Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
IRAN yakin telah berhasil dalam pembicaraan Wina yang dimaksudkan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 yang berantakan. Republik Islam itu memasukkan keringanan sanksi dalam dokumen diskusi untuk putaran berikutnya.
Pencabutan sanksi hukuman yang dijatuhkan oleh Presiden AS Donald Trump saat dia menarik Washington keluar dari perjanjian pada 2018 telah menjadi prioritas utama Teheran. Kekuatan-kekuatan Eropa telah menyuarakan rasa frustrasi atas kurangnya kemajuan sejauh ini dalam pembicaraan di Wina. Para diplomat mereka peringatkan pada Jumat bahwa pembicaraan akan mencapai ujung jalan.
Namun dari perspektif Teheran, ada kemajuan, kata pejabat Iran dan analis politik dari Republik Islam dan luar negeri. "Para pihak telah menyetujui dua teks baru, hasil dari diskusi intens dalam beberapa hari terakhir di Wina," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh, Senin (21/12). "Ini merupakan dokumen bahwa posisi Iran telah diperhitungkan dan atas dasar itu kita dapat melanjutkan diskusi di masa depan."
Bernard Hourcade, seorang ahli Prancis di Iran, mengatakan Teheran telah berhasil dalam sesi ini dalam meyakinkan lawan bicara mereka bahwa sanksi harus diselesaikan sebagai prioritas. "Soalnya, ini akan membuka jalan bagi penyelesaian teknis komponen nuklir."
Dia mengatakan Iran secara teratur menekankan bahwa mereka selalu menghormati kesepakatan awal pada 2015 yang disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). "Terserah Amerika Serikat yang telah menjatuhkan kehormatannya, untuk memperbaiki kerusakan itu."
Baca juga: Peretas terkait Iran Serang Pemerintahan dan Bisnis Israel
Iran, Hourcade menambahkan, mengetahui keseimbangan kekuatan merupakan keuntungannya. Iran mampu dalam jangka pendek, seperti sekitar 30 negara lain di dunia, untuk memproduksi bom atom jika diinginkan. "Iran bisa memperkaya uranium kapan pun dia mau." (AFP/OL-14)
Presiden Donald Trump mengancam akan mengerahkan kekuatan militer besar jika negosiasi nuklir dengan Iran gagal. AS kirim kapal induk ke Timur Tengah.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memperingatkan Iran soal konsekuensi sangat traumatis jika gagal mencapai kesepakatan nuklir.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tak akan tunduk pada tuntutan berlebihan AS terkait program nuklir, di tengah negosiasi dan meningkatnya ketegangan kawasan.
Iran peringati 47 tahun Revolusi Islam 1979. Presiden Pezeshkian tegaskan menolak agresi AS, namun tetap siap dialog dan verifikasi program nuklir damai.
Presiden Donald Trump menyatakan Iran ingin membuat kesepakatan nuklir baru. Ia memperingatkan Teheran akan "bodoh" jika menolak tawaran tersebut.
AS dinilai tidak lagi memiliki kapasitas sebagai mediator yang kredibel dalam forum Board of Peace (BoP) karena dianggap terlalu berpihak pada kepentingan Israel.
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, dan mulai berlaku pada 5 Februari 2011.
INDONESIA mendesak Amerika Serikat (AS) dan Rusia segera melanjutkan perundingan untuk mencegah perlombaan senjata nuklir baru.
Pemerintah Tiongkok menyatakan penyesalan atas berakhirnya Perjanjian New START antara AS dan Rusia. Beijing mendesak Washington melanjutkan dialog dengan Moskow.
Ia berkata, "kita menghadapi dunia tanpa batasan yang mengikat terkait persenjataan nuklir strategis antara Federasi Rusia dan Amerika Serikat."
TIONGKOK menolak usulan Presiden Donald Trump untuk perundingan pengendalian senjata nuklir sebagai tidak masuk akal. Apa alasannya?
PERLOMBAAN nuklir baru dimulai. Kini AS harus bersiap menghadapi dua pesaing sekaligus di saat kehilangan keunggulan industri dan ekonominya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved