Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
LIBANON menangkap setidaknya 17 jaringan mata-mata Israel yang dicurigai. Ini tergolong salah satu tindakan keras nasional terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
"Menteri Dalam Negeri Bassam Mawlawi memberi tahu kabinet bahwa pasukan keamanan, "Telah menangkap 17 jaringan mata-mata yang bekerja untuk Israel," kata penjabat Menteri Informasi Abbas Halabi setelah pertemuan itu, Senin (31/1).
Libanon dan tetangganya, Israel, secara resmi tetap dalam keadaan perang. Halabi mengatakan jaringan itu beroperasi baik lokal maupun regional, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Dia juga tidak merinci jumlah orang yang ditangkap sebagai bagian dari operasi yang dilakukan oleh Pasukan Keamanan Dalam Negeri (ISF) negara itu. Perdana Menteri Najib Mikati mengatakan penangkapan itu telah membantu menghentikan upaya untuk merusak keamanan dan menyabotase stabilitas negara, menurut pernyataan kabinet yang dibacakan oleh Halabi.
Ketua DPR Nabih Berri memuji operasi itu sebagai pencapaian unik. Al-Akhbar, surat kabar yang mendukung gerakan Hizbullah Libanon, melaporkan penangkapan itu pada Senin dan menyebutnya sebagai operasi terbesar terhadap tersangka agen Israel di negara itu selama 13 tahun.
Dikatakan bahwa unit intelijen ISF memulai tindakan keras empat minggu lalu dan sejauh ini telah menahan sekitar 20 orang, termasuk warga Libanon, Palestina, dan Suriah. Beberapa di antara mereka kemudian dibebaskan.
Laporan al-Akhbar mengklaim bahwa setidaknya 12 tersangka yang ditahan sadar bahwa mereka bekerja untuk Israel. Sisanya percaya bahwa mereka memberikan informasi untuk perusahaan global atau organisasi nirlaba.
Baca juga: UEA Cegat Rudal Pemberontak Yaman saat Kunjungan Presiden Israel
Israel dan gerakan Syiah Hizbullah terlibat perang 33 hari di Libanon pada 2006. Antara April 2009 dan 2014, pihak berwenang Libanon menahan lebih dari 100 orang yang dituduh menjadi mata-mata untuk Israel. Kebanyakan dari mereka ialah anggota militer atau karyawan telekomunikasi. Namun, tingkat penangkapan telah menurun dalam beberapa tahun terakhir. (AFP/OL-14)
DUA prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), UNIFIL, kembali gugur di Libanon.
WAKIL Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono mendesak pemerintah melakukan evaluasi termasuk opsi penarikan pasukan setelah seorang prajurit TNI anggota UNIFIL tewas di Libanon
SEORANG anggota misi penjaga perdamaian PBB UNIFIL tewas setelah sebuah proyektil meledak di salah satu pos mereka di dekat desa Adchit Al-Qusayr, Libanon selatan, pada Minggu (29/3).
Tiga jurnalis tewas akibat serangan udara Israel di Libanon Selatan, Sabtu (28/3). CPJ kecam keras tuduhan Israel yang menyebut jurnalis sebagai kombatan tanpa bukti sah.
Sekretaris Jenderal Hizbullah Naim Qassem menyampaikan bahwa kelompok itu akan melanjutkan apa yang dia gambarkan sebagai "pertempuran defensif" melawan Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu umumkan perluasan zona keamanan di Libanon Selatan hingga Sungai Litani. Langkah ini memicu kekhawatiran pendudukan jangka panjang.
Tidak hanya prajurit gugur, dua prajurit TNI lain atas nama Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto juga mengalami luka-luka.
Dewan Keamanan PBB harus segera mengambil langkah konkret dan tidak tinggal diam.
PAKAR militer Jaleswari Pramodhawardani mengatakan, gugurnya prajurit TNI dalam misi perdamaian UNIFIL tidak cukup hanya direspons dengan kecaman tetapi evaluasi total.
Pemerintah tidak bisa bersikap pasif dalam merespons insiden tersebut, mengingat pasukan penjaga perdamaian berada di bawah perlindungan hukum internasional.
Menurut Muzani, pemerintah harus mempertimbangkan menarik pasukan ketika tidak ada jaminan keselamatan di Libanon.
Jusuf Kalla (JK) sampaikan duka cita atas gugurnya prajurit TNI dalam misi UNIFIL Lebanon. Sebut mereka pahlawan kemanusiaan dan kebanggaan bangsa Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved