Senin 27 Desember 2021, 19:13 WIB

Saudi Tuduh Iran dan Hizbullah Bantu Serangan Pemberontak Yaman

Mediaindonesia.com | Internasional
Saudi Tuduh Iran dan Hizbullah Bantu Serangan Pemberontak Yaman

AFP/Fayez Nureldine.
Anggota Angkatan Udara Kerajaan Saudi Kolonel Turki al-Malki.

 

KOALISI yang dipimpin Arab Saudi pada Minggu (26/12) menuduh Iran dan Hizbullah membantu pemberontak Huthi Yaman untuk meluncurkan rudal dan pesawat tak berawak ke kerajaan. Serangan itu menewaskan dua orang.

Sejak koalisi melakukan intervensi hampir tujuh tahun lalu untuk mendukung pemerintah Yaman, Arab Saudi secara teratur menuduh Iran memasok senjata kepada Huthi dan Hizbullah melatih para pemberontak. Teheran membantah tuduhan itu. 

Gerakan militan Syiah Libanon yang didukung Iran, Hizbullah, sebelumnya membantah mengirim pejuang atau senjata ke Yaman. Tuduhan terbaru Saudi datang ketika koalisi mengintensifkan kampanye pengeboman udara terhadap Huthi yang didukung Iran sebagai pembalasan atas serangan mematikan terhadap kerajaan.

Juru bicara koalisi Turki al-Malki mengatakan pada konferensi pers bahwa Huthi memiliterisasi bandara Sanaa dan menggunakannya sebagai pusat utama untuk meluncurkan rudal balistik dan pesawat tak berawak ke arah kerajaan. Malki menunjukkan kepada wartawan suatu klip video yang katanya menggambarkan markas besar ahli Iran dan Hizbullah di bandara. Dia menuduh, "Hizbullah sedang melatih Huthi untuk menjebak dan menggunakan pesawat tak berawak."

Malki menunjukkan klip lain yang katanya menggambarkan seorang anggota Hizbullah menempatkan bahan peledak di pesawat tak berawak. Seorang pria yang ia identifikasi sebagai pejabat Hizbullah mengatakan kepada anggota Huthi, "Kita harus memperkuat barisan kita." Rekaman itu tidak dapat diverifikasi secara independen.

Koalisi militer Arab yang dipimpin oleh Riyadh melakukan intervensi di Yaman pada 2015 untuk mendukung pemerintah yang diakui secara internasional. Ini dilakukan setahun setelah Huthi menyerbu ibu kota Sanaa.

Sejak itu, puluhan ribu orang tewas yang digambarkan PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Huthi berasal dari sekte minoritas Syiah Zaidi Islam dan memiliki benteng tradisional mereka di pegunungan utara Yaman.

Antara 2004 dan 2010, mereka berperang enam kali melawan pemerintah Yaman saat itu dan memerangi Arab Saudi pada 2009-2010 setelah menyerbu perbatasan. Kematian dua orang pada Jumat malam akibat serangan rudal pemberontak di kota Saudi Jazan merupakan kematian pertama di kerajaan itu dalam tiga tahun.

Eskalasi 

Pada Minggu, Malki mengatakan, "Masyarakat internasional harus menghentikan tindakan bermusuhan oleh organisasi teroris ini." Ia mengacu kepada Hizbullah. Sejak Januari 2018, Huthi telah meluncurkan 430 rudal balistik dan 850 drone ke Arab Saudi, katanya.

Minggu malam, koalisi mengumumkan telah melakukan serangan baru di dekat akademi angkatan udara di Sanaa untuk mencegah senjata dipindahkan. Minggu pagi koalisi mengatakan telah menyerang kamp pemberontak Huthi di Sanaa dan menghancurkan gudang senjata.

Pada Sabtu, koalisi meluncurkan yang disebutnya operasi militer berskala besar terhadap Huthi setelah serangan rudal pemberontak yang menghantam Jazan. Serangan koalisi menewaskan tiga warga sipil, termasuk seorang anak dan seorang wanita, kata petugas medis Yaman kepada AFP.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia telah mengkritik koalisi atas korban sipil dalam pengeboman udara selama bertahun-tahun. Koalisi mempertahankan operasinya dilakukan sesuai dengan hukum humaniter internasional, berulang kali mendesak Huthi agar tidak menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia.

Malki juga menuduh duta besar Iran untuk Sanaa, yang meninggal karena covid-19 pekan lalu setelah evakuasi dari Yaman, memimpin perencanaan operasi militer di Marib, benteng terakhir pemerintah Yaman di utara. 

Serangan barbar

Kekuatan dunia dan sekutu Arab Teluk mengutuk serangan mematikan pemberontak di Arab Saudi. "Serangan Huthi melanggengkan konflik, memperpanjang penderitaan rakyat Yaman, dan membahayakan rakyat Saudi bersama lebih dari 70.000 warga AS yang tinggal di Arab Saudi," kata kedutaan besar Washington untuk Riyadh dalam suatu pernyataan.

Ludovic Pouille, duta besar Prancis untuk Riyadh, di Twitter menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dalam serangan barbar Huthi. Koalisi telah mengintensifkan serangan udara di Sanaa, termasuk pekan lalu pada yang disebutnya target militer di bandara. Akibatnya, penerbangan bantuan PBB terganggu.

Baca juga: Koalisi Saudi Luncurkan Operasi Besar Yaman setelah Serangan Maut

Para pemberontak sering meluncurkan rudal dan pesawat tak berawak ke Arab Saudi yang ditujukan ke bandara dan infrastruktur minyaknya. Program Pangan Dunia PBB mengatakan telah dipaksa untuk memotong bantuan ke Yaman karena kekurangan dana dan memperingatkan lonjakan kelaparan. (AFP/OL-14)

Baca Juga

Matt Dunham / POOL / AFP

Ukraina Deklarasikan Invasi Rusia sebagai Genosida

👤Cahya Mulyana 🕔Jumat 27 Mei 2022, 13:25 WIB
Zelenskyy mengutuk serangan brutal Moskow di Donbas. Ia menambahkan bahwa pengeboman Rusia dapat membuat seluruh wilayah itu tidak...
Fabrice COFFRINI / AFP

Jerman Yakin Rusia akan Kalah

👤Cahya Mulyana 🕔Jumat 27 Mei 2022, 12:42 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan memenangkan perang di Ukraina, kata Kanselir Jerman Olaf...
KCNA VIA KNS / AFP

Tiongkok dan Rusia Gagalkan Sanksi AS untuk Korut

👤Cahya Mulyana 🕔Jumat 27 Mei 2022, 12:33 WIB
Tiongkok dan Rusia menggunakan hak veto untuk menolak resolusi baru yang diinisiasi Amerika Serikat (AS) untuk menekan pengembangan senjata...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya