Rabu 19 Januari 2022, 08:24 WIB

AS Khawatir Hadirnya Pasukan Rusia di Belarus Bisa Perkenalkan Senjata Nuklir

Nur Aivanni | Internasional
AS Khawatir Hadirnya Pasukan Rusia di Belarus Bisa Perkenalkan Senjata Nuklir

AFP/Handout / MINISTRY OF DEFENCE REPUBLIC OF BELARUS
Pasukan Rusia saat tiba di Belarus untuk melakukan latihan militer gabungan.

 

AMERIKA Serikat (AS) khawatir kedatangan pasukan Rusia di Belarus untuk latihan dapat mengarah pada kehadiran permanen yang mungkin memperkenalkan senjata nuklir ke negara itu. Hal itu dikatakan seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri kepada wartawan, Selasa (18/1).

Pasukan militer Rusia bergerak ke Belarus setelah pemimpin sekutu Moskow Alexander Lukashenko, Senin (17/1), mengumumkan kedua negara akan melakukan latihan militer bulan depan.

Langkah itu, yang dilakukan tanpa pemberitahuan sebelumnya seperti yang biasanya diberikan kepada negara-negara di kawasan itu, menambah ketegangan dengan Barat atas kemungkinan invasi Rusia ke Ukraina, yang berbatasan dengan Belarus.

Baca juga: Sekjen NATO Undang Rusia Berdiskusi Lebih Jauh Soal Ukraina

Pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan jumlah pasukan Rusia yang tiba di Belarus melampaui apa yang mereka perkirakan dari latihan normal.

"Waktunya penting dan, tentu saja, menimbulkan kekhawatiran bahwa Rusia dapat bermaksud untuk menempatkan pasukan di Belarus dengan kedok latihan militer bersama untuk berpotensi menyerang Ukraina," kata pejabat itu.

Pejabat itu mengatakan perubahan konstitusi Belarus dalam referendum bulan depan dapat memungkinkan kehadiran militer Rusia menjadi permanen.

"Draf perubahan konstitusi ini mungkin mengindikasikan rencana Belarus untuk mengizinkan pasukan konvensional dan nuklir Rusia ditempatkan di wilayahnya," kata pejabat itu.

Itu, kata pejabat tersebut, akan menjadi tantangan bagi keamanan Eropa yang mungkin memerlukan tanggapan.

Belarus juga berbatasan dengan Polandia, anggota NATO.

Pejabat itu mengatakan jumlah pasukan yang dikerahkan di luar dari apa yang diperkirakan sehubungan dengan latihan normal.

Latihan normal, yang melibatkan misalnya 9.000 tentara, memerlukan pemberitahuan terlebih dahulu selama 42 hari. Jika lebih dari 13.000, itu membutuhkan pengamat internasional, kata pejabat itu.

"Seperti itulah yang terlihat normal. Ini adalah sesuatu yang sama sekali berbeda," katanya.

"Seiring waktu, Lukashenko semakin bergantung pada Rusia untuk semua jenis dukungan. Dan kami tahu bahwa dia tidak mendapatkan dukungan itu secara gratis," kata pejabat AS itu. (AFP/OL-1)

Baca Juga

AFP/Pusat Bantuan dan Bantuan Kemanusiaan Raja Salman.

Dokter Saudi Pisahkan Bayi Kembar Siam Laki-Laki dari Yaman

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 16 Mei 2022, 17:53 WIB
Lebih dari 150.000 orang telah tewas dalam kekerasan dan sistem kesehatan negara itu telah hancur. PBB menggambarkan kondisi itu sebagai...
AFP/Mohammed Huwais.

Pertama sejak 2016, Penerbangan Komersial Lepas Landas dari Yaman

👤Nur Aivanni 🕔Senin 16 Mei 2022, 17:37 WIB
Yaman, negara termiskin di dunia Arab, dilanda perang sejak koalisi turun tangan untuk mendukung pemerintah pada 2015, setahun setelah...
AFP/Sergei Supinsky.

Kebingungan Pendeta Gereja Ortodoks Tanggapi Invasi Rusia ke Ukraina

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 16 Mei 2022, 16:10 WIB
Saat gelombang pasukan Rusia menyeberang ke Ukraina, Kirill berbicara menentang kekuatan jahat yang menentang kesatuan bersejarah antara...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya