Jumat 04 Maret 2022, 14:47 WIB

Dorong Perdamaian, Utusan ASEAN akan Kunjungi Myanmar

Nur Aivanni | Internasional
Dorong Perdamaian, Utusan ASEAN akan Kunjungi Myanmar

AFP
Utusan khusus ASEAN Prak Sokhonn saat menjadi pembicara.

 

UTUSAN khusus ASEAN akan mengunjungi Myanmar pada 20-23 Maret, sebagai upaya memulai proses perdamaian di negara yang dilanda konflik akibat kudeta militer setahun lalu.

Hal itu diungkapkan seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Kamboja. Adapun Prak Sokhonn, Menteri Luar Negeri Kamboja, sekaligus Ketua ASEAN saat ini, mendesak para jenderal yang berkuasa di Myanmar untuk mengizinkannya bertemu dengan semua pemangku kepentingan di sana, termasuk pihak lawan.

Baca juga: Pakar HAM PBB: Tiongkok-Rusia Pasok Senjata untuk Junta Myanmar

Menyusul tindakan keras militer yang mematikan selama berbulan-bulan, aksi mogok dan protes terhadap kudeta, pertempuran sengit telah berkecamuk di beberapa wilayah Myanmar. Dalam hal ini, antara pasukan militer dan militan yang bersekutu dengan pemerintah pimpinian Aung San Suu Kyi.

Lewat pesan teks, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Kamboja Chum Sounry menyebut agenda perjalanan Prak Sokhonn masih diatur. Namun, dirinya mengonfirmasi laporan bahwa jadwal tentatif telah ditetapkan pada 20-23 Maret.

Chum Sounry menolak untuk memberikan rincian tentang pihak yang bakal ditemui Utusan Khusus ASEAN. Diketahui, upaya Utusan ASEAN sebelumnya untuk bertemu pemimpin yang digulingkan, yakni Aung San Suu Kyi, ternyata sia-sia.

Baca juga: Junta Myanmar Tolak Permintaan Utusan Khusus ASEAN untuk Bertemu Lawannya

Sejauh ini, juru bicara militer Myanmar enggan memberikan komentar terkat rencana pertemuan tersebut. Tahun lalu, junta menyetujui lima poin konsensus ASEAN untuk mengakhiri kerusuhan di Myanmar

Termasuk, menghentikan permusuhan, mengizinkan akses bantuan kemanusiaan dan mendukung proses perdamaian yang inklusif. Lebih dari 300 ribu warga Myanmar telah mengungsi akibat konflik pascakudeta militer.

PBB melaporkan ribuan warga sipil ditangkap, dipukuli, disiksa, hingga dibunuh. Pemerintah militer menuduh media Barat bias dalam melaporkan peristiwa di Myanmar. Militer mengklaim berusaha melindungi rakyatnya dari "teroris" dan sudah membebaskan lebih dari 48 ribu demonstran.(StraitsTimes/OL-11)

Baca Juga

Dok. Biro Pers Sekretariat Presiden

Melihat langsung Dampak Perang, Raut Sedih Presiden Tergambar di Irpin

👤Andhika Prasetyo 🕔Rabu 29 Juni 2022, 18:19 WIB
"Sangat menyedihkan sekali melihat banyak rumah-rumah yang rusak kemudian juga infrastruktur yang rusak,” ucap Presiden...
ANTARA/Galih Pradipta

Kemenlu Pelajari Laporan Belasan WNI Meninggal di Tahanan Malaysia

👤Cahya Mulyana 🕔Rabu 29 Juni 2022, 18:10 WIB
Seluruh data tersebut akan ditelusuri dan dimintakan penjelasan dari otoritas di...
AFP/Layanan Pers Layanan Darurat Negara Ukraina.

Zelensky: Rusia tidak Punya Hak Menjadi Anggota DK PBB

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 29 Juni 2022, 17:30 WIB
Di sektor pertanian, invasi Rusia menyebabkan kerusakan dengan total kerugian sebesar US$4,29...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya