Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
Akar Sejarah dan Ideologi: Mengapa Ayatollah Ali Khamenei Sangat Anti-Amerika Serikat?
Bagi dunia Barat, slogan "Mati bagi Amerika" mungkin terdengar seperti retorika politik belaka. Namun, bagi Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, sikap anti-Amerika Serikat (AS) adalah pilar eksistensial yang menyatukan identitas Republik Islam.
Permusuhan ini bukan sekadar perselisihan diplomatik, melainkan akumulasi dari trauma sejarah, benturan ideologi, dan strategi pertahanan kedaulatan yang telah berlangsung selama tujuh dekade. Perlu dicatat bahwa klaim bahwa AS secara langsung mencoba menghancurkan Iran sepanjang tujuh dekade adalah narasi ideologis dari perspektif retorika politik Iran; hubungan Iran-AS memang penuh ketegangan, tetapi tidak selalu berupa upaya penghancuran total oleh satu pihak.
Salah satu poin yang selalu ditekankan Khamenei dalam pidatonya adalah Kudeta 1953, yang dikenal dengan nama Operation Ajax. Pada tahun tersebut, CIA (Amerika) dan MI6 (Inggris) menggulingkan Perdana Menteri Iran yang terpilih secara demokratis, Mohammad Mosaddegh, hanya karena ia menasionalisasi industri minyak Iran.
Bagi Khamenei, peristiwa ini adalah bukti abadi bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah membiarkan Iran menjadi negara independen yang berdaulat. AS kemudian mengembalikan kekuasaan absolut kepada Shah Mohammad Reza Pahlavi, yang memerintah dengan tangan besi selama 25 tahun sebagai "boneka" Washington. Trauma inilah yang membentuk keyakinan Khamenei bahwa AS adalah kekuatan imperialis yang tidak bisa dipercaya.
Revolusi Islam 1979 bukan hanya tentang mengganti monarki dengan teokrasi, tetapi juga tentang "pembersihan" pengaruh asing. Ayatollah Khomeini, pendahulu Khamenei, melabeli AS sebagai "Setan Besar" (The Great Satan). Label ini diadopsi sepenuhnya oleh Khamenei.
Istilah ini merujuk pada pandangan bahwa AS adalah sumber godaan moral dan penindas politik global. Pengusiran diplomat AS dalam krisis sandera 1979 dianggap sebagai "Revolusi Kedua" yang memutus rantai ketergantungan Iran terhadap hegemoni Barat.
Selama delapan tahun perang berdarah melawan Irak, Khamenei melihat langsung bagaimana Amerika Serikat memberikan dukungan intelijen dan ekonomi kepada Saddam Hussein. Bahkan, saat Irak menggunakan senjata kimia terhadap tentara Iran, dunia Barat cenderung menutup mata.
Pengalaman ini memperkuat doktrin "Kemandirian" (Self-Sufficiency) dalam pemikiran Khamenei. Ia berkesimpulan bahwa dalam sistem internasional, Iran hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri, dan dari perspektif ideologisnya, AS dipandang sebagai pihak yang berpotensi mengancam Republik Islam, meskipun klaim kehancuran total ini lebih merupakan interpretasi politik daripada fakta objektif.
Khamenei sering menyebut AS sebagai "pembohong dan penipu". Kegagalan kesepakatan nuklir (JCPOA) setelah AS menarik diri secara sepihak di bawah pemerintahan Donald Trump menjadi bukti bagi Khamenei bahwa negosiasi dengan Washington adalah kesia-siaan yang hanya melemahkan posisi Iran.
Khamenei sangat mewaspadai penetrasi budaya Barat melalui film, musik, dan internet. Ia menyebutnya sebagai Jang-e Narm atau Perang Lunak. Baginya, ini adalah upaya AS untuk mengubah nilai-nilai Islam masyarakat Iran dari dalam, sebuah ancaman yang ia anggap lebih berbahaya daripada serangan militer fisik.
Dukungan tanpa syarat AS terhadap Israel—yang disebut Iran sebagai "Setan Kecil" atau rezim Zionis—adalah titik mati bagi Khamenei. Ia memandang AS sebagai sponsor utama penindasan terhadap bangsa Palestina, yang menjadikan permusuhan terhadap AS sebagai kewajiban moral bagi seluruh umat Islam.
Secara geopolitik, Khamenei membangun "Poros Perlawanan" (Axis of Resistance) di Timur Tengah. Strategi ini dirancang untuk mengusir pasukan AS dari kawasan tersebut. Dengan memperkuat pengaruh di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman, Khamenei menciptakan benteng pertahanan untuk mencegah AS melakukan intervensi langsung di tanah Iran.
Bagi Ayatollah Ali Khamenei, anti-Amerika bukan sekadar kebijakan luar negeri, melainkan identitas revolusioner. Menyerah atau berdamai dengan AS dianggap sama saja dengan mengkhianati prinsip dasar Revolusi 1979. Selama struktur kekuasaan di Teheran masih berpegang pada warisan ideologi ini, normalisasi hubungan Iran-AS akan tetap menjadi hal yang mustahil dalam waktu dekat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved