Kamis 10 Juni 2021, 11:39 WIB

Khawatir Ditangkap, Demonstran Terluka Tak Berani ke Rumah Sakit

Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
Khawatir Ditangkap, Demonstran Terluka Tak Berani ke Rumah Sakit

STR / AFP
Para demonstran membawa rekan mereka yang ditembak aparat keamanan saat berunjuk rasa di Yangon, Myanmar, beberapa waktu lalu.

 

PARA pengunjuk rasa yang tertembak selama demonstrasi menentang rezim militer Myanmar, memilih tidak merawat luka-luka mereka karena takut ditangkap jika berkunjung ke rumah sakit yang dikelola junta dan berupaya mencari dokter yang simpatik untuk menngoperasi mereka secara diam-diam.

Pasukan keamanan telah menembaki warga yang menggelar protes dengan senapan sniper, senapan mesin dan mortir dalam beberapa bulan sejak kudeta Februari yang menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi.

Lebih dari 800 orang tewas dan ribuan lainnya terluka dalam tindakan keras terhadap oposisi rezim militer, menurut kelompok hak asasi manusia.

Maung Win Myo, yang namanya disamarkan demi alasan keamanan, sebelumnya bekerja sebagai sopir becak, mengangkut orang-orang di sekitar Yangon yang ramai.

Tetapi pria berusia 24 tahun itu tidak bekerja sejak Maret, karena kakinya ditembak saat berada di garis depan protes anti-junta.

"Saya bahkan tidak bisa tidur nyenyak di malam hari," katanya , sambil meringis di atas kasur di lantai apartemen satu kamar yang dia tempati bersama istri dan dua anaknya.

Dia membutuhkan biayanya sekitar US$950 untuk membayar operasi kedua di rumah sakit swasta guna memasang baja di tulangnya yang patah, tetapi dia harus terus menderita untuk saat ini.

"Saya tidak punya uang karena saya tidak bisa bekerja," katanya, menambahkan bahwa dia mengandalkan sumbangan dari tetangga untuk memberi makan keluarganya.

Satu kunjungan mahal ke klinik swasta telah membuat Maung Win Myo kehabisan uang.

"Kami tidak berani ke rumah sakit militer, makanya kami pergi ke rumah sakit swasta, meskipun kami tidak punya uang," kata istrinya.

Banyak orang lain dengan luka serius takut untuk mencari pengobatan gratis di rumah sakit militer, karena takut luka mereka akan menunjukkan keterlibatan mereka dalam protes anti-kudeta.

"Tidak semua orang mau pergi," kata Kepala Misi Medecins Sans Frontieres (MSF) di Myanmar, Marjan Besuijen. "Mereka takut ditangkap," tambahnya.

Dalam sebuah laporan bulan lalu, MSF juga mengatakan mitranya di Myanmar telah menyaksikan serangan junta terhadap organisasi-organisasi yang memberikan pertolongan pertama kepada pengunjuk rasa yang terluka, dan melihat persediaan mereka dihancurkan.

Tidak tahu bagaimana bertahan hidup

Rumah sakit militer biasanya tidak terbuka untuk umum tetapi junta telah memperluas operasi mereka setelah banyak dokter keluar dari pekerjaannya pasca kudeta.

Pemogokan, yang juga diikuti oleh sejumlah besar pegawai negeri dan pegawai pemerintah lainnya, telah memaksa penutupan hampir semua rumah sakit umum di negara itu. Ini juga melumpuhkan ekonomi dan memberi tekanan besar pada sistem perbankan.

Mereka yang beruntung masih memiliki pekerjaan dan tabungan menghadapi antrian sepanjang hari di ATM untuk menarik maksimum US$120 per minggu, membuat banyak orang berjuang untuk membayar makanan dan sewa, apalagi operasi.

Suami Ngwe Nu Nu ditembak di matanya oleh pasukan keamanan dalam perjalanannya untuk bekerja di broker beras di pusat kota Myingyan pada akhir April.

Sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga, ia dibawa ke Mandalay untuk berobat, tetapi meninggal di rumah sakit beberapa hari kemudian, meninggalkan Ngwe Nu Nu sendirian dan berhutang atas pengobatan suaminya.

"Saya mencoba yang terbaik untuk menyelamatkan hidupnya," kata Ngwe Nu Nu. "Sekarang saya tidak tahu bagaimana bertahan hidup tanpa dia,” imbuhnya.

Saat kudeta memasuki bulan kelima , dan dengan pejabat bea cukai di antara mereka yang mogok, pengadaan obat-obatan juga semakin sulit.

“Selama sebulan terakhir kami mengalami kesulitan dalam mendapatkan beberapa bahan medis untuk operasi, karena stok habis,” kata seorang dokter yang merawat pengunjuk rasa yang terluka di Mandalay.

"Jika ini berlangsung lebih lama, itu akan berdampak lebih serius pada pasien," kata dokter yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Sampai pertempuran berakhir

Ibu tiga anak May Win, 50, juga tidak bisa bekerja setelah tangannya tertembak dua bulan lalu saat memprotes junta di Mandalay.

Dokter yang simpatik memasukkan baja ke ibu jarinya yang patah secara gratis, tetapi lebih dari sebulan kemudian, cederanya belum sepenuhnya sembuh.

Tetapi dia juga berjanji untuk kembali melakukan protes ketika tangannya sudah sembuh total.

"Saya akan keluar lagi untuk berjuang karena kita harus berjuang untuk generasi berikutnya dan untuk negara kita sampai pertempuran ini berakhir," katanya. (Aiw/France24/Ol-09)

Baca Juga

Ist/globalhealth

WHO Ingatkan Penggunaan Masker Kain Tidak Mampu Cegah Omikron

👤Atalya Puspa 🕔Jumat 21 Januari 2022, 16:41 WIB
Direktur WHO untuk Kesehatan Global Lawrence Gostin mengatakan untuk melindungi dari varian delta pun masker kain hanya memiliki...
Kenzo TRIBOUILLARD / AFP

Tiongkok Kecam Parlemen Prancis Sebut Beijing Lakukan Genosida Uighur

👤Nur Aivanni 🕔Jumat 21 Januari 2022, 16:26 WIB
Barat menyebut kekerasan yang dilakukan oleh Tiongkok terhadap warga muslim Uighur sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan...
Prakash SINGH / AFP

Kasus Covid Turun, New Delhi akan Cabut Penerapan Jam Malam

👤Nur Aivanni 🕔Jumat 21 Januari 2022, 15:06 WIB
Jumlah kasus baru di Delhi telah berkurang lebih dari setengahnya dari puncak 28.867 pada 13 Januari...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya