak, dan wanita yang tidak bersalah. Hal ini semakin mendorong Israel untuk terus melakukan agresi, dan berpendapat bahwa Israel tidak layak menjadi anggota PBB.
Abbas mengatakan bahwa ketika perang berakhir, Otoritas Palestina harus menjalankan kontrol penuh atas Jalur Gaza, sebuah sikap yang ditolak Israel.
Meski tidak menyebut Hamas, Abbas berkata, “Sejak hari pertama, saya menekankan perlunya segera menghentikan perang. Saya mengutuk pembunuhan warga sipil, terlepas dari siapa mereka dan terlepas dari pihak mana mereka berada atau dari siapa pun mereka berasal. Saya menuntut pembebasan tahanan dan mereka yang ditahan oleh kedua belah pihak.”
Pernyataannya disampaikan seminggu setelah ia menyerukan konferensi perdamaian di Madrid yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Pembicaraan yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata telah menemui jalan buntu selama berbulan-bulan. (I-2)
Penasihat kebijakan luar negeri Trump menyebut AS tidak berkepentingan memperpanjang konflik dengan Iran lebih dari tiga bulan.
FASILITAS gas di Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan selama perang Iran Amerika Serikat dan Israel, di tengah perubahan sikap Presiden AS Donald Trump
EKSKALASI perang Iran, Amerika Serikat, dan Israel di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel, Selasa (24/3).
Saat itu, Prabowo menegaskan bahwa dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sekaligus mendorong solusi dua negara (two-state solution).
Ia menambahkan bahwa volume tersebut setara dengan pasokan selama sekitar 10 hari hingga dua minggu, tergantung pada metode perhitungan.
Ia memperingatkan ambisi Israel menggulingkan pemerintahan Iran akan memerlukan kampanye darat berkepanjangan.
Penutupan dilakukan setelah serbuan Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran, dengan alasan arahan Komando Front Dalam Negeri melarang adanya kerumunan besar.
Pejabat Hamas Bassem Naim kecam utusan Board of Peace, Nickolay Mladenov, karena syaratkan pelucutan senjata sebagai imbalan rekonstruksi Gaza dan penarikan pasukan.
Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem menyampaikan bahwa kelompok itu akan melanjutkan apa yang dia gambarkan sebagai "pertempuran defensif" melawan Israel.
Komandan Polisi Dubai Dhahi Khalfan desak negara Teluk perkuat hubungan dengan Israel dan Barat, serta kritik negara Arab lain di tengah perang regional melawan Iran.
Ketua Parlemen Iran Qalibaf mengancam bakal menyerang infrastruktur vital negara kawasan jika terbukti membantu musuh menduduki salah satu pulau strategis milik Iran.
MENTERI Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak akan maju ke meja perundingan dan memilih melanjutkan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel di tengah konflik
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved