Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
RIBUAN pengungsi Jalur Gaza, Palestina, pulang ke rumah pada Jumat (24/11) ketika gencatan senjata empat hari Israel-Hamas dimulai. Tampak sebagian mereka menggendong anak-anak atau hewan peliharaan. Barang-barang mereka dimasukkan ke gerobak keledai atau atap mobil.
Hiruk pikuk perang digantikan oleh klakson kemacetan lalu lintas dan sirene ambulans yang menerobos kerumunan orang yang keluar dari rumah sakit dan sekolah tempat mereka mengungsi. Selama hampir tujuh minggu, serangan Israel di Jalur Gaza terus berlanjut.
Namun pada Jumat pagi, tidak ada lagi tembakan yang terdengar di Khan Yunis, selatan wilayah Palestina. Hayat al-Muammar termasuk di antara mereka yang bergegas mengambil keuntungan dari perjanjian gencatan senjata yang menyatakan sandera dari Israel akan dibebaskan dengan imbalan tahanan Palestina.
Baca juga: Inggris Gandakan Bantuan Kemanusiaan ke Jalur Gaza
"Saya akan pulang," kata pria berusia 50 tahun yang berlindung di suatu sekolah itu. "Kami melarikan diri dari kematian, kehancuran, dan segalanya," katanya kepada AFP.
"Saya masih tidak mengerti apa yang terjadi kepada kami? Mengapa mereka melakukan ini kepada kami?" dia bertanya.
Baca juga: Laut Gaza Punya Cadangan Gas 1 Triliun Kaki Kubik
Kehidupan warga Gaza telah berubah drastis sejak kelompok militan Hamas, yang menguasai wilayah Palestina, melancarkan serangan yang belum pernah terjadi terhadap Israel pada 7 Oktober. Kata PBB, sekitar 1,7 juta dari 2,4 juta penduduk wilayah tersebut diperkirakan mengungsi dan lebih dari separuh rumah rusak atau hancur.
Banyak pria, wanita, dan anak-anak melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, kereta, atau tuk-tuk dengan sedikit barang yang mereka bawa ketika perang dimulai. Seorang wanita menggendong kucingnya di jalanan.
Sebagian besar wilayah Gaza telah rata dengan tanah akibat ribuan serangan udara. Wilayah tersebut menghadapi kekurangan makanan, air, dan bahan bakar.
Pesawat-pesawat tempur Israel menjatuhkan selebaran yang memperingatkan orang-orang di wilayah selatan agar tidak kembali ke wilayah utara. Sebelumnya, hal itu diberitahukan kepada warga Palestina untuk pergi demi keselamatan mereka.
"Perang belum berakhir," mereka membaca isi selebaran itu. "Kembali ke utara dilarang dan sangat berbahaya!!!"
Meski begitu, Ghadi Salamat sempat mempertimbangkan untuk kembali dari selatan. "Kami muak berada di sini. Tidak ada kehidupan. Kami berharap bisa kembali ke Kota Gaza, meski harus mendirikan tenda di reruntuhan," ujarnya.
Namun Abu Qussai tidak berniat kembali. "Itu kota hantu. Saat kami pergi, hanya ada puing-puing yang tersisa," katanya.
"Untuk apa aku pergi ke sana? Untuk melihat rumahku yang hancur? Untuk melihat mayat sepupu-sepupuku yang sudah meninggal?" Dia bertanya.
Khaled al-Halabi mengatakan dia ingin melihat rumahnya di Gaza utara tetapi tidak berencana mengambil risiko dalam perjalanan pulang. Setidaknya dengan gencatan senjata, "Kita akhirnya bisa bernapas setelah 48 hari," katanya sambil menyambut kedatangan truk bantuan dari negara tetangga Mesir.
Raed Saqer, yang mengungsi di Rafah, berharap janji peningkatan bantuan akan menjadi kenyataan. "Kami memerlukan gencatan senjata ini untuk merawat korban luka, sehingga masyarakat dapat sedikit pulih, karena pengungsi dari wilayah utara mengalami tragedi yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata," katanya.
"Kami berharap ini langkah pertama menuju gencatan senjata yang pasti," tambahnya. (Z-2)
Presiden AS Donald Trump tegas menolak rencana aneksasi Tepi Barat oleh Israel. Kebijakan ini memicu kecaman keras dari PBB, Indonesia, hingga negara Arab.
MENTERI Luar Negeri Sugiono menegaskan keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) merupakan bagian dari komitmen aktif pemerintah untuk mendorong perdamaian di Palestina.
SEKRETARIS Jenderal DPP PKS, Muhammad Kholid, mengecam keras serangan militer Israel ke tenda pengungsian di selatan Jalur Gaza yang terjadi pada Sabtu (31/1/2026).
BADAN pertahanan sipil Gaza melaporkan sedikitnya 32 orang tewas akibat serangan udara Israel yang menghantam sejumlah lokasi di Jalur Gaza pada Sabtu (31/1).
PEMERINTAH Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengecam keras rangkaian serangan udara Israel di Jalur Gaza, Palestina, yang terus berulang.
PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) belum menerima informasi soal pembukaan kembali penyeberangan Rafah di perbatasan Gaza-Mesir dan masih berkomunikasi dengan otoritas Israel.
AS dinilai tidak lagi memiliki kapasitas sebagai mediator yang kredibel dalam forum Board of Peace (BoP) karena dianggap terlalu berpihak pada kepentingan Israel.
Iran tingkatkan arsenal rudal balistik dengan bantuan Rusia. Rudal Kheibar Shekan kini mampu jangkau seluruh wilayah Israel, memicu ancaman konflik terbuka.
PEMERINTAH Jerman mengecam keras langkah Kabinet Israel yang memperluas otoritas sipil di Tepi Barat.
GELOMBANG kecaman internasional kembali menghantam Israel setelah pemerintahnya mengesahkan aneksasi ilegal di Tepi Barat.
Kunjungan Presiden Israel Isaac Herzog ke Australia berujung kericuhan. Polisi tangkap 27 demonstran di Sydney di tengah tuduhan kekerasan aparat.
Langkah baru Israel perketat kontrol di Tepi Barat menuai kecaman global. Kebijakan ini dinilai melanggar hukum internasional dan mematikan solusi dua negara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved