Kamis 10 Juni 2021, 15:27 WIB

Pilpres Iran di Mata Rakyatnya yang Terlilit Krisis Ekonomi

Mediaindonesia.com | Internasional
Pilpres Iran di Mata Rakyatnya yang Terlilit Krisis Ekonomi

AFP/Atta Kenare.
Musisi jalanan tampil di Grand Bazaar di ibu kota Iran, Teheran, Rabu (9/6).

 

KETIKA rakyat Iran memilih presiden baru pada minggu depan, mereka akan melakukan hal itu di tengah krisis ekonomi. Krisis itu disebabkan oleh sanksi yang melumpuhkan oleh Amerika Serikat dan diperburuk oleh pandemi.

Setelah bertahun-tahun dalam isolasi internasional, 83 juta orang Iran menderita karena pekerjaan yang langka, harga yang meningkat, dan harapan untuk masa depan yang lebih cerah semakin menipis bagi banyak orang.

"Kami tidak membuat rencana apa pun. Kami hanya hidup dari hari ke hari," kata Mahnaz, seorang pramuniaga berusia 30 tahun di toko produk kecantikan di Teheran, menyimpulkan suasana murungnya.

Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengakui bulan lalu bahwa masalah utama rakyat yaitu pengangguran kaum muda dan kesulitan dari kelas yang kurang mampu.

Seorang kandidat ultrakonservatif, kepala peradilan Ebrahim Raisi, terlihat kemungkinan akan memenangkan pemilihan 18 Juni. Ini berarti kemunduran lain untuk kubu moderat dan reformis yang telah lama berharap terlibat kembali yang lebih besar.

"Rakyat menghadapi krisis ekonomi makro paling serius yang pernah dialami Iran sejak revolusi 1979," kata Thierry Coville dari Institut Hubungan Internasional dan Strategis di Paris.

Iran terperosok dalam krisis sosial yang mendalam dan runtuhnya daya beli sebagian besar penduduk. Ia memperkirakan bahwa pengangguran telah meledak hingga 20% dari angkatan kerja.

Mata uang rial telah runtuh dan harga telah melonjak di tengah inflasi yang diproyeksikan IMF sebesar 39% untuk tahun ini.

Banyak keluarga berjuang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Di jalan-jalan Teheran semua pembicaraan tentang meroketnya harga, terutama daging, telur, dan susu.

 

Di tokonya yang menjual syal di bazaar besar Teheran, Fakhreddine, 80, mengatakan keadaannya sangat buruk sekarang sehingga dia hampir merindukan era perang Iran-Irak 1980-1988, karena saat itu setidaknya, "Kami punya pekerjaan." (AFP/OL-14)

Baca Juga

AFP/STR

Tiga Astronaut Tiongkok Tiba di Stasiun Luar Angkasa Tiangong

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 11:16 WIB
Ketiga astronaut itu akan menjalani misi selama 90 hari di stasiun luar angkasa...
AFP/EVARISTO SA

Keputusan Bolsonaro Memveto Pembalut Gratis Tuai Kecaman

👤Basuki Eka Purnama 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 11:15 WIB
Jutaan perempuan miskin di Brasil tidak memiliki akses untuk mendapatkan produk kebersihan perempuan saat sedang...
AFP/Joe Raedle/Getty Images

AS Buka Pintu untuk Pelancong yang Telah Divaksin Mulai 8 November

👤Basuki Eka Purnama 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 11:00 WIB
Sebelumnya, dalam upaya mencegah penyebaran covid-19, AS menutup perbatasan mereka pada Maret 2020 untuk pelancong dari mayoritas wilayah...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Risma Marah dan Gaya Kepemimpinan Lokal

ika melihat cara Risma marah di Gorontalo, hal itu tidak terlalu pas dengan norma, etika, dan kebiasaan di masyarakat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya