Jumat 18 Juni 2021, 22:26 WIB

Rakyat Iran antara Ragu dan Yakin saat Pemilihan Presiden

Mediaindonesia.com | Internasional
Rakyat Iran antara Ragu dan Yakin saat Pemilihan Presiden

AFP/Ahmad Al-Rubaye.
Wanita Iran memberikan suara dalam pemilihan presiden di TPS Kedubes Iran di Baghdad, Irak, Jumat (18/6).

 

RAKYAT Iran memberikan suara pada Jumat (18/6) dalam pemilihan presiden. Ulama ultrakonservatif Ebrahim Raisi dipandang pasti akan meraih kemenangan setelah semua saingan serius dilarang mencalonkan diri.

Setelah kampanye yang lesu, jumlah pemilih diperkirakan akan turun ke titik terendah baru di negara yang kelelahan oleh sanksi ekonomi AS. Sanksi AS menghancurkan harapan banyak orang Iran untuk masa depan yang lebih cerah.

Pemimpin tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, memberikan suara pertama di Teheran dan kemudian mendesak hampir 60 juta pemilih Iran yang memenuhi syarat untuk mengikutinya sebelum penutupan pemungutan suara yang dijadwalkan pada tengah malam. "Semakin cepat Anda melakukan tugas dan kewajiban ini, semakin baik," kata pria berusia 81 tahun itu. Katanya, pemungutan suara berfungsi membangun masa depan rakyat Iran.

 

Gambar-gambar pemilih yang mengibarkan bendera mendominasi liputan TV pemerintah. Namun beberapa menyuarakan kemarahan atas yang mereka lihat sebagai pemilihan yang telah diatur.

"Apakah saya memilih atau tidak, seseorang telah terpilih," ejek pemilik toko Teheran Saeed Zareie tentang pemeriksaan prapemilihan yang melarang semua kecuali tujuh dari lebih dari 600 calon presiden. "Mereka mengatur pemilihan untuk media."

Antusiasme semakin diredam oleh kelesuan ekonomi akibat inflasi yang melonjak dan kehilangan pekerjaan serta diperparah oleh pandemi covid. "Saya bukan politikus. Saya tidak tahu apa-apa tentang politik," kata mekanik mobil Teheran Nasrollah.

 

"Saya tidak punya uang. Semua keluarga sekarang menghadapi masalah ekonomi. Bagaimana kami bisa memilih orang-orang yang melakukan ini pada kami? Itu tidak benar."

Kelompok oposisi Iran di luar negeri dan beberapa pembangkang di dalam negeri telah mendesak boikot pemungutan suara yang mereka lihat sebagai kemenangan rekayasa untuk Raisi, kepala peradilan berusia 60 tahun, untuk memperkuat kontrol ultrakonservatif.

Tetapi banyak yang mengantre untuk memberikan suara di sekolah, masjid, dan pusat komunitas. Beberapa membawa bendera nasional Iran berwarna hijau, putih dan merah.

Seorang ibu konservatif mengenakan cadar hitam seluruh tubuh datang dengan dua putranya yang masih kecil mengenakan seragam kamuflase Korps Pengawal Revolusi Islam. Banyak yang mengatakan mereka mendukung Raisi yang telah menjanjikan gerakan antikorupsi dan membangun jutaan rumah susun untuk keluarga berpenghasilan rendah.

 

Seorang perawat bernama Sahebiyan mengatakan dia mendukung Raisi untuk perjuangannya melawan korupsi dan dengan harapan dia akan memajukan negara dan menyelamatkan orang-orang dari deprivasi ekonomi, budaya, dan sosial. (AFP/OL-14)

Baca Juga

AFP/Saeed KHAN

Tentara Berpatroli di Sydney, Brisbane Perpanjang Lockdown

👤Nur Aivanni 🕔Senin 02 Agustus 2021, 09:38 WIB
Sydney memasuki minggu keenam penguncian ketika kota terbesar di Australia itu berjuang dengan lonjakan infeksi yang menambahkan hampir...
AFP

AS-Inggris Tuduh Iran Lakukan Serangan terhadap Kapal Tanker Israel

👤Nur Aivanni 🕔Senin 02 Agustus 2021, 07:32 WIB
Pernyataan AS dan Inggris itu muncul setelah Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mengatakan ada bukti yang menghubungkan Iran dengan...
AFP

Militer Myanmar Janjikan Pemilu dan Siap Kerja Sama dengan ASEAN

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 22:59 WIB
Tanpa utusan yang memimpin, katanya, sangat sulit untuk mengatasi situasi di...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Pembangunan Berkelanjutan demi Keselamatan Bersama

 Sektor keuangan memiliki peran besar dalam mengarahkan perubahan menuju penerapan green economy

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya