Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
KANADA sedang mengalami musim kebakaran hutan yang hebat. Masyarakat adat setempat atau yang dikenal First Nations, mengatakan bahwa sudah waktunya bagi mereka untuk diberikan peran yang lebih besar. Mereka ingin adanya pendekatan negara dalam hal pengelolaan kebakaran dan hutan.
"Para pemukim membawa visi untuk menghilangkan api dari lanskap ke Kanada. Namun, ketika Anda menghilangkan api, lanskap ini menjadi ditumbuhi api,” kata Amy Cardinal Christianson, spesialis kebakaran masyarakat adat di Parks Canada dari wilayah Treaty 8 Metis di Alberta, kepada Al Jazeera Rabu (5/7).
"Masyarakat adat telah disingkirkan dari pembicaraan mengenai pengelolaan kebakaran. Kami ingin dapat mengelola lahan dan menggunakan api di wilayah kami,” sebutnya.
Baca juga: Kebakaran Kanada Terus Membara, Mutu Udara AS Membaik
Namun, mereka yang mencoba melakukan hal tersebut menyebut adanya banyak kendala, mulai dari ketidakpedulian hingga kesulitan mendapatkan dana dan peralatan. Akses terhadap bantuan dari pemerintah federal dan provinsi juga dapat bervariasi di setiap wilayah, menciptakan sistem tambal sulam di mana masyarakat adat terkadang terabaikan.
Namun, ketika Kanada berjuang untuk mengatasi kebakaran hutan yang semakin meluas dan meningkat intensitasnya akibat perubahan iklim, Kardinal Christianson mengatakan bahwa memberdayakan masyarakat adat merupakan suatu keharusan.
Baca juga: Asap Karhutla Kanada Buat Mutu Udara New York Paling Buruk di Dunia
"Kanada telah menghadapi beberapa musim kebakaran yang buruk, sehingga masyarakat mencari solusi baru,” katanya.
"Namun, jika kita, sebagai masyarakat, telah memutuskan bahwa kita ingin api kembali ke lahan, maka masuk akal, dan ini adalah masalah keadilan, bagi masyarakat adat untuk memimpin proses tersebut,” tambahnya.
Selama beberapa minggu terakhir, kebakaran di Kanada telah menarik perhatian dunia. Bahkan awan asap dan abu menyelimuti kota-kota di seluruh Amerika Utara. Kondisi itu, membuat lebih dari 100 juta orang berada di bawah peringatan kualitas udara. (Aljazeera/Fer/Z-7)
Tragedi berdarah terjadi di Tumbler Ridge, Kanada. Sembilan orang tewas dalam penembakan di sekolah dan sebuah rumah. Pelaku diduga mengakhiri hidupnya sendiri.
Hubungan antara Kanada dan AS saat ini sedang mendingin setelah Presiden Donald Trump memberlakukan tarif pada barang-barang Kanada.
Sekelompok aktivis berpakaian ala Robin Hood merampok toko Rachelle Béry di Montreal. Hasil curian dibagikan gratis sebagai bentuk protes atas inflasi pangan.
FBI menangkap Ryan Wedding, eks atlet Olimpiade Kanada yang jadi gembong narkoba. Diduga pimpin kartel lintas negara dengan omzet Rp15 triliun per tahun.
Donald Trump menyerang PM Kanada Mark Carney di Davos, menyebut Kanada hidup dari "pemberian" AS.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Rabu (21/1) bahwa beberapa wilayah di Eropa tidak lagi dapat dikenali. Benua itu disebutnya tidak menuju ke jalan yang benar.
Awal 2026 yang seharusnya berada dalam periode musim hujan justru ditandai dengan lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terutama di ekosistem gambut.
BMKG Stasiun Pekanbaru mendeteksi lonjakan signifikan titik panas di Provinsi Riau. Hingga Kamis pukul 07.00 WIB, jumlah hotspot tercatat mencapai 160 titik
Patroli pencegahan telah mulai digencarkan, khususnya di Provinsi Riau, untuk mengantisipasi peningkatan kerawanan karhutla.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Gelombang panas ekstrem melanda tenggara Australia. Enam kebakaran besar berkobar di Victoria, suhu tembus 48,9 derajat Celcius.
Cile dilanda krisis kebakaran hutan hebat. 20 orang tewas dan kota-kota di wilayah selatan hangus. Warga sebut tragedi ini lebih buruk dari tsunami.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved