Jumat 15 Januari 2021, 06:46 WIB

Brasil Kekurangan Pasokan Oksigen dan Tenaga Kesehatan

Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
Brasil Kekurangan Pasokan Oksigen dan Tenaga Kesehatan

Michael DANTAS
Petugas kesehatan sedag membawa pasien terpapar covid-19 di Vinte Oito de Agosto Public Hospital, Brasil, Kamis (14/1/2021).

 

PETUGAS kesehatan di negara bagian terbesar Brasil, Amazonas dan Manaus, meminta bantuan dan pasokan oksigen akibat ledakan infeksi dan kematian covid-19. Dalam konferensi pers pada Kamis (14/1), Gubernur Negara Bagian, Wilson Lima, mengakui situasi pandemi kini lebih kritis. Dia pun segera mengumumkan aturan pembatasan mulai pukul 7 malam hingga 6 pagi untuk memperlambat penyebaran virus.

"Kita menghadapi saat paling kritis dari pandemi, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di negara bagian Amazonas," kata Lima kepada wartawan saat mengumumkan pembatasan tersebut.

Dia mengungkapkan fakta mengerikan akibat gangguan dalam sistem kesehatan publik Manaus. Dilaporkan banyak pasien meninggal setelah rumah sakit umum dan unit perawatan darurat kehabisan oksigen. Lebih dari 206.000 orang meninggal akibat covid-19 di seluruh Brasil, jumlah tertinggi kedua di dunia setelah AS.

"Ini adalah bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata ahli epidemiologi lokal dari pusat penelitian kesehatan masyarakat Fiocruz, Jesem Orellana.

"Dalam beberapa jam mendatang Manaus akan menjadi protagonis dari salah satu bagian paling menyedihkan dari epidemi covid-19 di dunia. Tidak ada oksigen," imbuhnya

Sebelumnya, Orellana telah menyerukan agar diberlakukan lockdown lokal sejak September.

"Kolega kami, perawat, dokter, dan bahkan pekerja sosial, dipanggil untuk melakukan ventilasi manual pada orang. Seorang manusia hanya mampu melakukan ventilasi manual selama sekitar 20 menit, jadi jika Anda ingin menyelamatkan satu nyawa tanpa oksigen, Anda akan membutuhkan setidaknya tiga atau empat orang per pasien," jelasnya.

Direktur salah satu rumah sakit umum di Manaus mengirimkan pesan WhatsApp kepada petugas kesehatan untuk meminta bantuan mereka.

"Rumah sakit Getúlio Vargas tidak memiliki oksigen dan semua pasien sedang ambuzado (ventilasi manual). Jika ada yang bisa membantu merotasi ventilasi pasien di ICU di lantai lima, tolong, kami membutuhkan Anda," ujarnya,

“Ini situasi kritis. Ayo berjuang. Jika Anda dapat membantu, tolong lakukan," imbuhnya.

Petugas kesehatan lain di rumah sakit yang sama mengatakan bahwa karyawan Guardian terlalu sibuk mencoba menyelamatkan nyawa untuk menghitung korban tewas.

"Manaus kacau. Kami tidak memiliki oksigen," kata petugas rumah sakit.

Pejabat Kesehatan setempat Tatiana Amorim mengatakan nilai rasio covid-19 di negara bagian Amazonas sekarang 1,3.

“Ini berarti untuk setiap 100 orang 130 terinfeksi setiap tujuh hari. Kecepatan ini terlihat pada bulan April dan Mei (pada puncak gelombang pertama). Artinya, kita benar-benar mengalami tsunami (infeksi) lagi," ujar Amorim.

Amorim mengatakan, ada tiga kemungkinan penyebab lonjakan infeksi yang tiba-tiba yakni pelonggaran pembatasan, peningkatan penularan selama Natal dan perayaan akhir tahun, dan kemungkinan varian virus korona baru beredar di Amazonas.

Lima, seorang presenter televisi berusia 44 tahun yang bersekutu dengan presiden sayap kanan Brasil Jair Bolsonaro, mengklaim bahwa pemerintah federal telah dimobilisasi agar dapat mengatasi situasi ini secepat mungkin.

"Kami sedang berperang," katanya, mengumumkan bahwa pasien virus korona akan dievakuasi ke negara bagian lain untuk perawatan.

Spesialis penyakit menular telah berbulan-bulan mendesak pihak berwenang untuk memberlakukan semacam lockdown untuk menghindari situasi seperti ini. Petisi terakhir mereka, pada 4 Januari, memperingatkan bahwa Manaus kembali terjun ke dalam kekacauan.

"Kita perlu menyelamatkan nyawa dan tidak mengulangi tragedi kesehatan dan kemanusiaan tahun 2020 pada tahun 2021,” serunya.

Otoritas negara hanya mengambil tindakan pada 26 Desember 2020, memerintahkan toko-toko untuk tutup selama 15 hari, sebelum mundur dari tindakan tersebut setelah protes jalanan dari para pebisnis dan pekerja lokal.

"Politik membunuh," kata petugas kesehatan rumah sakit Getúlio Vargas pada Kamis.

Orellana mengatakan, jumlah penguburan korban covid-19 meyakinkan bahwa kota sedang menghadapi saat paling gelap.

“Kemarin, kami memecahkan rekor baru untuk hari keempat berturut-turut dengan total 198 penguburan. Pada hari Sabtu ada 130 penguburan. Hari Minggu 144. Hari Senin 150. Hari Selasa 166," ujarnya.

Sementara itu, dalam waktu normal, jumlah kematian rata-rata hanya sekitar 30 orang.

"Ini adalah bencana, dan waktu mendatang akan menjadi yang terburuk yang dapat Anda bayangkan," tandasnya. (The Guardian/OL-3)
 

Baca Juga

MONEY SHARMA/AFP

Aksi Protes terhadap Reformasi Pertanian di India Berujung Bentrok

👤Nur Aivanni 🕔Rabu 27 Januari 2021, 00:12 WIB
Ribuan petani menerobos barikade polisi untuk melakukan aksi protes terhadap reformasi pertanian ke jantung ibu kota...
AFP/Mladen ANTONOV

Parlemen Thailand Dukung Aborsi

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 26 Januari 2021, 23:35 WIB
Namun, parlemen tetap mempertahankan pasal yang akan menghukum pelaku aborsi untuk kehamilan di atas 12...
AFP

Brunei Darussalam Dorong Kerja Sama Maritim

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 26 Januari 2021, 23:30 WIB
Anggota Vasey di Forum Pasifik Asyura Salleh mengharapkan Brunei Darussalam mendorong kerja sama maritim sebagai prioritas untuk...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya