Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Puluhan Pengungsi Tewas Dibom

Haufan Hasyim Salengke
07/5/2016 05:15
Puluhan Pengungsi Tewas Dibom
(AFP / KHALIL MAZRAAWI)

SEBUAH serangan udara menghantam kamp padat pengungsi di barat laut Suriah, Kamis (5/5) waktu setempat.

Insiden yang terjadi dekat perbatasan dengan Turki itu menewaskan sedikitnya 28 orang dan melukai puluhan lainnya.

Serangan itu membuat prospek perundingan damai Suriah kian suram dan berpotensi mencederai kesepakatan gencatan senjata.

Beberapa gambar yang diunggah di media sosial menunjukkan setidaknya puluhan tenda di kamp di Sarmada, Provinsi Idlib, tempat pengungsi korban perang bernaung, terbakar habis.

Para perempuan dan anak-anak dalam kondisi berdarah dievakuasi ke truk untuk mendapatkan perawatan.

Lembaga pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan, ke-28 korban yang tewas termasuk perempuan dan anak-anak.

Komite Koordinasi Lokal (LCC) menyebut lebih dari 30 orang terbunuh dalam serangan itu dan berpotensi meningkat.

Kamp di Sarmada, di wilayah yang dikuasai pemberontak di barat laut Provinsi Idlib, ialah rumah bagi sekitar 2.000 orang pengungsi yang melarikan diri dari pertempuran di sekitar wilayah Aleppo dan Hama selama tahun lalu.

Mamun al-Khatib, direktur kantor berita propemberontak Shahba Press yang berbasis di Aleppo, mengatakan pesawat milik rezim pemerintah menembakkan rudal di kamp di Desa Al-Kammouna tersebut.

"Dua rudal jatuh di dekat kamp menyebabkan orang panik dan dua lagi jatuh di kamp, tempat selusin tenda terbakar," kata Al-Khatib.

Amerika Serikat mengutuk serangan udara itu dan menyebutnya 'tidak dapat dimaafkan'.

Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, mengatakan tidak ada alasan yang dibenarkan untuk menargetkan warga sipil tak berdosa, yang meninggalkan rumah untuk mengungsi dari kekerasan.

Namun, Earnest mengatakan terlalu dini untuk menuding apakah pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang melakukan serangan itu.

Satu hal yang pasti, kata dia, tidak ada pesawat AS atau milik koalisi yang beroperasi di wilayah tersebut saat serangan terjadi.

Uni Eropa pun turut mengecam serangan yang disebut 'tidak dapat diterima', sementara pejabat tinggi urusan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menuntut penyelidikan segera.

"Jika serangan tidak senonoh ini terbukti sengaja menyasar kepentingan atau struktur sipil, tindakan ini bisa dianggap sebagai kejahatan perang," kata Stephen O'Brien, Wakil Sekretaris Jenderal untuk Urusan Kemanusiaan PBB.

"Semua pihak yang terlibat konflik mengerikan ini harus memahami bahwa mereka suatu hari akan bertanggung jawab atas pelanggaran hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional," timpalnya, seperti dilansir Aljazeera.


Gencatan senjata

Terkait rencana perundingan damai, AS mengatakan kesepakatan gencatan senjata di Kota Aleppo bisa berakhir dalam beberapa hari mendatang.

Gedung Putih memahami kondisi gencatan senjata temporer yang efektif berlaku pada Rabu (4/5) dan disepakati selama 48 jam itu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Mark Toner, menyatakan Washington tengah berusaha untuk memperpanjang kesepakatan gencatan senjata.

Pejabat Rusia dan Suriah telah mengatakan gencatan senjata dimulai Kamis, artinya akan berakhir pada Sabtu (7/5).

Provinsi Idlib bukan termasuk bagian dari kesepakatan gencatan senjata parsial yang diumumkan setelah terjadinya kesepakatan antara Washington dan Moskow. (AFP/AP/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya